Mr. Bryan

Mr. Bryan
Kostum Badut Part III



"Benarkah?" tanya Diana


.


.


.


"Benar nona" jawab Rendy


"Oh, kemari mas duduklah di sini" ucap Diana sambil menepuk kursi di meja rias


"Iya"


Bryan melangkah ke arah meja rias lalu duduk di kursi dan Diana mulai mengoleskan face paint pada wajah Bryan.


Diana sangat fokus pada pekerjaannya, Bryan yang melihat wajah istrinya yang sangat fokus tersenyum senang.


Tidak apa jika dia harus sedikit berkorban asalkan keluarganya bahagia, Rendy mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar sepasang suami istri yang sangat serasi itu.


Sesampainya di kantor


Semua karyawan menunduk hormat saat melihat istri bos mereka berjalan masuk ke dalam perusahaan.


Semua pasang mata menatap ke arah Diana yang melangkah bersama Rendy, namun yang menjadi perhatian mereka adalah seseorang yang berjalan beriringan bersama Diana dan Rendy.


Beberapa karyawan mengeluarkan ponsel mereka dan merekam mereka bertiga


"Nona Diana kenapa bawa badut ke kantor?" bisik salah satu karyawan


"Entahlah, mungkin untuk kejutan tuan Bryan"


"Tapi tuan Bryan belum datang"


"Benarkah?" tanya karyawan pria


"Iya sejak tadi aku belum melihat tuan Bryan datang"


"Iya benar tuan Bryan bilang dia akan datang agak siang karena ada kepentingan, tuan Bryan juga menunda meetingnya" ucap salah satu karyawan dari Divisi pemasaran


Dia tahu hal itu karena pagi ini seharusnya Bryan meeting bersama Divisi pemasaran


"Begitu, lalu kenapa istri tuan Bryan datang ke sini?"


"Tidak tahu"


"Hei lihat itu" ucap karyawan perempuan


"Kenapa istri tuan Bryan menggandeng lengan badut itu?" tanya karyawan perempuan itu


"Entahlah mungkin dia keluarga Nona Diana yang di suruh pakai kostum badut, kamu kan tahu sendiri nona Diana lagi hamil dan permintaannya itu aneh-aneh semenjak hamil" ucap seorang karyawan pria


"Benar juga sih, waktu itu kan tuan Bryan sampai di suruh naik ke pohon di depan perusaan karena ada anak kucing yang tidak bisa turun"


"Itu masih wajar, kamu tidak tahu permintaan aneh-aneh lainnya" ucap karyawan pria


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya karyawan perempuan


"Ada deh" ucap karyawan pria itu menyombongkan diri


"Hei hei" ucap salah satu karyawan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua


"Kenapa?"


"Aku rasa seseorang di balik kostum badut itu adalah korban ngidam nona Diana, dan sepertinya aku tahu siapa dia" ucapnya sambil terkekeh


"Siapa?" tanya mereka berdua


"Tuan Bryan" bisiknya


"Hah?!"


"Jangan bercanda"


"Siapa yang bercanda, lihat saja sepatunya" ucapnya sambil memperlihatkan video yang dia ambil


Kedua orang itu melihat ke arah sepatu yang di kenakan badut itu


"Hei sepertinya memang benar" ucap karyawan pria sambil menahan tawanya


"Iya benar itu sepatu yang biasanya di pakai tuan Bryan" ucap karyawan perempuan


Di ruangan Bryan


Mereka bertiga sudah berada di dalam ruangan, Rendy mengunci pintu ruangan itu agar tidak ada yang masuk.


Bryan membuka rambut palsunya


"Bagaimana sayang sudah puas?" tanya Bryan


Diana menganggukkan kepalanya "Sudah"


"Kalau begitu mas mau ganti baju dan hapus make up-nya ya, mas harus segera pergi meeting" ucap Bryan


"Kenapa mas tidak pergi meeting dengan kostum itu saja" ucap Diana


"Sayang.... " keluh Bryan


Sedangkan Rendy menahan tawanya


"Aku cuma bercanda mas, tidak perlu panik begitu" ucap Diana sambil terkekeh


"Bercanda mu itu menakutkan sayang"


"Maaf" ucap Diana sambil tersenyum


"Kamu bawa pembersih make up-nya kan?" tanya Bryan


"Iya bawa"


"Tolong bantu di bersihkan ya"


"Iya, tapi sebelum itu kita foto dulu" ucap Diana


"Kan tadi di rumah sudah"


"Satu kali saja, ayo mas duduk di kursi mu dulu"


Diana mendorong pelan tubuh suaminya ke arah kursi kerjanya. Bryan pun duduk di sana.


