
"Gawat" pikir Ross
Sedangkan kedua pria berjas itu bertanya-tanya siapa pria yang saat ini sedang memeluk Diana
.
.
.
"Kak lepas malu ada temen ku" bisik Diana
"Untuk apa malu?" bisik Bryan, semakin mengeratkan pelukannya
"Kak"
"Dia siapa, Diana?" tanya Cho
Ternyata teman yang di maksud Diana adalah Cho, Cho berencana untuk bekerja sama dengan cafe Diana.
Dia ingin cafe Diana yang menyediakan hidangan untuk ulang tahun perusahaannya, dan sekalian berniat untuk pdkt an dengan pemiliknya itu.
Bryan melepaskan pelukannya lalu mengulurkan tangannya ke arah Cho
"Saya Bryan suaminya Diana" ucap Bryan memperkenalkan diri
"Suami?" itulah yang ada di pikiran Cho saat ini
Cho mencoba mengontrol dirinya, dia berdiri dari duduknya lalu menjabat tangan Bryan.
"Cho, senior Diana di kampus" ucap Cho
"Senior? Sayang dia senior yang kamu maksud?" Bryan menoleh ke arah istrinya dan bertanya
"Oh bu..bukan kak, yang aku maksud bukan kak Cho"
Bryan menatap mata indah istrinya, mencari kebohongan.
"Kakak perlu sesuatu?" tanya Diana mencoba mengalihkan perhatian suaminya
"Tidak" jawab Bryan
"Lalu kenapa kakak keluar?" tanya Diana
"Apa kakak tidak boleh keluar?" tanya Bryan mulai kesal
"Sial aku salah bicara" ucap Diana dalam hati
"Bukan begitu maksud ku kak" ucap Diana sambil tersenyum pada Bryan
"Kakak mau pulang, kalian lanjutkan saja pembicaraannya" pamit Bryan dan langsung pergi dari sana menuju mobilnya
"Gawat" ucap Diana
"Kak maaf, kalian lanjutkan pembicaraannya dengan Ross aku masih ada perlu" ucap Diana buru-buru
"Tapi kita belum selesai" ucap Cho
"Tolong jelaskan pada Ross kak, biar Ross yang sampaikan pada ku nanti, sampai jumpa aku pergi dulu" ucap Diana sambil berlari keluar
"Dia kenapa?" tanya Cho
"Bos apa anda tidak mengerti? Dia pergi menyusul suaminya yang sedang kesal" sahut asistennya
"Kesal kenapa? Sepertinya barusan dia baik-baik saja" ucap Cho
"Tapi tunggu dulu, sejak kapan Diana menikah? Bukankah waktu itu dia belum menikah?" tanya Cho bingung
"Diana sudah menikah sekitar satu bulanan" jawab Ross
"Kok aku gak tahu?"
"Pernikahan mereka privat jadi selain yang di undang tidak ada yang tahu, bahkan media tidak ada yang tahu"
"Media? Memangnya siapa suaminya?" tanya Cho
"Bos anda tidak tahu pria itu?" tanya asistennya
"Tidak memangnya siapa?"
"Dia CEO perusahaan Adams bos, sekaligus penerus sahnya"
"Apa?! Pria itu Bryan Adams?" tanya Cho terkejut
Asisten pribadi sekaligus temannya itu menganggukkan kepalanya
"Dia tampak berbeda jika berpakaian casual begitu, pantas saja aku tidak mengenalinya" ucap Cho
"Hah...." Cho terduduk lemas di kursinya
"Sabar bos" ucap asistennya
"Kenapa dia?" tanya Ross
"Patah hati" sahut Angga tanpa rasa bersalah
"Patah Hati? jangan bilang kak Cho masih suka sama Diana" ucap Ross heboh
"Bisakah kamu diam nona Ross yang terhormat" ucap Cho kesal
"Ha ha ha maaf kak"
"Dasar menyebalkan, minta maaf tapi pake ketawa segala" sewot Cho
"Sudahlah aku mau pulang saja, Ga kamu yang lanjutkan pembicaraannya"
"Baik bos"
Cho berjalan keluar dengan langkah lemas.
***
Sedangkan di tempat lain, saat ini Diana berada di dalam mobil bersama suaminya.
