Mr. Bryan

Mr. Bryan
Keusilan Bryan



Diana berusaha membuka kancing bajunya dan saat itu juga ada sebuah tangan dingin yang menyentuh kulit punggungnya lalu membantu dirinya untuk melepas kancing baju yang melekat di tubuhnya.


Kak Bryan? kakak sudah selesai mandi?" tanya Diana


"Iya" jawab Bryan


Bryan membuka satu persatu kancing baju itu, namun semakin ke bawah semakin dia meneguk salivanya dengan susah payah.


Karena dia melihat punggung mulus dan putih milik Diana, ingin sekali dia menerkam istrinya saat ini juga.


Namun melihat Diana yang sudah sangat lelah dia menjadi tidak tega untuk menerkam istrinya sekarang.


Lagi pula dia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meminta haknya sekarang.


Karena dia ingin, dia dan Diana saling mengenal lebih jauh terlebih dahulu, di karenakan waktu pendekatan mereka yang bisa dikatakan sangat singkat.


Dia tidak mau Diana merasa tidak nyaman hidup bersamanya, karena itu dia ingin mendekati Diana Perlahan-lahan dan menahan dirinya untuk sementara waktu.


"Sudah" Bryan segera menjauh setelah selesai dengan urusannya


"Terima kasih kak" ucap Diana lalu dia menyambar handuk miliknya yang berada di gantungan baju dan masuk ke kamar mandi


"Hah...." Keduanya menghela nafas bersamaan di tempat masing-masing.


Hampir satu jam Diana berada di kamar mandi, dia berendam air hangat di dalam Bathtub karena tubuhnya terasa pegal-pegal.


Saat keluar dari kamar mandi dia tidak mendapati suaminya di kamar.


"Kemana kak Bryan?" tanya Diana


Dia berjalan ke arah lemari lalu mengambil baju kemudian memakainya di kamar mandi, karena dia takut tiba-tiba saja Bryan masuk ke kamar dan menyerangnya.


Bukannya dia tidak ingin melayani suaminya, tapi dia terlalu gugup jika melakukan hal itu sekarang.


Diana melirik jam "Sudah pukul 2 siang, aku shalat dulu aja mumpung masih ada waktunya.


Selesai berpakaian dia menggelar sajadahnya lalu memakai mukenanya dan melaksanakan shalat dzuhur yang lumayan terlambat dari waktunya.


Selesai shalat dia membereskan sajadah dan mukenanya.


Saat ini Diana sudah sangat mengantuk dia naik ke kasurnya lalu dalam sekejap dia sudah tertidur pulas.


15 menit kemudian Bryan masuk ke kamar dan mendapati istrinya sudah tidur lelap.


"Dia sudah tidur?" Bryan melirik jam di dinding yang menunjukkan sekarang pukul setengah tiga


"Tapi dia belum makan siang" gumam Bryan


Tok tok


Bryan menoleh ke arah pintu yang terbuka


"Diana mana?"


"Diana tidur bu, sepertinya dia kelelahan" ucap Bryan pada ibu Ida


"Ya sudah biarkan saja jangan di bangunkan, sebaiknya kamu makan dulu setelah itu istirahat" ucap ibu Ida pada Bryan


"Baik bu"


Bryan mengikuti ibu Ida turun dari lantai dua, sebenarnya tadi dia hendak memanggil Diana untuk makan siang, tapi ternyata istrinya itu sudah lebih dulu tidur


"Duduklah nak, biar ibu ambilkan" ucap ibu Ida


"Eh tidak perlu bu, Bryan bisa ambil sendiri kok" ucap Bryan tidak enak pada ibu mertuanya


"Ya sudah, ini piringnya" ibu Ida memberikan piring yang ada di tangannya pada Bryan


"Terima kasih bu, lebih baik ibu istirahat juga ibu pasti lelah" ucap Bryan


"Baiklah ibu istirahat dulu, makanlah yang banyak jangan sungkan" ucap Ibu Ida pada Bryan


"Baik bu" jawab Bryan sambil tersenyum


"Ya sudah ibu istirahat dulu, piringnya taruh saja di Wastafel tidak perlu di cuci nanti biar ibu saja yang cuci"


"Baik bu"


Setelah ibu ida pergi, Bryan duduk dan mulai mengambil nasi dan lauk yang ada di hadapannya.


