
"Kalau begitu ayo bangun dan cuci wajah mu di kamar mandi, mama sudah siapkan makan malam untuk kita"
"Iya kak, dimana kamar mandinya?" tanya Diana
"Di sana" ucap Bryan sambil menunjuk pintu kamar mandi
.
.
.
Setelah selesai cuci wajah Diana dan Bryan keluar menuju meja makan
"Sayang kamu sudah bangun" ucap mama Anna
"Iya ma, maaf aku malah repotin mama siapin makan malam"
"Tidak masalah sayang cuma hangatin aja, ayo duduk"
"Iya ma"
Diana di buat terpukau dengan semua hidangan yang ada di meja makan.
"Banyak sekali makanannya ma"
"Iya, tadi nenek dan mama yang masak" ucap Anna sambil tersenyum
"Nenek?"
"Iya nenek Bryan, ibunya papa"
"Oh.., lalu sekarang dimana nenek ma? Aku mau menyapa nenek"
"Baru saja masuk ke kamar untuk istirahat"
"Oh...."
"Kalau mau ketemu nenek besok masih bisa sayang"
"Baik ma"
"Ayo di makan, mama tinggal dulu"
"Mama tidak makan malam?"
"Tadi kami sudah makan malam sayang, tinggal kamu sama Bryan saja yang belum, silahkan kalau kurang nambah saja tidak pernah sungkan"
"Baiklah ma, terima kasih" ucap Diana sambil tersenyum
"Sama-sama sayang, silahkan di nikmati mama tinggal dulu"
"Iya ma"
"Terima kasih makanannya ma" ucap Bryan
"Emm" jawab mama Anna sambil mengangguk lalu pergi dari ruang makan menuju ruang keluarga untuk menghampiri suaminya
Di ruang makan
"Berikan piring kakak biar aku ambilkan nasinya"
"Thank you baby" ucap Bryan tersenyum sambil memberikan piringnya pada Diana
Diana mengambil piring di tangan Bryan dan mengisinya dengan nasi
"Segini cukup kak?" tanya Diana
"Iya cukup"
"Mau lauk apa?"
"Apapun yang kamu berikan akan kakak makan"
"Sungguh?"
"Em sungguh"
"Oke"
Diana mengambil sambal pedas yang berada di hadapannya lalu menaruhnya di atas piring
"Ini" Diana menyodorkan piring Bryan
"Kok cuma sambal sayang?" tanya Bryan
"Katanya apapun yang aku berikan akan kakak makan"
"Tapi sayang.... " wajah Bryan cemberut
"Aku cuma bercanda, makanya kakak jangan suka gombal" menarik kembali lengannya yang menyodorkan piring lalu mengambil beberapa lauk untuk Bryan
"Kakak gak gombal kok"
"Iya iya gak gombal, terserah kakak deh" ucap Diana mengalah
"Ini"
Kali ini Diana mengembalikan piring Bryan yang sudah lengkap dengan lauk
"Terima kasih"
"Sama-sama"
"Sayang kamu jangan nakal-nakal nanti setelah menikah kakak hukum, mau?" bisik Bryan di telinga Diana penuh ancaman
"Ya sudah aku gak jadi nikah" Diana mengancam balik, tangannya sibuk mengisi piring miliknya
"Eh mana bisa begitu" protes Bryan
"Bisalah, aku tinggal bilang sama ayah dan ibu kalau kakak ngancam aku beres kan"
"Sayang..."
"Makanya kakak jangan macam-macam, memang kakak saja yang bisa ngancam aku juga bisa kali"
"Okay okay dear don't be angry" ucap Bryan
"Siapa yang marah, aku gak marah kok"
"Iya gak marah, ayo di makan" ucap Bryan
"Iya"
Mereka mulai menyantap makanannya, tanpa tahu bahwa sejak tadi ada dua pasang mata yang mengawasi mereka.
"Apa tidak apa-apa mereka berdebat terus?" tanya mama Anna khawatir
"Tidak apa-apa ma, itu tandanya mereka harmonis toh pertengkaran mereka cuma karena hal sepele dan papa lihat mereka hanya bergurau saja"
"Iya pa, tapi mama sedikit khawatir karena biasanya hal-hal yang tidak di inginkan sering kali terjadi sebelum hari pernikahan"
"Iya papa tahu, bahkan ada juga yang membatalkan pernikahan sebelum hari Pernikahan di langsungkan"
"Benar pa, itu yang mama khawatirkan"
"Tidak akan, mama tidak perlu khawatir kita berdoa saja untuk yang terbaik, besok papa akan beritahu Bryan untuk lebih mengalah dan sabar menjelang hari pernikahan"
"Iya pa"
"Lihat ma mereka tertawa bersama, papa yakin Queenza adalah gadis terbaik untuk putra kita dan cucu kita Hana" ucap papa Heru yang melihat Diana dan Bryan tertawa bersama
"Iya pa semoga, ayo pa kita ke kamar" ajak mama Anna setelah mengintip putra dan calon menantunya
"Iya ayo"
Papa Heru dan mama Anna pergi dari sana menuju kamar mereka
Di ruang makan
"Oke" jawab Diana
"Segini?" tanya Diana
"Tambahin dikit lagi" ucap Bryan
Diana menambahkan satu centong nasi lagi.
