Mr. Bryan

Mr. Bryan
Dia Butuh Kon...



"Kakak"


mendengar suara seseorang Bryan seketika melepaskan pelukannya pada Rico, dan para pria itu menatap pada pemilik Suara itu.


.


.


.


Zain segera menghampiri pemilik suara itu dan memapahnya untuk duduk di sofa, ternyata seseorang yang memanggil Bryan adalah Bella adik Bryan


"Ada apa adik ku sayang?" Tanya Bryan lembut


"Kakak sedang apa? Kenapa malah memeluk kak Rico?" tanya Bella


"Tahu nih Bella, kakak mu tiba-tiba jadi gila" adu Rico pada Bella


"Tidak apa-apa kakak cuma pengen peluk dia saja" ucap Bryan sambil tersenyum


"Hiii... kau apa-apaan sih Bryan, jangan bertingkah seperti itu bikin ngeri saja" ucap Rico bergidik ngeri sambil mengusap-usap kedua lengannya


"Kamu mau sesuatu?" Tanya Zain pada Bella


"Tidak mas aku tidak sedang ingin sesuatu, tapi hanya saja dari tadi perut ku rasanya kurang nyaman, bisa tolong panggilkan dokter Ani?" jelas Bella


"Baiklah tunggu sebentar ya" ucap Zain pada Bella sambil mengusap pucuk kepalanya dengan sayang


"Iya" jawab Bella


Zain pergi keluar menuju Dokter dan suster pribadi Bella beristirahat


Ibu Ida sudah menyiapkan sebuah kamar di samping rumah, tadinya tempat itu berisi barang-barang milik Diana.


Tapi saat tahu adik Bryan tengah hamil dan harus membawa dokter dan suster pribadinya, ibu Ida dengan sigap membersikan tempat itu agar dokter dan suster yang menjaga Bella bisa beristirahat dengan nyaman.


Karena kamar di dalam rumah hanya beberapa dan sudah di siapkan untuk keluarga Bryan, jadinya ibu Ida mengubah ruangan berisi barang-barang milik Diana menjadi sebuah kamar yang nyaman untuk istirahat.


"Kamu kenapa? Apa sudah mulai kontraksi?" tanya Bryan khawatir


"Tidak tahu kak, barusan aku terbangun karena perut ku tidak nyaman" ucap Bella


Mendengar ucapan adiknya Bryan malah tambah khawatir.


"Bella, seharusnya kamu tidak perlu memaksa untuk ikut, perjalanan ke sini cukup jauh kamu dan bayi-bayi mu pasti lelah apa lagi sebentar lagi kamu melahirkan"


"Kakak bukan memarahi mu loh kakak hanya khawatir pada mu jadi jangan tersinggung"


Bryan mengatakan itu karena terkadang Bella merasa tersinggung karena sebuah ucapan yang menurutnya tengah memarahi dirinya


Mungkin karena hormon kehamilannya lah yang membuatnya mudah tersinggung apa lagi di awal kehamilannya dulu.


Dia bahkan pernah satu minggu tidak bicara dengan suaminya hanya karena Zain menasehatinya agar tidak berlari saat hamil, tapi Bella justru menangkap kekhawatiran suaminya itu adalah amarah untuknya


"Iya iya aku tahu kakak khawatir pada ku bukan sedang memarahi ku" ucap Bella


"Benar kakak khawatir dengan mu dan juga keponakan-keponakan kakak"


"Tidak perlu khawatir kak, mas Zain sudah bawa dokter dan perawat" ucap Bella


"Iya kakak tahu, suami mu itu sangat perhatian dan sangat sayang pada mu jadi jangan sering bertengkar dengan Zain dia sangat khawatir pada mu yang terkadang ceroboh" ucap Bryan menasehati adiknya


"Iya kak, kita juga sudah jarang bertengkar kok"


"Bagus, ingat pesan kakak"


"Iya iya bawel banget sih"


Bryan hanya bisa menggeleng melihat reaksi adiknya.


Tak lama kemudian Zain datang bersama dua orang wanita di belakangnya, yaitu dokter dan suster pribadi Bella


"Bella ayo ke kamar dokter akan memeriksa mu"


"Iya mas" jawab Bella sambil mengulurkan tangannya agar Zain membantunya


Zain meraih tangan Bella dan memapahnya ke kamar tamu, Bella beristirahat di kamar tamu yang di tempati Bryan saat pertama kali menginap.


