Mr. Bryan

Mr. Bryan
Masa Lalu Bryan (Part IV)



Malam harinya Bryan kembali ke rumah sakit, setelah tadi selesai memberikan sampel darahnya untuk di cocokkan dengan bayinya Bryan meninggalkan rumah sakit menuju tempat di mana sampah yang sudah di bawa Rendy berada.


Bryan memberikan pelajaran yang sangat berat pada manusia sampah itu sampai malam hari.


Dan sekarang Bryan sudah berjalan di koridor rumah sakit menuju tempat dokter yang membantunya melakukan tes DNA.


Tes DNA yang biasanya memakan waktu 1-2 hari hanya memakan waktu beberapa jam saja, karena ini mendesak Bryan memaksa dokter kenalannya itu agar hasilnya bisa dia dapat dalam waktu beberapa jam saja.


Tok tok


"Masuk" sahut seorang wanita di dalam ruangan


"Bagaimana hasilnya?" tanya Bryan to the point


"Kau bisa melihatnya sendiri Bryan" ucap seorang dokter wanita yang sepertinya seumuran dengan Bryan


Bryan membuka amplop dari dokter wanita tersebut, lalu mengeluarkan isinya dan membaca hasil tesnya


Di saat Bryan membaca hasil tesnya dokter wanita bernama Tina itu berkata "Dia putri kandung mu Bryan"


"Ya aku tahu itu" ucap Bryan


"Lalu kenapa kamu melakukan tes DNA?" tanya dokter itu


"Terima kasih sudah membantu ku, aku pergi dulu" ucap Bryan, dia tidak mau menjawab pertanyaan dari temannya dan langsung pergi dari ruangan itu


"Hah.... " Dokter tina menghela nafas panjang


Di tempat lain, saat ini Bryan melangkah dengan terburu-buru menuju ruang rawat di mana Cika berada


Brakk


Bryan membuka pintu ruang inap VVIP itu dengan sekali dobrakan


"Astagfirullah, Bryan kamu mau buat mama jantungan?" ucap mama Anna pelan


Dia yang tengah melihat cucu barunya yang berada di box bayi sangat terkejut mendengar Bryan yang mendorong pintu dengan keras beruntung bayi mungil itu tidak terbangun.


Bryan tak mengubris ucapan mamanya dia melangkah ke hadapan Cika yang sibuk makan buah yang di kupaskan bik Arum.


"Cika Hermawan hari ini aku Bryan Adams menalak mu, hubungan kita sampai di sini! kamu sudah bukan lagi istri ku, dan aku akan membawa bayi ku Kita bertemu di pengadilan" ucap Bryan tiba-tiba.


"Bryan apa-apaan kamu itu?!" Ucap mama Anna terkejut di bahkan sampai berdiri dari duduknya


"Ada apa dengan mu Bryan?" Tanya papa Heru keheranan melihat kelakuan putranya


"Sepertinya papa dan mama belum mendengar yang di katakan Bryan, aku menalak Cika"


Cika mulai mengeluarkan air mata buayanya


"Bryan, kenapa kamu melakukan ini? Apa salah ku kenapa kau menceraikan ku?" ucap Cika sambil menangis


Cika berpikir Bryan tidak akan sampai setega itu membuka aibnya di hadapan papa dan mamanya, karena itu dengan percaya dirinya Cika mulai bersandiwara seolah-olah dia tidak mendapatkan keadilan.


"Bryan, selama ini aku sudah menjadi istri yang baik aku juga memberikan putri untuk mu hiks hiks aku baru saja melahirkan Bryan, bahkan perut ku masih sakit karena bekas operasinya, kenapa kau tega sekali Bryan?"


Bryan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Cika


"Ha ha ha ha Tega? Aku tega? Lebih tega mana kau yang berhubungan badan dengan pria lain saat mengandung bayi ku?! Bahkan di kamar kita Cika! Kamar kita ! Lebih tega mana menurut mu! Aku yakin ini bukan yang pertama kalinya!"


Ucapan Bryan membuat papa dan mamanya syok, bahkan mama Anna hampir saja jatuh karena terkejut, beruntung papa Heru segera menangkap tubuh istrinya itu.


