Mr. Bryan

Mr. Bryan
Calon Adik Ipar



"Habis begadang bareng nih ya?" goda Ross sambil menaik-turunkan alisnya


.


.


.


"Enak aja kalau ngomong, ini semua gara-gara kamu tahu" Diana melempar bantal sofa ke arah temannya


"Duh kok aku di lempar bantal sih? Salah ku apa?" tanya Ross tanpa rasa bersalah


"Pake nanya lagi" ucap Diana mulai kesal


"Apa salah ku Di?" tanya Ross lagi


"Kamu itu semalam ngorok aku tidak bisa tidur"


"Ohh cuma itu" sahut Ross enteng


"Cuma itu?!" Diana sudah kesal


"Maaf habis kalau kelelahan aku emang begitu mau bagaimana lagi wong aku gak sengaja, benar kan calon adik ipar?" Ross mencari pembelaan dari pria yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua


"What? calon adik ipar?" ucap Diana terkejut


Gak salah kamu Ross?" tanya Diana mempertanyakan ucapan temannya


"Lah bener kan, umur mu lebih muda dari ku kamu juga seperti adik ku jadi suami dari adik kan betul adik ipar" ucap Ross


"Siapa yang mau punya kakak seperti mu" ucap Diana sewot


"Jahat banget sih kamu Di, calon adik ipar lihat gebetan mu itu" adunya pada Bryan


"Bukan gebetan, tapi tunangan" ucap Bryan mengoreksi ucapan Ross sambil terkekeh


"Apa?! sejak kapan?" tanya Ross terkejut


"Kemarin malam" sahut Bryan


"Apa!!" teriak Ross


"Ah berisik jangan teriak-teriak Ross" ucap Diana kesal


"Maaf aku cuma kaget" ucap Ross


"Sudah sana pergi, katanya mau joging" Diana mengusir Ross


"Iya iya aku pergi, dasar sudah dapat temen baru yang lama di buang" gerutu Ross


Diana tidak menanggapi ucapan Ross dan memilih merebahkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya.


"Aku joging dulu" pamit Ross pada keduanya


"Hmm" sahut Diana dan Bryan hanya mengangguk


Setelah Ross pergi Bryan mulai bicara dengan Diana


"Sayang kamu gak shalat subuh?" tanya Bryan


"Enggak lagi lampu merah" ucap Diana


"Lampu merah?" gumam Bryan


"Iya aku lagi halangan" ucap Diana memperjelas


"Oh, pantas saja sejak kemarin kamu kesal terus" ucap Bryan


"Hmm" jawab Diana


"Astagfirullah, Diana kamu ini anak gadis kok malah malas-malasan gitu apalagi di depan calon suami mu"


Tiba-tiba ibu Ida datang dan mengomelinya


"Tidak apa-apa bu, katanya masih ngantuk" ucap Bryan sambil tersenyum


"Maaf nak, anak ini memang kadang suka begitu kalau di rumah" ucap ibu Ida tidak enak


"Di harus gimana bu? aku masih ngantuk" tanya Diana


"Ya seharusnya bangun tidur mandi dandan yang cantik apa lagi ada calon suami mu dan mertua mu, masa mereka lihat kamu kayak gini jorok tahu"


"Gak papa, kalau kak Bryan memang mau Di jadi istrinya, dia harus terima aku apa adanya, aku gak mau harus pura-pura terus di hadapan dia" ucap Diana


Bryan tersenyum mendengar ucapan Diana yang ada benarnya juga.


"Terserah kamu lah nak" ucap Ibu Ida


"Nak kalau nanti di rumah mu malas-malasan begini guyur saja pakai air" ucap Ibu Ida pada Bryan


"Ibu kok gitu sih... kenapa malah nyuruh kak Bryan nyiksa aku?" keluh Diana yang sudah bangun dan duduk di sofa


"Bukan nyiksa tapi ngajarin disiplin, Makanya kamu itu mandi yang rajin, kamu ini cewek kok jorok banget tuh ilernya" ucap ibu Ida sambil menunjuk sudut bibir Diana


Diana menyentuh sudut bibirnya "Mana ada iler, ibu kan tahu sendiri aku gak pernah ileran"