Saat hendak memakan makanannya datanglah seseorang yang merecokinya


"Pengantin baru makannya sendirian nih?"


Bryan meletakkan sendoknya dan berdiri di hadapan seorang Pria bertubuh tinggi besar berkulit sawo matang


"Siapa anda?" Tanya Bryan karena orang itu menyapanya sok kenal


Pria itu tersenyum pada Bryan, lalu datanglah ayah Diana dari arah luar dan menghampiri mereka berdua


"Kak, dia suami putri mu?" tanya pria itu


"Benar" jawab ayah Diana


"Bryan kenalkan dia teman ayah" ucap ayah Evan pada Bryan


"Iya dulu kita join kerja" jawab ayah Evan


"Ohh.."


Bryan menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman dengan pria yang sepertinya seumuran dengannya


"Bryan suaminya Diana" ucap Bryan memperkenalkan diri


Pria itu tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya, lalu menerima uluran tangan Bryan


"Haidar" ucapnya memperkenalkan diri


Bryan tersenyum dan mengangguk kemudian melepaskan tangannya.


"Putri ayah dimana Bryan?" Tanya ayah Diana


"Di kamar yah, dia kelelahan" jawab Bryan


"Ohh ya sudah, kamu lanjutkan makan mu ayah ke belakang dulu" ucap ayah Evan


"Iya yah" jawab Bryan


Ayah Evan dan pria yang bernama Haidar itu pergi, sedangkan Bryan masih berdiri menatap keduanya


"Hah.., Apa hanya perasaan ku saja ya?" gumam Bryan


"Biarlah" ucap Bryan lalu kembali duduk di kursinya dan melanjutkan makannya


Sesaat kemudian Bryan sudah selesai makan, dia membawa piring kotornya ke dapur lalu mencuci piring bekas dia makan di Wastafel.


Walaupun ibu Ida melarangnya mencuci piringnya, Bryan tidak enak sendiri karena di Wastafel itu tidak ada piring kotor dan juga dia tidak akan membiarkan ibu mertuanya mencuci bekasnya.


Setelah itu Bryan pergi ke ruang tamu di mana para pria ada di sana.


Bryan kenapa tidak istirahat? Tanya David saat melihat Bryan melangkah ke arah mereka


Para pria yang ada di sana menoleh ke arah Bryan, Bryan duduk di dekat Rico dan bersandar pada Rico


"Hei hei sana jauh-jauh" usir Rico


"Diamlah jangan berisik Rico, aku lelah" ucap Bryan


"Kalau lelah sana istirahat dengan istri mu di kamar bukan malah bersandar pada ku, peluk saja istri mu" ucap Rico


Bryan diam tidak mendengarkan ucapan Rico


"Bryan singkirkan kepala mu dari bahu ku, bagaimana kalau ada yang lihat dan salah paham?" ucap Rico


"Salah paham gimana, kita kan pria" ucap Bryan


"Karena itulah Bryan! Karena kita pria malah lebih gawat!" Ucap Rico ngegas


"Ke ke ke takut di kira gay?" tanya Bryan


Bryan sengaja melakukan itu untuk mengganggu Rico


"Ya! Bisa gawat, aku kan pria normal" ucap Rico ngegas


"Biarkan saja" ucap Bryan tidak peduli dia malah tambah memeluk temannya itu


"Hei hei Bryan apa-apaan kamu! lepas gak!" teriak Rico sambil berusaha melepaskan tangan Bryan


Bryan tetap tidak menyingkir


"Hei kalian jangan diam saja bantu aku" ucap Rico kelabakan


Bukannya menolong Rico, David, Zain dan Rendy asisten Bryan malah menertawakan Rico


"Bryan! Lepas gak! Ada apa dengan pria ini apa kamu sudah gila hah!" teriak Rico yang sudah sangat kesal


"Bryannnn!!!!" teriak Rico


"Jangan berteriak Rico, nanti yang lain bangun" ucap Bryan


"Karena itulah lepas Bryan! ada apa sih dengan mu?! kenapa usil sekali?" ucap Rico masih berusaha menjauhkan Bryan


"Kakak"


mendengar suara seseorang Bryan seketika melepaskan pelukannya pada Rico, dan para pria itu menatap pada pemilik Suara itu.


.


.


.


Siapakah yang memanggil Bryan?


penasaran?


Di tunggu episode selanjutnya ya.... ❤👌