Mr. Bryan

Mr. Bryan
Kontraksi?



"Bella kontraksi bu? Tanya Bryan panik


Reaksi yang di tunjukkan Bryan membuat ketiga pria yang tadinya sedang mendengarkan reflek berdiri


.


.


.


"Tenanglah nak adik mu Bella belum kontraksi, tapi mungkin sebentar lagi jadi dokternya menyarankan agar kembali ke rumah kalian sekarang juga agar jika sudah waktunya melahirkan bisa segera di bawa ke rumah sakit" ibu Ida menjelaskan kronologinya agar Bryan tidak panik


"Begitu... Bryan kira sudah mau lahir" ucap Bryan bernafas lega


"Sebaiknya kamu segera temui mereka, mereka juga perlu pertimbangan dan persetujuan mu sebagai anggota keluarga" ucap ibu Ida


"Baik bu, Bryan ke kamar Bella sekarang" ucap Bryan


"Iya, kamu duluan saja ibu ambilkan air hangat dulu untuk adik mu"


"Baik bu, terima kasih banyak"


"Sama-sama, cepatlah samperin mereka"


"Iya bu"


Bryan berjalan ke kamar tamu yang di tempati Bella dan ibu Ida ke dapur untuk mengambil air, sedangkan Rendy, Rico dan David memilih menunggu di ruang tamu.


Sesaat kemudian, setelah mengemas barang-barang yamg tadinya di bawa untuk menginap, Bella, Zain, papa Heru, mama Anna dokter dan suster sudah siap untuk pulang


Ayah Evan dan Ibu Ida mengantar mereka keluar


"Loh dimana Diana?" Tanya ayah Evan sambil celingukan mencari putrinya


"Di kamar mas, dia masih tidur"


"kenapa tidak di bangunkan? Ini keluarganya mau pulang"


"Dia tidak bisa di bangunkan"


"Hah... anak itu kebiasaan" ayah Evan menghela nafas


"Tidak apa-apa Van, Queenza pasti kelelahan jadi biarkan saja toh kami masih bisa bertemu nanti" ucap papa Heru


"Maaf ya Ru, Diana kalau sudah tidur pasti begitu apa lagi jika sudah kelelahan dia tidak akan bisa di bangunkan"


"Tidak apa-apa" ucap papa Heru sambil tersenyum


"Aku jadi gak enak nih" ucap ayah Evan


"Tidak apa-apa pak Evan, kami mengerti kok" sahut mama Anna


"Ma, biarkan Rendy ikut dengan kalian ya" ucap Bryan


"Lalu nanti kamu kalau perlu sesuatu bagaimana?" tanya mama Anna


"Tidak apa-apa tante ada kami, kami akan di sini menemani Bryan" sahut David


"Iya ada aku juga ma" sahut Kiano


"Baguslah kalian menginap lah di sini, nanti malam akan di adakan BBQ an biar tambah rame" sahut Heru


"Iya om" sahut Rico


"Siap pa" sahut Kiano


"Tidak apa-apa kan ketiga bocah itu di sini dulu?" Tanya papa Heru pada besannya


"Tentu saja, biar tambah rame" ucap ayah Evan


"Om kami bukan bocah" sahut Rico tidak terima dikatain bocah


"Tingkah laku kalian masih bocah" ucap papa Heru sambil terkekeh membuat yang lain ikutan terkekeh


"Oh iya dimana Hana, Bryan?" tanya mama Anna


"Tadi main sama adik-adiknya kakak ipar ma kalau sekarang gak tahu ma" sahut Kiano


"Hana tidur di kamar dengan Ayla jeng" ucap ibu Ida


"Ohhhh, kalau begitu kami titip bocah kecil itu juga ya jeng Ida" ucap mama Anna sambil tersenyum


"Tentu saja" sahut ibu Ida sambil tersenyum juga


"Ya sudah ayo pa, kasihan Bella sudah lama berdiri" ajak mama Anna


"Eh iya ayo, kami pamit dulu jika mereka berempat membuat ulah pukul saja pantatnya" ucap Heru sambil menunjuk ke arah Bryan, Rico, David dan Kiano


"Tentu saja" sahut ayah Evan menanggapi gurauan temannya


"Oke kami pamit"


