
"Will you marry me?" tanya Bryan sekali lagi
Diana mengangguk dan berkata "Yes, i will marry you Kak Bryan"
.
.
.
Bryan tersenyum kemudian berdiri untuk memasang cincin yang dia pegang, Bryan memasang cincin di jari manis tangan kiri Diana.
Dia menggenggam kedua telapak tangan Diana kemudian mengecup kedua punggung tangannya.
"Terima kasih sayang"
"Agggrrhhhh kak Bryan" Diana tiba-tiba berteriak karena Bryan mengangkat tubuhnya sambil berputar-putar
"Kak hentikan aku pusing" keluh Diana
Mendengar keluhan Diana Bryan berhenti lalu menurunkan tubuh Diana
"Terima kasih sayang" Bryan memeluk Diana sangat erat
"Sama-sama kak kalaupun aku menolak lamaran kakak barusan, kita juga akan tetap menikah satu minggu lagi" ucap Diana sambil tersenyum
"Iya aku tahu, tapi sayang bisakah kamu tidak merusak suasana romantis ini dengan mengatakan hal itu"
"Ha ha ha maaf, tapi kan kakak yang bilang begitu duluan tadi"
"Oh iya benar" ucap Bryan sambil tersenyum
***
Saat ini mereka berdua tengah berada di depan api unggun yang sudah di siapkan oleh Bryan lebih tepatnya asisten dan anak buahnya lah yang menyiapkan atas perintah Bryan.
Disana juga terdapat sebuah tenda yang sudah berdiri kokoh dan alas untuk tepat mereka duduk dan juga beberapa dekorasi piknik yang sangat indah
Bryan menyiapkan tempat yang sangat romantis, untuk mereka berdua.
"Kak Bryan menyiapkan ini semua sendirian?" tanya Diana
"Tidak, kakak di bantu asisten kakak dan anak buah kakak"
"Oh"
"Kenapa kamu tidak suka ya?" tanya Bryan
"Enggak kok bukan begitu, maksud aku kalau kakak sendiri yang siapkan kapan yang siapkan begitu"
"Oh kakak kira kamu gak suka"
"Suka kok, tempatnya bagus" Diana tersenyum ke arah Bryan
"Duduklah"
Mereka berdua duduk berdampingan
"Tempat ini milik almarhum kakek, tepatnya ayahnya papa" ucap Bryan
"Ohh" Diana mengangguk-anggukkan kepalanya
"Dulu waktu melamar nenek, kakek melakukannya di sini begitu pula papa.
Papa dulu melamar mama juga di sini"
"Wahh..., lalu dulu saat melamar mantan istri kakak juga di sini?"
Bryan tersenyum sambil menatap Diana " tidak"
"Kenapa?" tanya Diana
"Dulu dia ingin dilamar di paris"
"Lalu kakak melamarnya di sana?"
"Iya"
"Begitu rupanya"
"Sayang.. " panggil Bryan
"Hmm?"
"Apa kamu kecewa kakak melamar mu disini?"
Diana tersenyum pada Bryan "untuk apa kecewa? Aku sangat senang kakak melamar ku di sini, tapi yang aku gak suka karena kakak menakuti ku tadi"
"Ke ke ke maaf sayang, tapi asal kamu tahu kakek dan papa dulu melakukan itu saat melamar nenek dan mama"
"Benarkah?" tanya Diana tidak percaya
"Iya benar, kamu tahu"
"Apa?"
"Kakak mengikuti cara yang di lakukan kakek dan papa dan juga di tempat yang sama karena kakak ingin seperti mereka"
"Pernikahan mereka langgeng sampai bertahun-tahun"
"Pernikahan kakek dan nenek juga langgeng sampai salah satu dari mereka di panggil yang maha kuasa"
"Kakak juga ingin pernikahan kita langgeng sampai kita tua nanti, kakak ingin kita menua bersama sampai maut memisahkan kita saat sudah sangat tua nantinya"
"Kakak ingin pernikahan kita ini adalah pernikahan terakhir kakak, kakak tidak ingin gagal dalam berumah tangga lagi"
"Aku juga kak, aku ingin ini menjadi pernikahan pertama ku dan juga yang terakhir, mari kita menua bersama sampai maut memisahkan di usia yang sudah sangattttt tua"
"Tentu sayang tentu" Bryan memeluk Diana
"Janji?" tanya Diana sambil mengangkat jari kelingkingnya
"Janji" Bryan meraih jari kelingking Diana dengan jari kelingkingnya
"Tapi kak"
"Kenapa?"
