
Bryan masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan oleh Rendy.
Rendy mulai melajukan mobilnya di ikuti beberapa mobil bodyguard di belakang mereka.
.
.
.
"Ren" panggil Bryan
"Ya tuan?" sahut Rendy
"Menurut mu apa aku bisa bertahan dengan gadis ini?" tanya Bryan sambil mengusap lembut kepala Diana yang berada di pangkuannya.
"Apa tuan ragu dengan pilihan nona kecil dan pilihan anda sendiri?" Rendy malah bertanya balik
"Tidak" jawab Bryan
"Jika tidak baguslah tuan, jadi tuan tinggal mempertahankan nona muda agar tetap bersama anda selamanya"
"Dan tuan bolehkan memberi saran?"
"Katakan" ucap Bryan
"Saran saya, tuan harus lebih perhatian pada istri anda, istri juga butuh perhatian dari suaminya tuan"
"Walaupun wanita mengatakan dirinya baik-baik saja sebenarnya mereka sedang tidak baik-baik saja, jika mereka mengatakan tidak berarti iya begitu pula sebaliknya"
"Dan jika anda tidak ingin kejadian itu terulang lagi maka anda harus memberikan perhatian lebih untuk nona muda nantinya"
"Tapi anda juga jangan sampai melupakan nona kecil, karena jika anda terlalu memperhatikan nona muda dan mengabaikan nona kecil takutnya nanti nona kecil membenci nona muda"
"Rendy" panggil Bryan
"Ya tuan?"
"Apa kamu diam-diam sudah menikah?" tanya Bryan curiga
"Apa maksud tuan? tuan kan tahu sendiri saya belum menikah" jawab Rendy tanpa menoleh karena dia fokus menyetir
"Karena itu lah aku bertanya apa kamu diam-diam menikah tanpa sepengetahuan kami"
"Tidak tuan, saya belum menikah"
"Lalu kenapa kamu seperti sangat tahu tentang keinginan wanita? dan apa yang mereka rasakan" tanya Bryan
"Itu menurut pengamatan saya saja tuan"
"Lalu bagaimana dengan tuan? apa setelah menikah tuan mengerti perasaan mereka?"
"Kenapa kamu selalu bertanya balik pada ku Rendy?"
"Maaf tuan
"Hah sudahlah, dan ternyata hari ini kamu cukup cerewet ya Ren"
"Maaf tuan"
"Tidak masalah, aku lebih suka kamu yang banyak bicara ketimbang kamu yang kaku seperti robot"
"Padahal anda sendiri juga begitu tuan sebelum mengenal nona muda" gerutu Rendy dalam hati
"Kapan kamu menikah Ren?" tanya Bryan
"Saya masih belum berminat tuan"
"Bicaralah yang santai Ren"
"Maaf tuan saya tidak terbiasa bicara santai"
"Ya sudah terserah kamu, kenapa kamu belum berminat untuk menikah?"
"Masih belum ada yang cocok tuan"
"Bagaimana dengan teman calon istri ku, kalau kamu mau aku akan minta Diana untuk mengenalkan mu dengan temannya itu"
"Teman? maksud tuan teman yang bersama nona di mall?"
"Iya dia, aku lihat dia cocok dengan mu, bagaimana?"
"Terima kasih atas tawarannya tuan, tapi saya masih mau fokus membantu anda di perusahaan"
"Kalau kamu tidak cepat menikah kamu keburu tua Ren, lihat aku sudah punya satu anak sedangkan kamu belum punya padahal umur mu lebih tua dari ku"
"Umur saya dan anda hanya terpaut 1 bulan saja tuan"
"Ya karena itulah seharusnya kamu sudah punya anak sama seperti aku"
"Akan saya pikirkan tuan"
"Hemm bagus, kalau kamu menikah papa dan mama akan ikut senang"
"Tuan dan nyonya?" tanya Rendy
"Iya, asal kamu tahu papa dan mama sering bertanya pada ku apakah kamu sudah punya kekasih atau belum, dan kapan akan menikah"
"Bahkan mama dan papa sempat curiga kalau kamu ada kelainan" ucap Bryan sambil tersenyum
"Maksud tuan muda, nyonya dan tuan Heru curiga saya belok begitu?" tanya Rendy memastikan
"Benar"
Rendy tak bisa berkata apa-apa dia sedikit terkejut
"Kamu kan tahu sendiri papa mama sudah menganggap mu seperti putranya sendiri mereka juga khawatir pada mu, jadi segera lah menikah"
"Baik tuan, akan saya pikirkan dulu"
Hening
"Apa masih jauh Ren?" tanya Bryan
"Sekitar 2 jam lagi tuan, anda istirahatlah tuan"
"Baiklah nanti setelah sampai langsung bangunkan saja, kamu berhati-hati lah jika sudah lelah minta bodyguard di belakang untuk menggantikan mu"
"Baik tuan"
Bryan yang sudah sangat mengantuk akhirnya tertidur menyusul Diana yang sudah terlelap lebih dulu sejak tadi.
