Mr. Bryan

Mr. Bryan
Pijat



Malam harinya, saat ini sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Bryan tengah tengkurap di atas kasurnya sambil memainkan ponselnya.


.


.


.


"Daddy" panggil Hana yang berada di pintu kamar orang tuanya


Bryan meletakkan ponselnya saat mendengar suara putrinya


"Ya sayang?" jawab Bryan


"Hana boleh macuk?" tanya Hana


"Boleh, sini sayang" ucap Bryan sambil tersenyum pada Hana


Hana melangkah masuk ke dalam kamar Bryan dan Diana


"Hana perlu sesuatu?" tanya Bryan


Hana menggeleng "Tidak Daddy"


"Lalu?"


"Daddy ngapain?" tanya Hana


"Gak ngapa-ngapain kok cuma main game" jawab Bryan sambil tersenyum pada putrinya


"Mau Hana pijat?" tanya Hana yang masih melihat Daddynya tengkurap, Hana sering memijat opanya jika dia menginap di mansion.


"Pijat?" tanya Bryan


"Emm" jawab Hana sambil mengangguk


"Boleh"


Hana naik ke atas ranjang lalu mulai memijat punggung Daddynya, tangan kecil itu menekan sekuat tenaga.


"Lebih keras sayang, gak kerasa nih" ucap Bryan


"Ini Hana cudah kelas kok pijetnya"


"Hana naik saja ke punggung Daddy" ucap Bryan


"Naik? ke cini?" tanya Hana sambil menunjuk punggung Bryan


"Iya"


"Boleh?" tanya Hana


"Iya boleh sayang" ucap Bryan


"Oce"


"Tunggu sebentar Daddy buka baju Daddy dulu biar gak licin"


Hana menganggukkan kepalanya, Bryan membuka kaos yang dia kenakan lalu Hana naik ke punggung Daddynya.


"Hati-hati sayang" ucap Bryan


"Iya" Hana naik ke atas punggung Daddynya


"Och ternyata Hana berat juga ya" ucap Bryan sambil terkekeh


"Iya Hana kan cudah becar"


"Bergerak sayang jangan berdiri di tempat terus, injak di sini nih" tunjuk Bryan


Di awal Hana melakukan seperti yang di katakan Daddynya namun lambat laun gadis kecil itu mulai iseng dia melompat-lompat di atas tubuh Daddynya.


"Hiah"


"Aduh sayang jangan lompat" keluh Bryan


"Hi hi hi ceru Daddy" ucap Hana dan dia melompat lagi


"Aduh sayang jangan lompat nanti kalau Hana jatuh gimana?"


"Cidak Hana pegangan kok" ucap Hana sambil berpegangan pada Headboard ranjang lalu Hana kembali melompat.


"Aduh" keluh Bryan namun sebenarnya dia tidak kesakitan sama sekali dia hanya ingin putrinya senang saja.


Hana terus melompat sedangkan Bryan terus pura-pura mengeluh dan beberapa menit kemudian dia berhenti dan ikut tengkurap di atas punggung Daddynya.


"Sudah selesai mainnya?" tanya Bryan


"Cudah" Sahut Hana


"Hana capek?" tanya Bryan


"Iya"


"Sayang kalungkan lengan mu ke leher Daddy, Daddy mau bangun" ucap Bryan


Hana melakukan apa yang di minta Daddynya


Bryan menyanggah tubuh putrinya yang berada di punggungnya lalu dia bangun alhasil sekarang Hana sudah ada di balik punggungnya.


"Mommy mana sayang?" tanya Bryan


"Mommy lagi macak"


"Oh kita ke dapur yuk" ucap Bryan, Bryan meraih kaos yang tadi dia buka.


"Yuk Daddy"


Bryan turun ke lantai bawah sambil menggendong putrinya di belakang panggungnya.


Bryan menuju dapur lalu memeluk Diana dari belakang dengan sebelah tangannya karena sebelahnya lagi dia gunakan untuk menahan tubuh putrinya.


