Mr. Bryan

Mr. Bryan
Ngambek



"Sayang" panggil Bryan


.


.


.


"Diana.... " panggil Bryan lagi


"Hmmm"


"Makan yuk, ceker ayam pesanan mu sudah matang" ucap Bryan dengan lembut


"Aku ngantuk, mas" ucap Diana masih memejamkan mata


"Makan dulu ya, kamu belum sarapan"


"Hmmm nanti saja"


"Bayi kita butuh makan bangun dulu ya makan sedikit saja, tadi kamu bilang pengen ceker kecap" bujuk Bryan


Dengan malas Diana bangun di bantu Bryan


"Aku ngantuk" ucap Diana dengan manja


"Iya, mas tahu kamu ngantuk tapi makan dulu sedikit kasihan baby kita lapar"


Diana menganggukkan kepalanya


"Mau di suapi atau tidak?" Tanya Bryan


Di membuka mulutnya tanda minta di suapi


"Manja banget sih" ucap Bryan sambil tersenyum


"Ya sudah kalau gak mau suapin, padahal mas sendiri yang nawarin" ucap Diana cemberut


"Iya iya dasar tukang ngambek" ucap Bryan sambil terkekeh


"Akk" ucap Bryan sambil membuka mulutnya juga


Diana membuka mulutnya lalu Bryan menyuapi Diana, Diana mengunyah makanan yang ada di mulutnya perlahan


"Bagaimana? enak?" Tanya Bryan


Diana menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya


"Enak banget" ucap Diana setelah mulutnya kosong


"Syukurlah" ucap Bryan senang


"Mas buang tulangnya juga, ya?" tanya Diana


"Iya, biar kamu gak perlu belepotan" jawab Bryan


"Terima kasih" ucap Diana yang langsung memeluk suaminya


"Eh eh pelan-pelan dong, nanti piringnya jatuh" ucap Bryan dengan lembut


"He he maaf" ucap Diana


Bryan mengusap pucuk kepala istrinya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memegang piring berisi sarapan istrinya


"Ayo makan lagi"


"Iya" ucap Diana melepaskan pelukannya


"Mas gak makan?" Tanya Diana


"Sudah" jawab Bryan sambil menyuapi istrinya


"Kapan?" Tanya Diana sambil mengunyah makanannya


"Barusan di dapur, mas cicipi beberapa cekernya"


"Gak pakai nasi?" Tanya Diana


"Tidak, nanti setelah kamu kenyang mas akan pergi sarapan"


"Akk" ucap Bryan kembali menyodorkan sesendok nasi namun di tolak oleh Diana


"Kenapa? kamu mual lagi?" Tanya Bryan khawatir


Diana menggelengkan kepalanya


"Lalu?" tanya Bryan


"Mas makan dulu deh"


Bryan tersenyum "Nanti mas makan setelah kamu selesai"


"Kalau mas gak makan aku juga gak mau makan" ancam Diana


"Kok gitu sih sayang, ayo kamu makan dulu ya" bujuk Bryan


Diana menggelengkan kepalanya


"Kalau mas makan siapa yang akan menyuapi mu?" tanya Bryan


"Aku bisa makan sendiri" ucap Diana hendak mengambil piring di tangan Bryan, tapi Bryan sudah lebih dulu menjauhkan piringnya dari jangkauan Diana


Di menatap sebal pada suaminya


"Jangan ngambek sayang, nanti cantiknya hilang" rayu Bryan


"Biarin" jawab Diana


"Nanti mas cari cewek lain kalau kamu ngambek" ucap Bryan usil lalu dia terkekeh


"Huaaa"


"Lah kok nangis?" Ucap Bryan terkejut


Bryan segera meletakkan piring yang dia pegang ke atas nakas


"Sayang"


"Maaf sayang, mas cuma bercanda doang kok" bujuk Bryan


"Lepasin, aku gak suka candaan mas"


"Iya iya maaf maafkan mas ya.. lain kali mas gak akan bercanda begitu lagi"


"Hiks hiks jangan sentuh aku"


"Bryan kamu apakan istri mu!" Ucap mama Anna ngegas


"Ma, ini cuma salah paham aja" ucap Bryan


"Ibu..." Rengek Diana sambil berlari ke arah ibunya yang ada di belakang mama Anna kemudian dia langsung memeluknya.