"Oh iya ibu lupa, itu beleknya masih ada" ucap ibu Ida sambil terkekeh


"Ih ibu nih cuma asal aja, gak ada bu aku sudah cuci muka sama gosok gigi sebelum turun" ucap Diana kesal


"Ha ha ha" Bryan dan ibu Ida tertawa melihat kekesalan Diana


"Ya sudah kamu cepat mandi setelah itu sarapan"


"Iya" ucap Diana


"Iya bu, papa dan mama tidak keberatan sarapan jam segini" ucap Bryan


"Ya sudah ibu ke dapur dulu"


"Iya bu" jawab Bryan


Selepas ibu Ida pergi dari sana Bryan kembali tertawa melihat Diana yang masih kesal


"Ketawa aja terus, ledek terus calon istrinya"


"Maaf sayang"


"Terusin gak usah berhenti" ucap Diana sambil mendekat ke arah Bryan yang masih tertawa lalu berbisik di telinga Bryan


"Kakak terusin aja ngeledeknya, tapi... malam pertama nanti gak akan aku kasih jatah, mau?" bisik Diana sambil menyeringai


Gelk Bryan menelan salivanya kasar


Diana menjauhkan tubuhnya dari Bryan setelah selesai berbisik


"Sayang kok gitu sih?" rengek Bryan


"Calon istri mu yang jorok ini mau mandi dulu, bye" ucap Diana dan pergi melesat ke kamarnya


"Diana" panggil Bryan namun Diana tidak mengubrisnya


"Dasar gadis nakal, kita lihat saja nanti" kali ini Bryan yang tersenyum menyeringai


Pukul 6 pagi semuanya sudah berada di meja makan kurang Diana dan Hana saja yang belum turun, karena Hana hanya mau mandi jika Diana yang memandikannya


"Di mana Diana?" tanya Evan


"Masih di atas, tadi Hana hanya mau di mandikan Mommy nya" ucap Ibu Ida sambil tersenyum


"Ohh"


"Celamat paji cemua" suara cadel Hana terdengar dari arah tangga


"Pagi" sahut semuanya serentak


"Duh cucu opa sudah cantik, benarkan Bryan?" ucap Heru setelah Hana yang berada di gendongan Diana datang mendekat


"Hmmm cantik" ucap Bryan sambil mengangguk


"Siapa yang cantik Bryan?" tanya Anna menggoda putranya


"Tentu saja putri daddy" ucap Bryan yang mengerti bahwa mamanya sedang meledeknya


"Mommynya gak cantik juga Bryan?" Anna menggoda lagi putranya


"Mommynya juga cantik" ucap Bryan membuat Diana tersipu malu karena mendapat ledekan dari semuanya


"Sini Hana sayang duduk di sebelah Daddy, biar daddy suapi" ucap Bryan mengalihkan perhatian karena kasihan melihat calon istrinya di ledekin banyak orang


Bryan merentangkan tangannya dari tempat ia duduk berniat mengambil alih putrinya, namun Hana malah berbalik badan dan memeluk Diana dengan erat.


"Loh gak mau nih?" tanya Bryan


"Cidak mau, Hana cidak mau macan di cuapi daddy"


"Kenapa sayang? biasanya kan daddy yang suapi"


"Hana mau di cuapi Mommy"


"Hahhh..." Bryan menghela nafas


Terjadi lagi adegan yang sama seperti saat makan malam kemarin


"Tidak apa-apa kak, biar aku saja yang suapi"


Tanpa menunggu jawaban dari Bryan, Diana membawa Hana duduk di sebelah tempat duduknya


"Silahkan di nikmati" ucap Evan


"Iya terima kasih"


Mereka mulai menyantap makanan di piring masing-masing, sedangkan Diana menyuapi Hana dan sesekali menyuapkan sarapan ke dalam mulutnya.


"Hana mau tambah lauknya?" tanya Diana


"Iya mom"


"Ayam goreng?" tanya Diana


"Iya, capi yang icu"


"Yang ini?"


"Bucan catunya"


"Ini?"


"Iya"


Skip selesai sarapan


.


.


.