Mr. Bryan

Mr. Bryan
Masa Lalu Bryan (Part III)



Bryan yang pulang dari kantor dengan hati gembira tidak tahu apa yang sedang menunggunya di mansionnya


Sesampainya di mansion


.


.


.


"Loh pintunya kok gak di tutup?"


"Cika" panggil Bryan namun tidak ada sahutan dari sang pemilik nama karena dia sedang sibuk bercocok tanam


"Mungkin tidur, aku ambil berkas dulu saja" ucap Bryan sambil melangkah ke arah ruang kerjanya yang berada di dekat tangga.


Bryan hendak membuka pintu ruang kerjanya namun sebelum berhasil membuka pintu itu Bryan mendengar suara


Suara yang seperti erang an seorang wanita dan samar-samar terdengar juga suara pria dari arah kamarnya.


Bryan perlahan naik ke lantai atas, dia berjalan perlahan agar tidak menimbulkan suara.


Jantungnya berdetak cepat, dia berdoa agar kecurigaannya tidak benar. Sesampainya di depan kamar, Bryan sangat syok.


Pintu kamar mereka terbuka lebar dan terpangpang jelas kegiatan di dalam sana.


Dimana istri tercintanya tengah di hu jam dari bawah oleh seorang pria tak di kenal.


Bryan tidak berpikir bahwa istrinya itu tengah di paksa melakukan itu pasalnya wajah istrinya itu terlihat sangat menikmati permainan itu.


Bryan sangat murka, wajahnya memerah menahan amarah, kedua tangannya terkepal erat bahkan sampai melukai telapak tangannya


"CIKA!!!!"


Kedua orang yang tengah menikmati permainan itu seketika terkejut mendengar teriakan Bryan yang menggema


"Br... Bryan... " ucap Cika tergagap, seketika Cika turun dari atas tubuh pria itu dan menarik selimut menutupi tubuhnya


"Bry.... Bryan a.... Aku bisa jelaskan" ucap Cika ketakutan


Bryan melangkah menghampiri kedua manusia yang tak berpakaian itu.


Tampak si pria tengah duduk bersandar dengan santainya seolah olah hal ini sudah biasa.


Bryan melirik wajah istrinya lalu turun ke arah perutnya, dan seketika Bryan menghajar wajah pria yang berhubungan dengan istrinya


"Bugghh bugghhh BERANI BERANINYA KAU BRENGSEK!!"


"Argghhh " Cika berteriak ketakutan


Pria itu juga menghajar balik Bryan, dan aksi saling memukul itu pun tak bisa terelakkan


Tubuh Bryan yang lebih besar membuatnya menang telak


Bugghh buggghhh, Bryan menghajar pria itu bertubi-tubi


Wajah pria itu sudah sudah bak belur di hajar Bryan, bahkan pria itu juga tidak memiliki tenaga lagi.


"Bryan... Hentikan dia bisa mati" Cika mencoba menghentikan Bryan


"Bryan aku mohon hentikan" ucap Cika sambil menangis


Cika menyentuh lengan Bryan, namun bukannya berhenti Bryan justru mendorong tubuh Cika


"ARRGGHHHH" Cika berteriak kesakitan


"Bryan sakit!!!"


Bryan menghentikan tinjuannya yang hampir saja mengenai wajah pria itu sekali lagi


Bryan menghempaskan tubuh pria itu dan langsung menghampiri Cika


"Cika Cika kau baik-baik saja?!"


"Sakit Bryan, perut ku sakit, hiks"


Bryan menyingkap selimut yang menutupi tubuh cika, dan betapa terkejutnya dia saat melihat banyak darah.


Bryan menyelimuti kembali tubuh Cika dan segera membopongnya, di depan pintu kamar Bryan berpapasan dengan pak Ujang dan bik Arum yang ternyata sudah pulang.


Mereka langsung naik ke lantai atas saat mendengar suara teriakan Cika.


"Apa yang terjadi tuan?" Tanya bik Arum histeris dia juga melirik sekilas ke arah kamar tuannya dan melihat seorang pria yang telan jang dengan wajah yang babak belur


Pak ujang juga melihat apa yang sedang terjadi. Bik Arum dan pak Ujang segera mengikuti tuan mudanya yang tengah menuruni tangga dengan tergesa-gesa


"Siapkan mobil !! " ucap Bryan


"Baik tuan!" Pak Ujang segera berlari ke luar dan menyiapkan mobil


Sesampainya di luar pak Ujang sudah siap dengan mobilnya, dia membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya yang sedang menggendong istrinya yang sedang merintih kesakitan


"Cepat ke rumah sakit!!" teriak Bryan


Bik Arum dan pak Ujang segera masuk ke tempat masing-masing, dan mobil melaju meninggalkan halaman mansion dengan kecepatan tinggi.