"Umur kita terpaut 7 tahun, benar kan?"
"Benar, lalu?"
"Ha ha ha mana ada 7 tahun itu selisih yang sedikit jadi di saat kakak sudah tua kamu pun pasti sudah tua juga"
"Enak saja, 7 tahun itu banyak tahu mungkin nanti kalau aku punya satu uban di rambut ku saat itu rambut kakak sudah putih semua"
"Hei kamu bilang kakak sangat tua gitu?" Bryan melepas pelukannya lalu menatap tajam Diana
"Kan emang tua ke ke ke" jawab Diana sambil terkekeh
"Oh mulai berani nih? Kakak hukum nih"
"Ha ha ha"
"Nakal ya, rasakan ini" Bryan mengelitiki pinggang Diana
"Ha ha ha ampun kak geli"
"Ini pembalasan kakak"
"Ha ha ha berhenti geli"
"Tidak mau"
"Ha ha ha aduh kak ha ha ha hentikan geli sekali" Diana berguling-guling di atas alas yang mereka tempati
"Kakak gak bakalan berhenti"
"Ampun Aku janji gak bakalan bilang kakak tua lagi ha ha ha ampun kak"
"No no kakak sudah terlanjur kesal jadi rasakan ha ha ha"
"Kak ampun Di mau pipis kalau kakak gelitik terus"
"Gak papa biar ngompol nanti kakak kasih tahu Hana kalau Mommy nya ngompol"
"Argghhh!!! Kak hentikan" Diana berteriak kencang
"Sayang jangan teriak nanti kita di sangka ngapain"
"Makanya kakak berhenti"
"Gak mau habis seru"
"Kakak!!!"
"Suttt sayang di sini banyak orang" ucap Bryan dia menghentikan gelitikannya
"Hah.. hah..." nafas Diana tersenggal-senggal
"Di mana? Aku gak liat siapa-siapa"
"Memang kamu gak bisa lihat tapi mereka bisa lihat kita"
Diana ketakutan mendengar ucapan Bryan, dia mendekat ke tubuh Bryan karena takut
"Kak di sini banyak hantunya ya?" tanya Diana ketakutan
"Hantu? bukan itu maksud kakak"
"Lalu?"
"Di sekitar sini ada banyak bodyguard kakak, bukan hantu"
"Bodyguard?"
"Iya"
"Jadi dari tadi mereka melihat kita?"
"Tidak, sudah kakak suruh membelakangi kita"
"Apa sejak awal mereka sudah ada di sini?"
"Iya"
"Jadi saat kakak ninggalin aku sendirian sebenarnya aku itu gak sendirian?"
"Hmm karena kakak masih ada di sekitar mu dan sembunyi begitu pula para bodyguard kakak"
"Wah kakak ternyata jahat banget ya, padahal aku sudah ketakutan karena aku kira cuma aku saja yang ada di sini"
"Maaf sayang namanya juga kejutan"
"Kak Bryan!"
Diana menyerang Bryan yang sedang lengah, dia mendorong tubuh Bryan agar terlentang lalu dia naik ke atas tubuh Bryan dan balik mengelitikinya
"Rasakan ini"
"Arghh geli sayang"
"Ini yang aku rasakan barusan saat kakak mengelitiki ku"
"Ha ha ha geli hentikan"
"Tidak mau"
"Ha ha aduh hentikan sayang kakak tidak kuat kalau di gelitik"
"Sama aku juga gak tahan kalau si gelitik tapi kak Bryan tidak mendengarkan aku jadi rasakan balas dendam ku"
"Ha ha ha Ampun ampun"
"Gak mau wekk"
"Ish nakal"
"Arggghh ha ha kak Bryan curang"
Karena Diana tidak berhenti mengelitikinya Bryan justru mengelitiki balik tubuh Diana yang ada di atas tubuhnya itu.
"Oke oke ampun kak aku berhenti nih" Diana mengangkat kedua tangannya tanda menyerah
Bryan menghentikan tangannya juga, namun kedua tangannya berada di pinggang Diana
.
.
.