
"Kak Bryan... maafkan aku sekali ini saja lain kali aku tidak akan melakukannya lagi"
"Tidak"
.
.
.
"Kak Bryan kok tega sih... tadi di cafe lagi rame kak seharian aku gak pegang ponsel, ponsel ku ada di tas, tasnya ada di ruangan ku jadi gak kedengeran"
"Aku gak bisa pulang karena lagi rame, kami kekurangan pekerja"
"Kamu pulang ke rumah bukannya langsung samperin suami mu malah asik berbincang dengan pria lain"
"Hah...? aaaa... jadi kakak dengar aku bicara dengan kak David barusan?" tanya Diana
"Hmm"
"Kak David cuma bilang kakak khawatir sama aku seharian, itu aja kok"
"Siapa yang khawatir" sahut Bryan sambil membuang muka
Diana tersenyum dan melangkah mendekati suaminya, dia meletakkan tasnya di meja
"Jadi kak Bryan gak khawatir pada ku?" tanya Diana
"Tidak" jawab Bryan
Diana duduk di pangkuan Bryan, dia meletakkan tangan kirinya di bahu Bryan
"Kalau tidak khawatir kenapa sampai menelpon 50 kali?" tanya Diana dengan nada manja
"Itu karena Hana terus mencari mu" sahut Bryan
"Benarkah?" tanya Diana, jari telunjuknya membentuk pola-pola abstrak di dada bidang suaminya
"Lalu bagaimana dengan pesan-pesan yang kakak kirim? menurut ku pesan-pesan itu bukan karena Hana, apa kakak merindukan ku karena aku tinggal seharian?" tanya Diana sambil merebahkan kepalanya di bahu kanan Bryan sedangkan tangannya masih membentuk pola-pola abstrak
"Apa kamu seharian di cafe hanya untuk mempelajari cara menggoda ku?" tanya Bryan masih dengan nada dinginnya
"Kak Bryan kok ngomong gitu sih, aku sibuk bekerja seharian loh kaki ku pegal seharian bolak balik" ucap Diana dengan nada manja
Dia juga menaikkan kaki kanannya dan menyingkap sedikit roknya untuk menunjukkan pada Bryan kakinya yang sedikit bengkak sekaligus merayu suaminya agar tidak marah.
"Siapa suruh bekerja"
"Kak Bryan sungguh sulit di bujuk" ucap Diana dalam hati
"Aku kan rindu bekerja di cafe kak... sebelum menikah dengan kakak setiap hari aku selalu di sana sampai malam."
"Lalu kenapa sekarang mengeluh?" tanya Bryan
"Kan dulu aku belum punya suami jadi aku mau ngeluh sama siapa? tapi sekarang aku sudah punya suami jadi apa aku tidak boleh mengeluh pada suami ku?"
"Pintar sekali dia menjawab" ucap Bryan dalam hati
"Kenapa kakak diam saja?" tanya Diana, dia mengangkat kepalanya dari bahu Bryan untuk menatap wajah suaminya
"Maafin aku ya kak... tadi aku sungguh lupa kalau aku... "
"Lupa kalau sudah punya suami?" tebak Bryan
Diana hanya bisa menganggukkan kepalanya
"Jahat sekali jadi istri"
"Maaf kak namanya juga lupa, maafin aku ya..."
"Sana kamu pergi mandi"
"Kakak mengusir ku?" tanya Diana
"Tidak"
"Kakak masih marah pada ku ya...?" tanya Diana lagi
"Tidak"
"Bohong!"
"Kakak bilang tidak Diana"
"Kakak bohong!"
"Tidak"
"Kalau tidak kenapa kakak tidak memanggil ku sayang? tapi malah memanggil nama ku, biasanya kakak selalu memanggil ku sayang"
"Hah..... "
"Lihat lihat bahkan sekarang kakak menghela nafas"
"Apa salahnya hanya menghela nafas?" tanya Bryan
"Sayang" tekan Diana pada Bryan agar memanggil dirinya sayang
"Iya iya sayang"
"Gak ikhlas banget manggilnya" ucap Diana kesal dia bangun dari pangkuan Bryan dan melangkah ke arah kamar mandi
Sebelum sampai ke kamar mandi Diana berhenti kemudian berbalik menatap ke arah Bryan
"Kakak gak mau bujuk aku nih?" tanya Diana dengan nada kesal
"Arggh..! kakak mau apa?" Diana terkejut karena tiba-tiba di gendong Bryan
"Mau membujuk mu" jawab Bryan
"Kenapa membawa ku ke kamar mandi?" tanya Diana
"Bujuknya di kamar mandi saja"
Brakkk
Bryan menutup pintu kamar mandi dengan kakinya, dan sesaat kemudian terdengar suara teriakan Diana di dalam sana.
