
Cup
.
.
.
Bryan bangun dan mencium pipi Diana sekilas kemudian dia kembali tiduran di pangkuan Diana.
Diana yang mendapat serangan mendadak membulatkan matanya terkejut
"Kakak!"
"He he jangan marah sayang, cuma nyicil" ucap Bryan cengengesan
"Nyicil nyicil memang nya aku panci?" ucap Diana tambah kesal
"Tentu saja kamu bukan panci sayang, sudah jangan ngambek lagi kakak mau tidur" dia mencari posisi yang nyaman di atas pangkuan Diana
"Kak, jangan tidur di sini sana masuk ke kamar" suruh Diana
"Temenin ya?" goda Bryan
"Ayo aja tapi kakak siap-siap di gorok sama ayah" ucap Diana menantang Bryan sambil tersenyum mengejek
"Gak jadi, aku tidur di sini saja" ucap Bryan
"Kenapa gak jadi tadi mau di temenin?" ejek Diana
"Sayang aku masih mau hidup panjang biar bisa sama kamu terus apa lagi sambil melakukan hal yang menyenangkan, kalau kakak ke kamar sekarang terus di gorok sama ayah berarti aku cuma semalam doang sama kamu"
"Dih Dasar duda"
"Bentar lagi udah gak duda kok" jawab Bryan
"Kak bangun sana tidur di dalam"
"Gak mau sayang, beberapa hari ini kakak gak bisa tidur jadi biarkan kakak tidur dulu sebentar"
"Siapa suruh gak tidur"
Bryan tidak menanggapi ucapan Diana, dia lebih memilih memejamkan mata.
Diana yang melihat Bryan mengabaikannya pun hanya pasrah pahanya di jadikan bantal.
Detik berganti menit sudah hampir setengah jam mereka berdua berada di posisi yang sama.
Beberapa kali Diana menguap karena mengantuk kakinya juga kesemutan tapi dia tidak membangunkan Bryan.
Diana kasihan jika harus membangunkan Bryan karena dia melihat Bryan yang tidur sangat pulas.
Di pandangnya wajah tampan itu sejak tadi sesekali mengusap lembut rambut calon suaminya.
"Hooaamm" sekali lagi Diana menguap, dia sudah tidak sanggup membuka matanya dan akhirnya tertidur dengan kepala bersandar di sofa.
30 menit kemudian Bryan terbangun dari tidur nyenyak nya, netranya menatap Diana yang sudah tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Bryan tersenyum melihat wajah Diana yang menurutnya sangat imut.
"Gaya tidurnya mirip dengan Hana" gumam Bryan
Bryan bangun dari atas paha Diana dan duduk di sampingnya, di singkirkan nya helai rambut yang menutupi wajah Diana.
"Cantik" ucap Bryan spontan
"Kasihan sayang ku pasti dia pegal"
Bryan mengangkat tubuh Diana dan membawanya masuk ke dalam rumah, dia berpapasan dengan ibu Ida saat akan masuk ke dalam rumah.
"Ibu"
"Baru saja ibu mau panggil kalian ternyata sudah di sini, Diana nya kenapa?"
"Tidak apa-apa bu, dia cuma ketiduran di luar"
"Oh masuklah nak Bryan"
"Panggil Bryan saja bu"
"Baiklah Bryan"
Bryan masuk ke dalam rumah sedangkan ibu Ida sedang menutup pintu dan menguncinya
"Bu Diana mau di baringkan di mana?" tanya Bryan yang masih berdiri di ruang tamu
"Di kamarnya, kamarnya ada di atas ayo ibu tunjukkan"
"Baik bu"
Sesampainya di depan pintu
"Sebentar ya ibu cek dulu ke dalam, karena teman Diana tidur di sini"
"Baik bu"
Ibu Ida masuk ke kamar Diana terlebih dahulu untuk mengecek takutnya Ross sedang ganti pakaian atau sebagainya
"Masuklah Nak"
Bryan masuk ke dalam kamar menuju ke arah ranjang yang sudah ada penghuninya yaitu Ross dan Hana.