15 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.


Suster dan Dokter sudah standby di depan rumah sakit, karena mereka sudah di hubungi oleh bik Arum saat di perjalanan menuju rumah sakit, bahwa istri tuan muda Bryan jatuh dan sepertinya akan melahirkan.


Dokter dan suster segera bertindak saat mobil Bryan tiba di sana.


"PASTIKAN BAYI KU SELAMAT DAN BAIK BAIK SAJA" ucap Bryan dingin


Semua orang yang mendengar ucapan Bryan di buat tercengang, bahkan Cika pun tak kalah terkejut


Pasalnya setau mereka Bryan sangat hangat pada istrinya.


"Baik tuan, saya akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan istri dan bayi anda" ucap Dokter


"Selamatkan dulu bayi ku" ucap Bryan


"Baik tuan" hanya itu yang bisa dokter katakan


Sesampainya di depan ruang operasi, Dokter dan suster masuk ke ruang operasi.


Beberapa menit kemudian seorang suster keluar dari ruang operasi dan meminta tanda tangan persetujuan pihak keluarga dan menyampaikan pesan dari Cika


"Tuan tolong tanda tangan di sini" ucap suster


Bryan mengambil berkas yang di berikan suster lalu menandatangani berkas itu tanpa membacanya, lalu mengembalikannya pada suster.


"Tuan, nona Cika ingin anda masuk dan menemaninya di dalam" ucap suster itu


"Tidak! Aku akan menunggu di sini, dan pastikan bayi ku selamat"


"Baik tuan" suster kembali ke dalam karena tidak dapat berbuat apa-apa, dia sangat ketakutan melihat reaksi Bryan


Bik Arum dan pak Ujang ikut sedih melihat tuan mudanya, mereka mengerti apa yang sedang terjadi walaupun hanya melihat sekilas.


Mereka tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan istri tuan mudanya itu.


"Hah... " Bryan menghela nafas dan menundukkan kepalanya sambil memejamkan mata.


Sesaat kemudian Bryan menoleh ke arah bik Arum dan pak Ujang.


"Bik tolong telpkan papa dan mama" ucap Bryan lemah.


"Sudah tuan muda, tuan dan nyonya sudah di perjalanan"


"Terima kasih bik"


"Sama-sama tuan"


"Saya akan pergi sebentar, bik Arum dan Pak Ujang tolong tunggu di sini dulu" ucap Bryan, saat ini mata pria itu sudah memerah.


"Baik tuan" sahut bik Arum dan Pak Ujang


Bryan melangkah pergi dari sana sambil menyeka sudut matanya, bik Arum dan Pak Ujang menatap kepergian tuan mudanya dengan perasaan sedih.


"Hati tuan muda pasti sangat hancur" ucap pak Ujang pelan


"Kita berdoa saja semoga tuan muda tetap kuat, begitu juga non Cika dan bayinya" ucap bik Arum


"Amin" jawab pak Ujang


Di tempat lain saat ini Bryan tengah menelpon asistennya yaitu Rendy, dia sekarang sudah berada di depan rumah sakit


"Halo tuan?"


"Ren bereskan sampah di mansion" ucap Bryan dengan suara dinginnya


"Mansion?"


"Ya"


"Baik tuan saya akan segera ke sana"


"Hmm, bawa ke tempat biasa dan kirimkan mobil ke rumah sakit"


"Baik tuan"


Bryan menutup panggilannya dan mencari no kontak seseorang lalu menelponnya.


"Halo"


"...."


"Siapkan untuk tes DNA"


"...."


"Untuk bayi yang akan di lahirkan Cika"


"...."


"Hmm, aku akan segera ke sana"


Tuttt tutt


Bryan percaya bahwa bayi itu adalah miliknya, tapi dia akan tetap melakukan tes DNA untuk berjaga-jaga.


Bryan kembali masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke ruangan seseorang yang dia telp barusan.


.


.


.