Dia mengambil rambut palsu dari tangan Bryan dan memasangnya kembali, setelah itu Diana melangkah ke depan meja kerja Bryan dan mulai memotretnya.


"Senyum mas"


"Tidak perlu tersenyum pun make up-nya sudah di bentuk begini" ucap Bryan sambil membentuk senyuman dengan tangannya


"Ayolah mas katanya mau cepat selesai"


"Iya iya, seperti ini?" tanya Bryan sambil tersenyum lebar


"Iya begitu, oke satu dua tiga"


Cekrek


"Sudah?" tanya Bryan


"Tunggu aku mau foto juga, kak Rendy tolong fotokan" Diana memberikan ponselnya pada Rendy


"Baik nona" jawab Rendy sambil menerima ponsel Diana


Diana melangkah ke arah Bryan lalu duduk di pangkuannya


"Sayang ada Rendy loh"


"Tidak apa-apa sekali saja"


"Sudah siap?" tanya Rendy


"Iya" jawab Diana


"Satu dua tiga"


Cekrek


"Satu kali lagi kak Ren" ucap Diana


"Baik"


Bryan hanya bisa pasrah, dia tersenyum bahagia menatap wajah istrinya yang sangat berseri-seri.


"Satu dua tiga"


Cup


Cekrek


Bryan mengecup pipi istrinya bersamaan dengan suara kamera. Rendy dengan tepat waktu mengambil gambar saat Bryan mengecup pipi istrinya.


Sedangkan Diana mematung dengan mata besarnya, dia terkejut dengan tindakan yang Bryan lakukan


"Mas Bryan..." keluh Diana di saat dia sudah tersadar dari rasa terkejutnya


"Sudah ya... mas sebentar lagi harus meeting" ucap Bryan dengan sangat lembut


Diana menganggukkan kepalanya


"Dimana pembersih make up-nya?" tanya Bryan


"Di sini" ucap Diana sambil menunjukkan tasnya


"Nona ini ponsel anda" Rendy menyodorkan kembali ponsel Diana


"Terima kasih kak Ren"


"Sama-sama nona, kalau begitu saya permisi dulu tuan, nona"


"Iya" jawab Bryan sedangkan Diana menganggukkan kepalanya


Rendy melangkah ke arah pintu


"Jangan biarkan siapapun masuk Ren" ucap Bryan


"Baik tuan" ucap Rendy, lalu dia menundukkan sedikit tubuhnya dan keluar dari sana


"Ayo aku bersihkan wajah mu mas" Diana hendak bangun dari pangkuan Bryan


"Di sini saja" ucap Bryan menahan pinggang Diana


"Tapi aku berat mas"


"Tidak berat kok"


"Baiklah" jawab Diana


Lalu dia mengeluarkan pembersih make up dan kapas, Diana menuangkan pembersih make up ke kapas lalu dia mulai membersihkan wajah Bryan


"Mas" panggil Diana setelah selesai membersihkan wajah Bryan


"Hhmm?" jawab Bryan


Tatapan mata Bryan sejak tadi tak kunjung lepas dari wajah cantik istrinya.


"Terima kasih" ucap Diana


"Untuk apa?" tanya Bryan dengan suara lembutnya


"Untuk semuanya, terima kasih sudah memenuhi keinginan ku" ucap Diana sambil menatap manik mata suaminya


Bryan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


"Apapun untuk mu dan anak-anak kita, asalkan mas masih bisa memberikannya mas akan memenuhi semuanya"


"Kamu sangat baik mas, terkadang aku merasa tidak pantas berada di sisi mu"


"Jangan berkata begitu kamu pantas berada di sisi mas, Diana Queenza"


"Karena kamu adalah pelengkap kekurangan mas, jika tidak ada diri mu mas tidak akan lengkap"


"Karena itulah tetaplah di sisi mas sampai mau memisahkan kita" ucap Bryan sambil menyentuh kedua pipi istrinya yang mulai berisi.


.


.


.