"Astagfirullah, mas bikin kaget aja" keluh Diana


"He he maaf"


"Hana mana?" tanya Diana yang masih fokus menggoreng ayam


"Nih ada di belakang" Bryan memutar tubuhnya


"Sayang ternyata kamu di situ" ucap Diana sambil tersenyum


"Mas Bryan kamu kok gak pakai baju?" tanya Diana saat melihat suaminya tidak mengenakan baju


"Mommy Hana balu celecai pijetin Daddy loh" ucap Hana pada Diana


"Oh ya? enak dong" ucap Diana sambil meniriskan ayam yang dia goreng lalu mematikan kompor


"Pijet apa main sayang?" tanya Bryan pada putrinya


"Pijet lalu main" ucap Hana heboh


"Ha ha ha" Hana dan Bryan tertawa


"Main? Main gimana?" tanya Diana yang tidak paham


"Tadi Daddy curuh Hana naik ke punggung Daddy telus Hana tekan yang di tunjuk Daddy pacai kaki Hana"


"Lalu?" tanya Diana


"Lalu Hana lompat cerus Daddy bilang aduh, hi hi hi" ucap Hana sambil tertawa


Diana dan Bryan tersenyum melihat Hana bahagia hanya dengan hal kecil


"Bagitu" ucap Diana sambil tersenyum


"Makanannya sudah matang, sekarang kita makan dulu ya" ucap Diana


"Iya Mommy Hana cuga cudah lapal"


"Bik Arum mana, sayang?" tanya Bryan


"Di kamarnya, tadi bik Arum pusing jadi aku yang teruskan masakannya"


"Bik arum sakit? sudah minum obat belum?" tanya Bryan khawatir karena bik Arum sudah dia anggap sebagai keluarganya


"Sudah mas"


"Oh.. " ucap Bryan lega


"Lalu pelayan yang biasanya membantu bik Arum di dapur mana? kamu kok masak sendirian?"


"Aku suruh jagain bik Arum, lagian tinggal goreng ayam aja kok, mas"


"Ya sudah tapi lain kali panggil pelayan lain untuk membantu mu"


"Iya, lain kali aku panggil yang lain"


"Oke, sekarang kita makan" ucap Bryan


"Iya"


Di rumah besar Bryan terdapat beberapa pelayan dan mereka memiliki tugas masing-masing.


Di ruang makan, Bryan menurunkan putrinya dengan perlahan di kursi yang biasanya di tempati Hana


"Mas, cepat pakai bajunya" ucap Diana


"Kenapa? kamu takut tergoda?" tanya Bryan usil


"Bukan nanti ada pelayan yang lihat, cepat pakai"


"Kamu cemburu?" tanya Bryan


Diana yang tak sabar segera mengambil kaos yang ada di tangan suaminya dan langsung memasang kaos itu di tubuh suaminya.


"Bawel banget" omel Diana


Bryan hanya bisa terkekeh


"Mommy Hana mau ayam goleng" ucap Hana


"Iya sebentar sayang"


Setelah selesai memakaikan kaos pada tubuh Bryan, Diana mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk kemudian meletakkannya di hadapan Hana.


"Tunggu sayang, Hana belum cuci tangan kan" ucap Diana menghentikan putrinya yang hendak mengambil ayam goreng.


"Belum Mom" jawab Hana


"Ayo kita cuci tangan dulu" ucap Diana, dia menggendong tubuh mungil Hana lalu membawanya ke wastafel yang berada di dapur.


Bryan mengekor di belakang mereka, dia juga hendak cuci tangan. Setelah selesai mencuci tangan mereka kembali ke meja makan.


"Sayang kamu gak buat sambel?" tanya Bryan


"Oh iya ada, sebentar aku ambil dulu"


"Biar mas saja"


"Oke, sambelnya ada di dekat kompor"


"Iya"


Tak lama Bryan kembali dari dapur. Mereka bertiga menikmati makan malam dengan tenang.


Setelah makan malam, Diana tengah membereskan meja makan di temani Hana sedangkan Bryan sudah lebih dulu masuk ke kamarnya.


"Mommy, Hana mau tidul sama Mommy dan Daddy"


"Tentu saja sayang" ucap Diana


Tak lama kemudian Diana sudah selesai berberes.


"Ayo sayang, Mommy sudah selesai"


"Ayo Mom" ucap Hana sambil menggandeng tangan Diana


Mereka menaiki anak tangga dengan perlahan. Sesampainya di depan kamar, Diana mendengar suara suaminya yang sepertinya tengah muntah.


Diana segera masuk ke dalam kamarnya bersama Hana.


.


.


.