2 jam kemudian
Bryan keluar dari dalam kamar mandi dengan Diana di dalam gendongannya, mereka berdua saat ini hanya memakai Bathrobe saja
Bryan menurunkan tubuh istrinya di kasur
"Kakak ambilkan pakaian mu dulu" ucap
Diana hanya dapat menganggukkan kepalanya, dia terlalu lelah untuk bicara.
Bagaimana tidak Bryan benar-benar membujuknya di dalam sana selama 2 jam.
Tenaga Diana sudah habis di kuras Bryan, beberapa saat kemudian Bryan sudah kembali dengan dress tidur milik istrinya sedangkan dia sendiri sudah memakai piyamanya.
"Ini piyama mu sayang, mau kakak pakaikan?"
"Iya tenaga ku sudah benar-benar habis, ini salah mu kak" ucap Diana dengan nada kesal namun sangat imut menurut Bryan
"Maaf katanya mau di bujuk" ucap Bryan terkekeh, tangannya bergerak memakaikan piyama pada tubuh istrinya.
"Itu namanya bukan di bujuk tapi hukuman"
"Kan kamu buat salah karena tadi gak ngasih tahu kakak kalau pulang telat, jadi harus di hukum"
"Kan bisa besok aja jangan sekarang"
"Siapa suruh kamu goda kakak terus, tubuh mu pake gerak-gerak segala di pangkuan kakak, jadinya kan bangun"
"Kakak menyebalkan, istri pulang kerja bukannya di pijat malah di hukum"
"Barusan kan sudah kakak pijat di kamar mandi"
"Mana ada!" ucap Diana kesal, dia mengerucutkan bibirnya
Cup Bryan mengecup sekilas bibir istrinya
"Sudah jangan ngambek terus, kakak minta maaf"
Diana membuang muka, dia masih merajuk pada suaminya
"Sudah Sayang jangan ngambek terus dong, sepertinya tenaga mu sudah terisi kembali ya bagaimana kalau kita lanjut ronde ke 2?"
"Dasar pria" ucap Diana semakin kesal, dia naik ke atas kasur dan merebahkan dirinya di tempat biasanya ia tidur
Bryan terkekeh melihat istrinya masih kesal, dia sangat suka jika melihat istrinya merajuk padanya karena wajahnya bertambah imut
Bryan ikut naik ke atas kasur dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya AC
"Sayang..." Bryan menatap wajah istrinya
"Tubuh ku pegal" keluh Diana dengan manja
"Mau kakak pijat?"
"Tidak nanti tangan kakak malah pijat yang lain"
Bryan kembali terkekeh
"Gak bakalan kok"
"Tidak usah, aku mau di peluk saja"
"Baiklah" Bryan memeluk tubuh Diana
"Kak" panggil Diana
"Hmm?"
"Celana dal*m ku mana? aku belum pakai" ucap Diana setelah sadar bahwa dia belum memakai benda itu
"Tidak usah pakai" sahut Bryan sambil memejamkan mata
"Tidak nyaman kak, nanti malah ada tikus masuk ke dalam"
"Di sini gak ada tikus sayang" jawab Bryan
"Ada"
Bryan membuka mata lalu berkata "Dimana? kenapa tidak bilang kalau di sini ada tikus?" tanya Bryan sambil menatap istrinya
"Di dalam sana" ucap Diana sambil menunjuk ke dalam selimut
Bryan segera membuka selimut yang menutupi tubuh mereka, Bryan mengangkat sedikit tubuhnya tangan kanannya dia gunakan sebagai penopang tubuhnya.
"Dimana sayang?" tanya Bryan
.
.
.