Sedangkan Papa dan mama Bryan beristirahat di kamar tamu yang saat itu mereka tempati saat pertama kali menginap


Sepeninggalan Bella dan Zain


"Bryan" panggil Rico


"Hmmm?" sahut Bryan


"Kemana istri mu?"


"Di kamar dia kelelahan" sahut Bryan sambil mengotak atik ponselnya


"Kelelahan? Habis berapa ronde?" Tanya Rico usil


Bryan menonjok lengan Rico


"Habisnya di otak mu hanya ada selang kang*n saja" ucap Bryan


"Aku kan cuma tanya, kamu kan bilang istri mu kelelahan" ucap Rico membela diri


"Dia kelelahan karena berdiri dan menyalami tamu terus, bukan habis di gempur" ucap Bryan dengan nada kesal


"Oooo pantas saja dari tadi kamu peluk-peluk aku, itu karena kamu belum unboxing" ejek Rico


"Bukan" sahut Bryan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya


"Lalu?" tanya Rico


"Aku hanya ingin mengusili kamu saja" sahut Bryan sambil menatap Rico dan kembali menatap ponselnya


"Dasar menyebalkan" cibir Rico


"Rendy" panggil Bryan


"Iya tuan"


"Sudah berapa kali aku katakan jangan terlalu formal begitu, apa lagi sekarang bukan di kantor" omel Bryan pada asistennya


"Maaf tidak bisa tuan"


"Haiss selalu saja seperti itu" ucap Bryan agak kesal


"Tuan perlu sesuatu?" tanya Rendy


"Dia butuh kon d*m kali asisten Ren" sahut Rico


"Untuk apa Kon d*m?" tanya Bryan


"Untuk nanti malam" sahut Rico


"Bryan tidak akan perlu itu Co, dia pasti ingin langsung coblos" sahut David yang sejak tadi hanya diam


"Benar sekali" sahut Bryan sambil terkekeh


"Tuan barusan anda ingin mengatakan apa?" Tanya Rendy mencoba menghentikan percakapan agar tidak terdengar orang lain


"Oh iya hampir saja lupa, aku hanya mau tanya nenek bagaimana?" Ucap Bryan


"Nyonya besar sudah sampai di New York sekitar pukul sepuluh pagi, tuan"


Bryan menganggukkan kepalanya


"Oh Iya benar Bryan, memangnya nenek ngapain ke New York?" Tanya Rico


"Saudaranya sakit, jadi kemarin nenek harus terbang ke New York" ucap Bryan


"Begitu, pantas saja sejak tadi malam aku tidak melihat beliau" ucap Rico


"Hmmm" jawab Bryan


"Lalu bagaimana urusan di kantor?" Tanya Bryan pada Rendy


"Anda tenang saja tuan, pekerjaan di kantor sudah saya ambil alih untuk sementara waktu sampai anda selesai cuti" ucap Rendy


"Baiklah, terima kasih banyak Rendy" ucap Bryan


"Sama-sama tuan"


"Asisten Rendy, jangan terlalu kaku kalau kamu kaku begitu cewek-cewek akan takut pada mu" ucap David


"Ini sudah sifat saya, jadi saya tidak perlu bersusah payah mengusir mereka" sahut Rendy


"Kalau kamu seperti itu kapan akan menikah?" Tanya Rico


"Biarkan saja, Rendy sudah berjanji akan memikirkan untuk menikah suatu saat nanti, benarkan Ren?" tanya Bryan sambil menatap Rendy


Rendy hanya bisa menganggukkan kepalanya


"Bryan..."


"Iya bu? Ibu perlu sesuatu?" Tanya Bryan sambil berdiri menghampiri mertuanya


"Papa dan mama mu memanggil" ucap ibu Ida


"Ada apa, bu?"


"Adik mu akan di bawa pulang sekarang, karena dokternya menyarankan agar di bawa pulang, jadi kamu sudah di tunggu di dalam"


"Bella kontraksi bu?" Tanya Bryan panik


Reaksi yang di tunjukkan Bryan membuat ketiga pria yang tadinya sedang mendengarkan reflek berdiri


.


.


.