"Jeng kami pulang dulu" ucap mama Anna pada ibu Ida


Ibu Ida mengangguk dan tersenyum


"Paman bibi kami pulang dulu" ucap Bella pada orang tua Diana


"Iya nak, hati-hati di jalan ya semoga nanti pas lahiran lancar" ucap ibu Ida


"Amin... Nanti kalian datang ya lihat bayi-bayi Bella kalau sudah lahir" ucap Bella


"Tentu saja nak" sahut ibu Ida


"Ayo" ajak Zain


"Iya"


"Sampai jumpa paman bibi" pamit Zain


"Kak Bryan kita duluan" ucap Bella


"Iya hati-hati"


"Iya"


"Bro duluan" ucap Zain


"Iya, hati-hati"


"Tentu"


"Ren, kamu ikut mobil Bella saja ya" ucap Bryan pada asistennya


"Baik tuan"


Dua mobil yang membawa rombongan keluarga Bryan sudah pergi dari sana di ikuti beberapa mobil bodyguard dari belakang


"Nak Bryan" panggil ibu Ida setelah semuanya pergi


"Iya bu?"


"Bisa tolong bangunkan Diana? hari sudah hampir petang tapi dia belum bangun juga dari tadi ibu juga sudah berusaha membangunkan dia, tapi dia tidak terusik sedikit pun"


"Baik bu, tapi bu apa biasanya Diana selalu seperti ini?" tanya Bryan yang penasaran


"Biasanya memang agak sulit di bangunkan tapi biasanya dia langsung bangun jika ibu bangunkan, dia pasti sangat kelelahan"


"Sepertinya begitu, kalau begitu Bryan akan bangunkan sekarang bu"


"Terima kasih nak, maaf sifat putri ibu terkadang memang seperti itu"


"Tidak masalah bu Bryan mengerti" ucap Bryan sambil tersenyum


"Iya sekali lagi terima kasih nak, Diana beruntung memiliki suami dan keluarga mu yang baik dan pengertian"


"Iya bu sama-sama, maaf bukannya Bryan ingin mengungkit masa lalu tapi mantan Bryan dulu lebih parah dari ini bu"


"Maksudnya?"


"Dulu mama Hana lebih parah, saat itu keluarga Bryan pamit akan pulang tapi dia tidak menemui mereka dan malah pura-pura tidur dan saat Bryan bangunkan dia malah mengamuk"


"Begitu" ucap ibu Ida sedikit iba


"Oh iya Hana dimana habis main di mana bu?"


"Dari tadi Hana bermain dengan adik-adik Diana di rumah kaca"


"Rumah kaca?"


"Iya tempatnya ada di halaman belakang"


"Ohhh jadi di sini ada rumah kacanya ya bu"


"Iya"


"Kalau begitu Bryan bangunkan Diana dulu ya bu"


"Iya, ibu akan ke rumah kaca dulu untuk memanggil sepupu Diana yang masih ada di sana"


"Iya bu"


Bryan melangkah ke dalam rumah lalu naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Diana, sedangkan ibu Ida pergi ke rumah kaca melewati halaman samping


"Dia benar-benar tidur sangat nyenyak" ucap Bryan sambil menatap istrinya yang tidur dengan sangat nyenyak, Bryan duduk di samping Diana.


"Sayang bangun yuk.... Sudah hampir petang ayo bangun"


"Sayang"


"Sayang ku..." Bryan menepuk pelan pipi Diana


"Hmmm?" Diana mulai menggeliat


"Ayo bangun sudah hampir petang"


Diana perlahan membuka kelopak matanya yamg terasa masih berat


"Hmmm?"


"Sudah shalat belum?" tanya Bryan


Diana menggeleng pelan


"Ayo bangun shalat dulu yuk kita shalat bareng, kakak juga belum shalat"


"Pukul berapa sekarang?" tanya Diana dengan suara seraknya


Bryan menatap jam di dinding


"Pukul setengah lima sore"


"Tunggu dulu ya kak, mata aku masih berat" Diana duduk dan bersandar di headboard ranjang


"Iya, kakak bangunkan Hana dulu karena sudah sore"


"Iya"


Bryan keluar dari kamar dan menuju kamar adik iparnya untuk membangunkan Hana


Tok tok


.


.


.