"Astagfirullah, apa itu benar Bryan?" Tanya mama Anna


"Benar ma bahkan aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri" ucap Bryan


Cika lagi-lagi terkejut ternyata Bryan tega membuka aibnya di hadapan mama dan papanya.


Mama Anna yang saat ini di kuasai amarah menghampiri Cika lalu menamparnya.


Suara tamparan mama Anna menggema di ruangan itu karena saking kerasnya, mama Anna yang biasanya selalu lemah lembut pada semua orang kini seketika berubah menjadi orang lain.


"Tega sekali kau Cika!!" teriak mama Anna


"Apa-apaan ini?!" ucap seorang pria paruh baya yang melihat kejadian itu.


"Papa hiks.. " Cika bagaikan mendapat angin segar melihat papa dan mamanya yang sudah sampai di sana


Papa dan mama Cika menghampiri putri satu-satunya itu, mama Cika langsung mendekap tubuh putrinya sedangkan sang papa tengah menghadapi keluarga suami putrinya.


"Kenapa anda menampar menantu anda nyonya Adams?" tanya papa Cika geram


"Dia bukan lagi menantu ku!" ucap mama Anna tak kalah geram


"Apa begini balasan anda saat putri saya yang sudah memberikan anda cucu?!" papa Cika mulai menaikkan suaranya


"Turunkan nada suara anda tuan Hermawan!!" sentak papa Heru


"Dan kau Bryan, seharusnya kamu melindungi istri mu bukannya hanya menonton istri mu di pukuli"


"Bukankah sudah jelas mama saya mengatakan dia bukan menantunya lagi, karena saya baru saja menjatuhkan talak padanya" sahut Bryan


"Apa?!!" teriak mama Cika terkejut


"Wah lihat apa memang begini rasa terima kasih kalian pada putri saya? Dia sudah bersusah payah memberikan anak untuk kalian" ucap papa Cika sambil menunjuk ke arah putrinya yang masih menangis


"Seharusnya anda bertanya terlebih dahulu apa yang di lakukan putri anda baru menghakimi kami" ucap papa Heru


"Memangnya apa yang sudah di perbuat putri saya sampai harus mendapat tamparan dari ibu mertuanya?" tanya papa Cika


"Katakan Cika apa yang sebenarnya kamu perbuat!" ucap papa Cika pada putrinya


"Tidak pa hiks hiks aku tidak melakukan apapun pa" elak Cika


"Sebaiknya anda melihat ini tuan" ucap Rendy yang tiba-tiba muncul di sana


Dia menyodorkan ponsel yang berisi bukti-bukti yang di dapat dari ponsel kekasih gelap Cika.


Papa Cika mengambil ponsel yang di sodorkan Rendy, dan setelah melihat itu betapa terkejutnya dia.


Papa Cika bahkan tidak sanggup melihat itu sampai selesai


"Ini pasti di rekayasa, benarkan? Bryan jika kau sudah bosan pada putri ku tidak perlu sampai melakukan itu" ucap papa Cika mencoba tidak percaya apa yang baru saja dia lihat


"Jika anda butuh bukti lain saya masih mempunyai banyak bukti, tuan" ucap Rendy sambil memutar video lain yang dia dapatkan dari CCTV yang berada di mansion


Papa Cika hanya melirik sebentar, lalu setelah itu dia langsung memejamkan matanya.


Saat ini dia merasa sangat di permalukan oleh putrinya itu, papa Cika melangkah ke arah putrinya dan berhenti tepat di hadapan putrinya


"Pa.. " panggil Cika dengan gelimang air mata


"Katakan Cika apa itu benar?" tanya papa Cika mencoba bersabar


"Pa itu tidak benar pa, mereka memfitnah ku karena aku tidak bisa memberikan seorang putra untuk mereka" ucap Cika sambil menyentuh lengan papanya


"Sejak kapan kami mempersalahkan putra atau putri!" sentak mama Anna


"Pa...percayalah pada ku pa aku tidak melakukan itu... Pa mere..... "


PLAKKK....!!!!!


.


.


.