
Pukul 18.30 wib, saat ini ibu Ida di bantu Diana, Ross dan Ayla tengah menyiapkan Hidangan untuk makan malam.
Ke empat tamu mereka juga akan ikut makan malam, tadinya ibu Ida meminta mereka untuk menginap karena hari sudah mulai malam.
Namun mereka menolak dengan halus dan akan pulang setelah makan malam.
Evan ayah Diana sampai saat ini tidak juga kunjung keluar dari kamarnya, setelah pembicaraannya dengan Bryan tadi sore.
Entah apa yang mereka bicarakan, tapi tadi setelah pembicaraan itu dia masuk ke kamarnya sambil membanting pintu cukup keras.
Bryan yang kembali ke ruang tamu di tanya pun tidak menjawab, dia hanya diam dan tersenyum saja.
30 menit kemudian semua hidangan sudah ada di meja makan, semua orang juga sudah berkumpul hanya kurang Evan saja.
"Nak kamu tolong panggilkan ayah mu ya" ucap ibu Ida pada Ayla
"Baik Bu" jawab Ayla
Ayla berjalan ke arah kamar ayah dan ibunya
Tok tok
"Yah waktunya makan malam" panggil Ayla
Tok tok
"Ayah.."
"Kalian makan saja, ayah masih kenyang" ucap Evan dari dalam sana
"Tapi..."
"Kalian makanlah lebih dulu" sahut Evan dari dalam sana
"Baik" Ayla kembali ke meja makan
"Bagaimana?" Tanya ibu Ida
"Ayah bilang masih kenyang Bu" ucap Ayla
"Tck ayah ini kebiasaan deh" Diana bangun dari kursinya dan berjalan ke kamar ayahnya
Tok tok tok tok
"Ayah waktunya makan" panggil Diana
"....." tidak terdengar sahutan dari dalam kamar
"Ayah jangan buat Di kesal yah!" Tok tok
"....."
Semua yang ada di meja makan tercengang kecuali ibu Ida dan Ayla karena mereka sudah biasa melihat hal ini, mereka tidak menyangka Diana akan seberani itu pada ayahnya.
Mereka dapat melihat dari meja makan saat Diana menggedor pintu kamar ayahnya.
Tok tok
"Ayah!!"
Diana yang sudah kesal karena ayahnya tidak menyahut juga lantas memutar gagang pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Ternyata tidak di kunci tahu gitu udah aku buka dari tadi" gerutu Diana dia masuk ke kamar itu
️"Waktunya makan yah" ucap Diana sambil melipat kedua tangannya di dada
"Ayah tidak lapar" ucap Evan
"Bohong"
"Sungguh ayah tidak lapar"
Krukkk suara perut sang ayah terdengar
"Yakin tidak lapar?" tanya Diana sambil tersenyum mengejek
"Ya" jawab Evan
Krukkk suara perutnya kembali terdengar
"Dasar, ayo makan Di udah capek-capek masak tahu"
"Hah....." Evan menghela nafas melihat keras kepala putrinya yang sangat mirip dengannya
"Yah, Di tahu ayah pasti canggung berhadapan dengan mereka tapi bagaimanapun mereka tamu-tamu ayah terlepas apa yang sudah terjadi tadi sore" ucap Diana lembut
"Iya ayah tahu"
"Nah kalau sudah tahu ayo kita makan malam" Diana menarik lengan ayahnya agar cepat beranjak dari tempatnya
"Ayo yah cepat, udah punya anak gede masih aja pake acara ngambek" gerutu Diana yang masih terdengar jelas oleh ayahnya
"Iya iya sabar"
Ayah dan anak itu keluar dari sana menuju meja makan.
"Duduklah yah" Diana menarik ayahnya agar duduk di tempat biasanya, lalu dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi juga lauk pauk kesukaan ayah nya
"Ini untuk ayah"
"Terima kasih sayang" ucap Evan sambil mengusap pucuk kepala putrinya
"Sama-sama" jawab Diana sambil tersenyum
Senyumannya membuat seseorang yang sejak tadi menatapnya semakin terpesona.