"Segini?" tanya Diana
"Iya" jawab Bryan
"Ini, kak"
"Thank you"
"Sama-sama"
"Sayang, kamu tambah lagi kalau kurang"
"Aku sudah kenyang kak" ucap Diana dia sudah selesai makan
"Baiklah, kamu bisa ke kamar duluan biar kakak bereskan ini setelah selesai makan"
Diana menggeleng "tidak kak aku tidak mengantuk, aku mau di sini dulu"
"Baiklah, kakak habiskan makanan kakak dulu"
"Iya santai saja tidak perlu buru-buru"
Bryan mengangguk dan mulai makan, sedangkan Diana dia bertopang dagu sambil terus menatap Bryan yang sedang makan.
Bryan sedikit salah tingkah karena Diana terus menatapnya, namun dia pura-pura tidak terpengaruh dengan hal itu.
"Kenapa kakak tampan sekali?" tanya Diana tiba-tiba membuat Bryan yang sedang makan suapan terakhir tersedak
"Uhukkk uhukkk"
Diana langsung mengambilkan air minum untuk Bryan dan memberikannya pada Bryan, Bryan menerima air minum yang di berikan Diana lalu langsung meneguk air itu sampai habis.
"Glek glek"
"Pelan-pelan kak"
"Gelk hah.... " Bryan meletakkan gelas kaca itu di meja
"Kakak baik-baik saja?" tanya Diana
"Iya, kakak baik-baik saja" jawab Bryan
"Kenapa kakak sampai tersedak, makanya hati-hati" omel Diana
"Sayang aku tersedak karena kamu tahu"
"Kok malah aku sih?"
"Coba kamu ingat-ingat apa yang kamu katakan sebelum kakak tersedak"
"Apa?" tanya Diana
"Memangnya aku bilang apa?" tanya Diana lagi
"Kamu tidak ingat?"
Diana menggeleng
"Kamu tadi tanya kenapa kakak tampan sekali "
"Oh cuma itu? Lalu apa salahnya? Aku kan cuma tanya"
"Itu yang bikin kakak tersedak tahu, karena kakak terkejut dengan pertanyaan mu itu"
"Lebay deh kak"
"Sayang...."
"Oke oke maaf, ini salah ku seharusnya aku tidak tanya itu ke kakak harusnya aku tanya kenapa kakak ganteng, gitu?"
"Sama saja sayang"
Diana tersenyum "kakak salting ya aku tanya gitu?" tanya Diana
"Enggak siapa bilang" elak Bryan
"Ayo ngaku aja" goda Diana
"Enggak kakak gak salting, emangnya kakak ABG di tanya begitu langsung salting"
"Ya sudah kalau gak salting, tapi kakak belum jawab pertanyaan ku"
"Yang mana?"
"Kenapa kakak tampan banget?"
Bryan langsung memalingkan wajahmya menatap ke arah lain karena malu
"Dasar, bilangnya gak salting tapi itu telinga kenapa merah?" ucap Diana dalam hati
"Ayo kak jawab"
Bryan menoleh ke arah Diana
"Lalu kenapa kamu cantik?" Bryan bertanya balik
"Lah malah tanya balik"
"Ayo jawab" desak Bryan
"Ya karena aku memang cantik dari lahir" ucap Diana dengan sangat percaya diri
"Percaya diri sekali kamu" ucap Bryan sambil menyentil kening Diana
"Aaawwww" ringis Diana sambil mengusap keningnya yang di sentil Bryan
"Sakit tahu kak" keluh Diana
Bryan tidak menjawab dia hanya tersenyum manis, Bryan berdiri dari tempat ia duduk lalu mulai membereskan meja makan
"Biar aku bantu kak"
"Tidak apa-apa biar kakak saja yang bereskan"
"Tidak aku memaksa"
"Baiklah"
Diana dan Bryan mulai membereskan meja makan, dan mencuci piring bekas mereka makan.
20 menit kemudian semuanya sudah beres.
.
.
.