Bryan menurunkan Diana dengan sangat hati-hati, ibu Ida yang melihat Bryan sangat berhati-hati terhadap putrinya tersenyum bahagia.
Setelah Bryan membaringkan Diana di kasur dia menyelimuti tubuh Diana
"Terima kasih nak"
"Sama-sama bu, maaf bu malam ini Bryan tidur dimana ya? Saya mau pindahkan Hana karena sepertinya kasur Diana tidak cukup jika Hana tidur di sini"
"Di kamar tamu, kamarnya ada di sebelah kamar Diana mari ibu tunjukkan"
"Baik bu, tunggu sebentar Bryan bawa Hana dulu"
"Iya"
Bryan mengangkat Hana yang tidur di antara Diana dan Ross, setelah berhasil mengangkat Hana Bryan menggendong putrinya itu dan membawanya keluar dari kamar Diana menuju kamar tamu
Ceklek ibu Ida membuka pintu kamar tamu dan mempersilahkan Bryan yang sedang menggendong putrinya agar masuk
"Ini kamarnya nak, baringkan dulu putri mu kasihan dia" ucap ibu Ida
"Baik" Bryan membaringkan putrinya di kasur lalu menyelimuti nya
"Ibu sudah siapkan handuk dan peralatan mandi baru untuk mu dan Hana. Handuknya ada di lemari, peralatan mandinya sudah ibu letakkan di kamar mandi"
"Terima kasih banyak bu, jadi ngerepotin nih" ucap Bryan sungkan
"Tidak repot sama sekali, oh ya di lemari juga ada pakaian ganti milik Maulana putra ibu, masih baru belum pernah di pakai tapi sudah ibu cuci karena biasanya semua baju baru ibu cuci dulu sebelum di pakai" jelas ibu Ida panjang lebar
"Iya bu" ucap Bryan sambil tersenyum
"Ya sudah kamu istirahatlah ibu juga mau istirahat"
"Iya bu sekali lagi terima kasih" ucap Bryan
"Sama-sama, selamat malam"
"Selamat malam bu"
Selepas ibu Ida pergi Bryan menutup pintu kamar, dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
30 menit kemudian Bryan sudah keluar dari kamar mandi, dia sudah nampak segar dia juga sudah berganti pakaian yang nyaman untuk di pakai saat tidur.
Bryan duduk di samping putrinya, dia menatap putrinya sambil mengusap kepalanya lembut
"Sayang sebentar lagi kamu akan punya Mommy seperti yang kamu inginkan selama ini, daddy harap suatu saat nanti ketika kamu sudah besar kamu tetap sayang pada Mommy Diana"
"Mommy Diana sangat sayang pada Hana, dia rela menikah dengan daddy karena kamu sayang"
"Dan jika suatu saat daddy sudah tidak ada di samping kalian daddy harap kamu menjaga Mommy Diana dan calon adik-adik mu kelak"
Bryan mencium kening putrinya cukup lama, kemudian berbisik
"Terima kasih sayang karena sudah mempertemukan daddy dengan Mommy, daddy menyayangi mu"
Setelah mengatakan itu Bryan berbaring di kasur dan masuk ke dalam selimut yang di pakai Hana.
Dia berbaring menatap wajah putrinya yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka persis seperti cara tidur Diana.
"Duh gemesin banget sih" ucap Bryan pelan
"Cika andai saja kamu tidak melakukan itu mungkin saja saat ini kita sedang menikmati masa tumbuh kembang putri kita"
"Kau telah menyia-nyiakan semua yang telah aku lakukan untuk mu, kau juga sudah menyia-nyiakan putri kita" gumam Bryan
Setiap melihat putrinya Bryan selalu mengatakan hal ini, karena di beberapa bagian wajah Hana terdapat kesamaan dengan wajah Cika membuat Bryan selalu ingat tentang Cika.
"Cukup Bryan mulai saat ini kamu harus melupakan Cika, kau tidak boleh mengingatnya saat ini kau sudah mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dari dia" ucap Bryan pada dirinya sendiri
Setelah itu Bryan mulai memejamkan matanya dan tertidur menyusul Hana yang sudah lebih dulu berada di alam mimpi.
.
.
.