"Ehmm silahkan di nikmati" ucap Evan pada yang lain
"Iya" jawab Heru
"Berikan piring ibu, biar Di ambilkan" Ucap Diana
"Jangan menolak Bu"
"Baiklah, ini"
Diana mengambilkan nasi beserta lauk kesukaan ibunya, dia sangat hafal apa yang di sukai dan tidak di sukai keluarganya
"Ini Bu"
"Terima kasih"
"Sama-sama, Oh ya Bu nenek dan paman kemana?" tanya Diana
"Nenek sama paman mu ke rumah paman Iksan" jawab ibu Ida
"Ohh"
"Kak punya ku kok gak di ambilin" ucap Ayla sambil mengangkat piringnya
"Untuk kamu ambil sendiri" ucap Diana lalu dia duduk di kursinya tepat berhadapan dengan Bryan
"Ih pelit banget"
"Sudah-sudah cepat makan" ucap Evan
"Baik"
Mereka mulai menyantap hidangan itu dengan tenang.
"Hana ayo Oma suapi" ucap mama Bryan pada cucunya
"Cidak mau Hana mau di cuapi Mommy" tolak Hana
"Biar Daddy yang suapi ya sayang" ucap Bryan yang duduk di sebelah kiri putrinya
"Emmm" Hana menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya
"Bryan kamu makanlah dulu biar mama yang urus Hana" ucap mama Anna
"Baik ma" jawab Bryan
"Ayo sayang Oma suapi ya.... ini ayam goreng kesukaan Hana loh" rayu Anna
"Cidak mau Hana maunya di cuapi Mommy"
Diana mulai mempercepat makannya agar segera bisa menyuapi Hana.
"Pelan-pelan makannya" ucap ibu Ida
"Iya maaf Bu"
"Ayo Hana cucu Oma kan anak baik" Anna masih mencoba merayu cucunya
"Emmmm" Hana menggeleng
Ayah Evan mengunyah makanannya sambil menatap pada Hana kemudian pada Diana dan Bryan, lalu dia menelan makanannya dan berucap.
"Bryan, Diana sebaiknya kalian cepatlah menikah" ucap Evan santai setelah itu dia melahap kembali makanannya.
"Uhukkk uhukkk"
Kedua orang yang tengah mengunyah makanannya itu seketika tersedak secara bersamaan karena terkejut dengan apa yang di ucapkan Evan.
Ross memberikan air minum pada temannya itu, sedangkan Bryan langsung mengambil air nya sendiri yang berada di samping piringnya.
"Uhukk ayah nih kira-kira napa kalau bicara" ucap Diana pada ayahnya
"Loh kenapa? Ayah kan hanya ngomong itu" ucap Evan
"Iya tahu tapi setidaknya tunggu aku selesai menelan makanan ku" keluh Diana
"Ha ha ha sengaja" Evan mengejek putrinya itu
"Ayah!!" teriak Diana kesal
"Mas kamu ini suka banget jahilin anak sendiri" tegur Ibu Ida
"Iya maaf maaf ayah tidak sengaja" ucap Evan
"Dasar sudah tua jelek lagi" gerutu Diana
"Hus gak boleh gitu, gak sopan" tegur ibu Ida pada putrinya
"Habis ayah tuh ngeselin, bu" tuding Diana
"Hei siapa bilang ayah jelek dulu ayah itu tampan mirip Artis Korea kesukaan mu itu sekarang pun masih tetap tampan, kalau gak percaya tanya aja calon mertua mu itu" ucap Evan sambil menunjuk Heru
"Uhukk uhukk" kali ini Evan sukses membuat temannya itu tersedak, Anna langsung memberikan air minum pada suaminya
"Di gak percaya" ucap Diana setelah melirik ke arah Heru
"Ya sudah kalau gak percaya" ucap Evan
"Van, kamu serius dengan ucapan mu itu?" tanya Heru
"Tentu saja kan kamu tahu sendiri dulu aku sangat tampan" jawab Evan
Plakk
"Lah bukan yang itu maksud ku" Heru memukul lengan temannya itu
"Lalu yang mana?" tanya Evan
.
.
.