
Papa dan mama Bryan baru sampai karena tadi saat mendengar kabar Bryan kecelakaan mama Anna pingsan berulang kali, jadi papa Heru harus menunggu istrinya itu siuman terlebih dahulu.
.
.
.
"Mama tenanglah kita harus tenangkan menantu kita, dia terlihat sangat terpukul" ucap papa Heru
Mama Anna melihat ke arah menantunya yang tengah berdiri melamun dan sesekali mengusap air matanya.
Mama Anna yang sudah mulai tenang melangkah menghampiri menantunya, dia menggenggam telapak tangan menantunya.
"Mama? Sejak kapan mama sampai?" tanya Diana dia terkejut karena tidak menyadari bahwa kedua mertuanya sudah berada di sana.
"Baru saja sampai sayang" ucap mama Anna sambil tersenyum
Diana hanya mengangguk dan tersenyum menatap mama mertuanya dan kembali melamun.
Mama Anna tidak tega melihat menantunya itu, dia memeluk menantunya mencoba menenangkannya.
"Tenanglah sayang, semuanya akan baik-baik saja Bryan laki-laki kuat dia akan kembali sehat seperti sedia kala"
"Hiks hiks, Ma Mas Bryan Ma" Diana kembali menangis di pelukan Mama Anna
"Semuanya akan baik-baik saja sayang, tenanglah" ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Diana
"Hiks hiks"
Beberapa saat kemudian tangis Diana berangsur reda
"Maafkan aku ma"
"Tidak apa-apa sayang"
Klek
Lampu di depan ruang operasi padam lalu seorang dokter keluar dari dalam sana.
"Dok bagaimana keadaan putra saya?" tanya papa Heru yang langsung menghampiri dokter
"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar, untuk saat ini tuan Bryan sudah aman"
"Alhamdulillah" seru mereka bernafas lega
"Tapi.. " ucap Dokter
"Tapi apa dok?" tanya papa Heru
"Jika tuan Bryan besok tidak bangun juga kemungkinan beliau akan koma"
"Apa!!"
Semuanya terkejut
"Sebaiknya kalian berdoa agar tuan Bryan segera siuman"
"Tentu dok"
"Apakah kami bisa melihat Bryan, dokter?" tanya papa Heru
"Bisa tuan, setelah tuan Bryan di pindahkan ke ruangannya"
"Baik dok, terima kasih banyak"
"Sama-sama tuan"
Beberapa suster mendorong brankar Bryan keluar dari ruang operasi
"Mas Bryan" Diana berdiri si samping suaminya yang tak sadarkan diri
"Tuan Heru, bisa kita bicara di ruangan saya" ucap Dokter
"Baik dok"
"Ma, papa bicara dengan dokter dulu" ucap papa Heru
"Iya pa"
"Nak, kamu ikutlah bersama mama" ucap papa Heru pada Diana
"Baik pa" jawab Diana
Papa Heru mengusap lembut kepala menantunya itu dan pergi bersama dokter
"Mari dok" ucap papa Heru
"Mari"
Saat ini Bryan sudah berada di kamar VVIP, ruangan itu adalah ruangan yang sama dengan ruangan yang di tempati Hana saat di rawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu.
Karena rumah sakit itu milik keluarga mereka jadi di ruangan itu sudah memiliki alat-alat yang lengkap untuk memantau kondisi Bryan.
Mama Bryan sejak tadi duduk di samping ranjang putranya, sedangkan Diana duduk di sofa bersama bibik.
Diana mengamati ibu anak itu dia membiarkan mama Bryan tetap berada di samping putranya.
Sebenarnya Diana juga ingin berada di samping Bryan, tapi dia mengalah bagaimanapun mama Anna adalah ibu dari suaminya.
Ceklek
Pintu terbuka, papa Heru masuk ke ruangan putranya
"Ma"
"Ada apa pa?" tanya mama dia menoleh pada suaminya
"Ada yang mau papa bicarakan, keluarlah sebentar"
"Baik pa"
"Baik pa"
"Bik, titip anak-anak" ucap papa Heru
"Baik tuan"
Setelah Papa dan mama pergi Diana menghampiri suaminya, dia duduk di kursi yang di tempati mertuanya tadi.
