
"Apakah sangat sakit ?" bisik Bryan sambil menggigiti daun telinga Diana
Diana tidak menjawab dia hanya mengangguk di pelukan Bryan.
.
.
.
"Kalau begitu kakak tidak akan bergerak dulu" bisik Bryan
Bryan mendiamkan beberapa menit miliknya di dalam sana
"Kak.. " panggil Diana
"Ya? "
"Bergeraklah" ucap Diana
"Sudah mendingan? " tanya Bryan
"Iya"
"Baiklah"
Bryan tak bisa lagi menahan diri karena sejak tadi milik istrinya itu sudah *******-***** miliknya, sehingga Bryan harus segera bergerak .
Bryan prolog
Dia memegang kedua bahuku, sampai desis kesakitannya berubah jadi desa han dengan napas memburu .
"Kak Bryan...." jeritnya ini sudah pasti baru pertama kali dia rasakan tentu saja dia akan terkejut dengan perasaan dan rasa yang seperti surga dunia ini.
"Sayang..." bisik ku dengan napas memburu
Aku mempercepat gerakan ku sehingga dia benar-benar menjerit menyerukan nama ku dan beberapa saat kemudian aku tergolek lemah di sampingnya.
Prolog Bryan end
Diana memejamkan mata berusaha mengatur napasnya, Bryan memiringkan tubuhnya ke arah istrinya dia meraih tubuhnya dan membawa istrinya ke pelukannya.
Diana membenamkan wajahnya di dada Bryan, napasnya sudah mulai teratur dan Bryan penasaran apa yang di rasakan istrinya itu.
Bryan tahu dia juga menikmatinya, tapi tetap saja Bryan ingin tahu apa yang ada di dalam hati istrinya.
"Bagaimana perasaan mu sayang?" bisik Bryan di pucuk kepalanya
Bukannya menjawab Diana malah semakin menyembunyikan wajahnya di dada Bryan
Bryan terkekeh melihat tingkah malu-malu yang di tunjukkan sang istri
"Imut banget sih, malu ya..." ucap Bryan menggoda Diana
"Kakak...." rengek Diana
"Bagaimana perasaan mu?" tanya Bryan lagi
"Baik" bisik Diana pelan dengan suara seperti sudah mengantuk
"Bagaimana malam pertama ini menurutmu?" tanya Bryan dengan nada menggoda
Diana diam dan tak lama kemudian Bryan mendengarkan dengkuran kecil dari bibir istrinya yang sedikit terbuka
Bryan menatap pada wajah istrinya
"Ternyata sudah tidur" gumam Bryan, dia mengusap lembut bibir istrinya
"Bibir yang sudah sepenuhnya menjadi milik ku ini ah tidak bukan hanya bibirnya tetapi seluruh tubuhnya sudah utuh jadi milik ku sekarang" gumam Bryan
Bryan mengecup bibir itu perlahan dan segera melepaskannya karena tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
"Aku benar-benar sudah membuatnya kelelahan padahal cuma 1 ronde" ucap Bryan pelan
"Aku harus membiarkan dia tertidur lelap sampai pagi, siapa tahu besok dia mau lagi" pikir Bryan
Bryan memeluk erat tubuh istrinya lalu dia ikut memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia juga terlelap.
Keesokan harinya
Diana mulai menggeliatkan tubuhnya, lehernya terasa sangat sakit karena tidur berbantalkan lengan kekar suaminya begitu juga dengan tubuhnya yang terasa sakit.
"Aww leher ku" keluh Diana sambil menyentuh lehernya
"Ternyata yang ada di drakor semuanya tidak benar" gerutu Diana
Biasanya jika di drakor saat si perempuan tidur berbantalkan lengan si pria maka saat bangun si perempuan akan tersenyum lalu memandang wajah kekasihnya dan tidak merasakan nyeri leher.
Bryan yang sebenarnya sudah bangun lebih dulu memilih pura-pura tidur saat melihat Diana sudah mulai terbangun.
Bryan ingin sekali tertawa mendengar gerutuan istrinya tapi dia memilih tertawa dalam hati karena sedang dalam mode pura-pura tidur.
Bryan membenarkan ucapan istrinya itu, karena memang pada kenyataannya tidur dengan posisi seperti itu tidak seindah di drakor-drakor.