"Ibu mas Bryan jahat" adu Diana pada ibunya


Ibu Ida menepuk pelan punggung putrinya,


Sedangkan Bryan dia segera berdiri menghampiri mereka.


"Ma ini cuma salah paham aja kok, barusan aku cuma bercanda" ucap Bryan menjelaskan


"Kamu bercandain gimana sampai sampai istri mu nangis begitu" omel mama Anna


"Itu ma..." Ucap Bryan sambil menggaruk kepalanya bingung


"Mas Bryan bilang mau cari cewek lain ma" ucap Diana mengadukan suaminya, sambil menunjuk ke arah suaminya dengan tatapan tajam


"Nak gak boleh nunjuk-nunjuk suami mu begitu" ucap ibu Ida sambil menurunkan lengan putrinya yang masih memeluknya.


Diana kembali cemberut saat mendapat teguran dari ibunya.


"Mas Bryan duluan bu" rengek Diana


"Sudah sudah suami mu cuma bercanda kok, lagian kenapa suami mu kok sampai bilang begitu, pasti kamu berulah ya?" tanya ibu Ida


"Ibu kok malah belain mas Bryan sih"


"Bukan belaiin sayang, tapi pasti ada penyebabnya kan" ucap ibu Ida dengan lembut


Diana melepaskan pelukannya dari ibunya kemudian memasang wajah merajuk


"Nah kan kamu ngambek lagi, mas isengin kamu karena kamu cemberut begitu" ucap Bryan terkekeh di akhir kalimatnya


Plak


"Aauw sakit ma, kok malah pukul Bryan sih" keluh Bryan yang mendapat pukulan dari mamanya


"Lebay, di pukul dikit doang sakit" ejek mama Anna


"Sayang lanjut makan ya, ngambeknya bisa di lanjut nanti saja" bujuk Bryan


"Sudah sana kamu habiskan dulu sarapannya, kasihan bayi mu" ucap ibu Ida pada putrinya


"Iya" jawab Diana sambil melangkah dengan malas ke arah nakas untuk mengambil piringnya.


Diana melangkah ke arah sofa lalu dia duduk di sana, kemudian dia menyalakan TV.


"Lain kali jangan iseng-iseng, apa lagi dengan hal begituan istri mu itu lagi hamil jadi pasti dia sensitif sekali, becanda mu itu gak asik untuk di dengar apalagi sama ibu hamil" Omel mama Anna


"Iya ma maaf" ucap Bryan


"Bagaimana kabar mu nak?" Tanya ibu Ida yang baru sempat menyapa menantunya


"Baik bu" jawab Bryan sambil tersenyum


"Alhamdulillah" ucap ibu Ida


"Bryan kamu juga gak ingat sama ibu mertua mu?" Tanya mama Anna


Bryan menggelengkan kepalanya


"Haish kamu ini" ucap mama Anna sambil menggetok kepala putranya


"Ma jangan gitu dong" ucap Bryan sambil mengusap kepalanya


"Biarin siapa tahu ingatan mu kembali" jawab mama Anna


"Ma ini bukan film" jawab Bryan


"Tidak apa-apa jeng, Perlahan-lahan ingatan nak Bryan akan segera kembali" ucap ibu Ida


"Iya semoga saja" ucap mama Anna


"Ya sudah kami ke bawah dulu, nanti setelah istri mu selesai makan turunlah" ucap mama Anna


"Iya ma"


Mama Anna dan Ibu Ida keluar dari kamar anak-anak mereka, menuju ruang keluarga.


Sedangkan Bryan, dia melangkah menghampiri istrinya yang sibuk nonton TV bukannya melanjutkan makan.


Bryan mengambil piring yang ada di pangkuan Diana, lalu dia mengarahkan sesendok nasi beserta lautnya ke depan mulut Diana.


"Buka mulut mu sayang"


Diana membuka mulutnya dengan pandangan masih fokus ke TV, lalu Bryan menyuapi istrinya.


Perlahan Diana mengunyah makanan di mulutnya dan setelah habis Bryan kembali menyuapinya.


Setelah beberapa kali suapan nasi dan lauk di piring itu sudah berpindah ke dalam perut Diana.


Bryan meletakkan piring bekas makan istrinya di meja, lalu dia mengambil air kemasan yang selalu tersedia di meja itu.


.


.


.