Diana hanya diam saja, dia mengusap telapak tangan suaminya yang tidak terdapat jarum infus
"Mas kenapa kamu sampai seperti ini? Hiks" Diana mulai terisak
"Cepatlah sembuh mas, karena ada berita baik yang harus kamu dengar" Ucap Diana pelan dia meletakkan kepalanya di atas genggaman tangannya pada Bryan
Bik Arum yang melihat kesedihan nonanya jadi ikut sedih, padahal baru tadi sore nonanya itu sangat bahagia karena mendapat kabar baik namun sekarang keadaan berubah drastis.
Diana mengangkat kepalanya menatap Bryan, di sekanya air mata yang membasahi pipinya.
"Bik"
"Iya nona?"
"Bisakah bibik rahasiakan kehamilan ku"
"Kenapa harus di sembunyikan nona?" tanya bik Arum
"Aku ingin mama papa fokus dengan keadaan Mas Bryan dulu bik"
"Tapi nona"
"Aku mohon bik, jika Mereka tahu aku hamil perhatian mereka akan terbagi dan papa mama akan kelelahan itu tidak baik untuk kesehatan mereka bik"
"Baiklah kalau itu keinginan anda nona tapi anda harus berjanji pada saya,anda harus banyak istirahat dan jangan terlalu stres"
"Iya bik aku janji, terima kasih"
Bibik mengangguk
Ceklek
Pintu kamar terbuka mama dan papa masuk, Diana berdiri melihat mertuanya
"Nak"
"Iya pa?"
"Hana di rumah dengan siapa?"
"Hana dengan Lala pa"
"Baguslah, papa tadi hampir saja lupa dengan Hana"
"Tuan tenang saja saya sudah memanggil Lala dan pelayan lain untuk menemani nona kecil, tadinya saya juga hampir lupa dengan nona kecil beruntung nona muda mengingatkan saya"
Papa dan mama tersenyum mendengar penjelasan bik Arum, mereka sangat bersyukur walaupun keadaan sedang genting menantunya itu masih tetap mengingat Hana walaupun Hana bukan darah dagingnya sendiri.
"Terima kasih sayang" ucap mama sambil memeluk Diana
"Mama tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban ku sebagai seorang ibu"
"Iya, Hana beruntung memiliki mu sebagai ibunya" ucap mama Anna sambil memeluk menantunya
"Maaf ma aku meninggalkan Hana di rumah sendirian"
"Tidak masalah sayang, anak kecil memang tidak seharusnya di rumah sakit" ucap mama sambil melepas pelukannya
"Kamu mau di sini menjaga Bryan atau mau pulang?" tanya papa Heru
"Bolehkah aku menjaga Mas Bryan pa?"
"Tentu saja kalau begitu malam ini kamu yang menjaga Bryan, mama dan papa akan pulang ke rumah kalian untuk menjaga Hana"
Diana tersenyum mendengar ucapan papa Heru
"Terima kasih pa"
"Sama-sama nak"
"Ada apa sayang?" tanya mama saat melihat menantunya itu seperti sedang memikirkan sesuatu
"Sejak tadi Di bingung ma bagaimana caranya menjelaskan pada Hana jika dia bertanya Daddynya, apa yang harus aku katakan pada Hana?"
"Kamu tidak perlu memikirkan itu nak, biar papa dan mama yang menjelaskan pada Hana kamu fokus saja dengan Bryan"
"Baik pa terima kasih"
"Kalau begitu kami pulang dulu ya sayang, jangan terlalu lelah kamu juga butuh istirahat" ucap mama
"Iya ma"
"Besok kami ke sini lagi" ucap mama
"Iya ma, hati-hati di jalan Ma Pa"
"Iya, kalau kamu butuh sesuatu katakan saja pada bik Arum" ucap mama Anna
Diana mengangguk "Iya ma"
"Bik kami titip mereka berdua"
"Baik nyonya"
.
.
.