Jadi sejak bangun dia hanya diam dan memandangi wajah istrinya yang sedang tidur lelap di dekapannya.
Diana menurunkan kepalanya dari lengan Bryan, dia masih tiduran di samping suaminya dan memandangi wajah rupawan suaminya.
"Kenapa kak Bryan sangat tampan? aku sungguh masih tidak percaya ada manusia setampan dia" ucap Diana pelan
"Dan aku masih tidak percaya bahwa kak Bryan suami ku" gumam Diana
"Tidak tidak Diana, dia sudah jadi suami mu jadi kamu harus percaya sekarang dia milik mu" ucap Diana menyadarkan dirinya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya
"Benar kak Bryan milik ku jadi tidak ada yang boleh merebutnya dari ku" ucap Diana mulai posesif, dia melingkarkan tangannya di pinggang Bryan dan memeluknya dari samping.
Alangkah senangnya Bryan saat mendengar ucapan istrinya dan juga mendapat pelukan dari istrinya.
Tangan Bryan yang sejak tadi masih berada di pinggang istrinya semakin mendekap erat tubuh istrinya itu, membuat Diana terkejut.
"Kakak bangun?" tanya Diana
Bryan hanya menganggukkan kepalanya dan menarik tubuh Diana semakin dekat
"Se...sejak kapan?" tanya Diana gugup, dia akan sangat malu jika Bryan mendengar semua ucapannya barusan
"Baru saja" sahut Bryan dengan suara yang agak serak
"Apa kakak mendengar ucapan ku?" tanya Diana
"Dengar, tapi cuma sedikit" ucap Bryan masih memejamkan matanya dan memeluk tubuh istrinya
"Dari yang mana?" tanya Diana
"Dari saat kamu bilang 'aww leher ku' dari situ kakak dengarnya" ucap Bryan sambil menatap Diana dan tersenyum padanya
"Ihhh itu mah denger semua bukan sedikit" keluh Diana
"Ke ke ke ohhh jadi denger semua ya..?" goda Bryan
"Kak Bryan mah gitu..." Rengek Diana dan semakin menyembunyikan wajahnya di dekapan Bryan
"Ke ke ke, oh iya kakak juga denger kalau kakak punya mu dan tidak ada yang boleh merebut kakak dari mu, benar kan?" Bryan semakin menggoda istrinya
"Stop kak, aku malu nih"
"Ha ha ha mana coba yang malu, sini tunjukkan ke kakak" Bryan menoel-noel pipi Diana
"Ihhh kakak...." rengek Diana sambil menggerakkan tubuhnya
"Awww... Sayang jangan gerak-gerak terus" ucap Bryan karena gerakan tubuh Diana tidak sengaja menyenggol sesuatu
"Kenapa?" tanya Diana sambil menatap wajah suaminya
"Bahaya ada yang bangun" ucap Bryan sambil tersenyum nakal
Diana melotot mendengar ucapan Bryan
"Kayaknya sudah terlambat sayang, dia sudah bangun" ucap Bryan menakut-nakuti Diana
Diana menggeser tubuhnya untuk menjauhi Bryan saat mendengar ucapan Bryan dan juga merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya.
"Kak Bryan tetap di tempat kakak" peringat Diana pada Bryan yang mulai mendekatinya lagi
Bryan tersenyum nakal "Kenapa? Sini sayang jangan takut"
Diana menggeleng "Tidak, tidak mau kakak menakutkan"
"Menakutkan bagaimana? Kamu bilang kakak tampan"
"Ya kakak memang tampan dan bukan wajah kakak yang menakutkan tapi di bawah sana yang menakutkan"
"Ha ha ha tidak perlu takut sayang, tadi malam kan sudah coba"
"Tidak tidak tidak lagi" ucap Diana menggeleng dan terus mundur ke belakang
"Kenapa sayang kan enak" Ucap Bryan sambil menaik-turunkan alisnya
"Tidak kak, aku masih sakit loh"
"Pelan-pelan aja, ya...." rayu Bryan
"Tid.... Aaaa"
"Hati-hati" teriak Bryan
"Hurrfff.... Hampir saja" ucap Bryan bernafas lega
Diana hampir saja jatuh dari ranjang, beruntung dengan sigap Bryan menangkap tubuh istrinya.
.
.
.