2 jam kemudian mobil sudah sampai di depan mansion utama, Anna meminta Rendy untuk mengantar Bryan dan Diana ke sana.
Rendy melirik dari Spion tengah lalu menoleh ke belakang untuk membangunkan tuannya
"Tuan" panggil Rendy pelan
"Tuan kita sudah sampai" ucap Rendy masih menoleh ke belakang
"Hmm? oh sudah sampai" Bryan menoleh ke luar
"Iya tuan"
"Tapi ini kan mansion utama kenapa tidak antarkan ke rumah yang Diana tinggali dengan temannya"
"Maaf tuan saya lupa memberi tahu anda tadi, nyonya meminta saya mengantar anda dan nona muda ke mansion" jawab Rendy
"Oh begitu baiklah, Ren tolong bawa tas Diana"
"Baik tuan"
Bryan menurunkan kepala Diana dari pangkuannya dengan sangat hati-hati, lalu dia turun terlebih dahulu dan menggendong Diana masuk ke mansion.
Sesampainya di depan pintu mansion, ternyata mereka sudah di sambut para pelayan yang ada di mansion itu.
"Selamat malam tuan muda" sapa pak An pelan, pak An adalah kepala pelayan yang ada di mansion utama
"Malam pak, tolong katakan pada mereka untuk tidak perlu menyapa dengan keras seperti biasanya karena calon istri ku sedang tidur"
"Baik tuan muda" Jawab pak An sambil tersenyum dan menunduk hormat
Pak An menghampiri para pelayan yang sudah berbaris rapi dan meminta mereka agar tidak perlu menyapa seperti biasanya.
"Silahkan tuan" ucap pak An mempersilahkan Bryan
"Terima kasih" ucap Bryan sambil tersenyum
Bryan berjalan melewati para pelayan yang menunduk Hormat, sebenarnya Bryan tidak menyukai hal seperti ini.
Akan tetapi jika di lakukan penyambutan seperti ini itu berarti sang nenek tengah berada di mansion.
Bryan berjalan masuk dan melewati ruang keluarga, semua yang ada di ruang keluarga menoleh ke arah Bryan yang masuk sambil menggendong Diana.
"Bryan" panggil Heru
Bryan menghentikan langkahnya kemudian menoleh ke arah ruang keluarga
"Ya pa?" jawab Bryan
"Queenza kenapa?" tanya Heru
"Dia tertidur pa kecapean, Bryan tidurkan di kamar dulu setelah itu Bryan turun"
"Baiklah" jawab Heru
Bryan mengangguk, dan hendak melangkah menaiki anak tangga namun seseorang menghentikannya
"Hei anak nakal berhenti!"
Bryan berhenti dan berbalik
"Ada apa nenek ku sayang?" tanya Bryan sambil tersenyum
"Mau kemana Kau anak nakal?"
"Ke Kamar, calon istri ku tidur nek"
"Nenek tahu, tapi kau mau menidurkan colon istri mu itu di kamar mu?"
"Lalu harus aku bawa kemana nek?"
"Urusan uang saja kamu pintar" ucap sang nenek
"Tentu saja nek, kuliah ku kan bisnis" sahut Bryan
"Ibu sudahlah jangan mengajak Bryan berdebat sekarang, biarkan dia menidurkan Queenza dulu" ucap Heru
"Siapa yang mengajaknya berdebat? ibu hanya menghentikan cucu ibu yang kurang pintar saja"
"Hah sudahlah sana Bryan bawa Queenza" Heru mengibaskan tangannya agar Bryan segera pergi dari sana
"Baik pa" berjalan ke arah tangga
"Bryan bawa ke kamar tamu" ucap mama Anna
"Baik ma"
Bryan membawa Diana ke kamar tamu yang berada di lantai 1.
.
.
.