Saat menyusul keluar hampir saja Bryan meninggalkannya beruntung Diana masih sempat masuk ke dalam mobil suaminya sebelum mobil itu melaju.
"Kak" panggil Diana sambil menghadap suaminya
"Kak Bryan"
"Kakak marah?"
"Kak jangan diam saja dong, bicaralah kita baru saja baikan tapi kakak malah mendiamkan ku lagi"
"Maaf aku salah, maaf seharusnya aku tidak berbohong pada kakak"
"Kak Bryan maafkan aku"
Bryan masih saja diam dan berkonsentrasi mengemudi.
"Gawat sepertinya kak Bryan sangat marah, aku harus buat dia tidak marah lagi jika tidak....jika tidak aku sendiri yang tersiksa karena di cuekin seperti beberapa hari yang lalu" ucap Diana dalam hati
Diana memikirkan sebuah rencana sambil melihat keluar
"Loh kak kita mau kemana? Ini bukan jalan ke mansion ataupun ke rumah kakak" ucap Diana saat melihat ternyata jalan yang di lalui Bryan bukan menuju ke arah mansion atau pun ke rumah Bryan
Bryan lagi-lagi tidak menjawab, Diana hanya bisa terdiam sambil berpikir kemana mereka akan pergi.
Beberapa saat kemudian Bryan memasuki kawasan apartemen mewah, dia memarkirkan mobilnya.
Bryan turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras, Diana turun dan mengikuti suaminya.
"Selamat siang tuan, nona" sapa Security yang berjaga di sana
"Siang pak" sapa Diana karena Bryan tidak menjawab sapaan Security itu
Bryan melangkah ke arah lift dan menekan angka yang ada di dalam lift, Diana segera masuk ke dalam lift karena Bryan sepertinya akan meninggalkan dia.
"Kak Bryan jahat banget sih, kenapa aku di tinggal" rengek Diana tapi Bryan masih saja tidak menjawab
Ting..
Lift sampai di lantai paling atas, Bryan keluar dari lift dan melangkah ke arah pintu apartemen
"Kak ini apartemen siapa? Apa kakak ke sini untuk bertemu selingkuhan kakak?" tuduh Diana pada Bryan
Bryan masuk ke dalam apartemen setelah masukkan sandi di pintu apartemen.
Diana mengikuti suaminya ke dalam
"Kak..." Diana memanggil Bryan yang melangkah di depannya
"Kak Bryan..." panggil Diana lagi sambil menarik ujung jaket hitam yang di pakai suaminya
"Kak Bryan bicara dong... "
Bryan melangkah ke arah dapur lalu membuka kulkas dan mengambil botol air dingin dari dalam sana lalu menenggaknya sampai habis
Diana menatap Bryan yang sedang minum dengan cepat
"Kak aku juga mau minum" rengek Diana mencoba mencari perhatian suaminya
Bryan mengambil air minum di kulkas lalu memberikannya pada Diana, tanpa bersuara
"Bukain" ucap Diana manja
Bryan membuka tutup botolnya lalu memberikannya pada istrinya itu.
Diana menarik tangan suaminya yang memegang botol air, jadi seolah-olah suaminya itu tengah memberikannya minum
Setelah meneguk air dingin itu Diana menjauhkan botol air dari bibirnya
"Sudah"
Bryan menarik tangannya lalu meletakkan botol bekas air minum istrinya di meja kitchen set
Bryan hendak melangkah pergi namun Diana berdiri di hadapannya untuk menghalangi langkah suaminya
Bryan berjalan ke arah kanan dan Diana menghadangnya lagi, Bryan ke kiri Diana pun menghalanginya juga, lalu Bryan berbalik tapi Diana lagi-lagi menghalanginya.
"Kak Bryan maafkan aku" ucap Diana memohon, dia membuat wajah seimut mungkin agar Bryan luluh
"Hah.... " Bryan menghela nafas panjang
Sebenarnya dia tidak tahan melihat wajah istrinya yang sangat imut tapi rasa kesal karena di bohongi oleh istrinya membuat dia menjadi acuh.
Bryan berbalik lagi ke arah lain dan pergi dari sana, tapi sebelum beberapa langkah Diana sudah lebih dulu memeluk Bryan dari belakang.
"Maaf"
.
.
.