Mr. Bryan

Mr. Bryan
Hari Pernikahan (Part 2)



"Bro apa kamu tidak mampu membeli cincin lain?" tanya Zain


"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Bryan


.


.


.


"Menurut ku cincinnya terlalu sederhana" ucap Zain


"Benarkah?" tanya Bryan


"Iya, kenapa kamu tidak belikan yang berliannya besar saja?" tanya Zain


"Itu pilihan Diana sendiri" jawab Bryan


"Ohh, aku kira kamu tidak sanggup membayar cincinnya" ucap Zain bercanda sambil terkekeh


"Bugh, kamu mengejek ku?" Bryan memukul lengan adik ipar sekaligus temannya itu


Bella menikah dengan teman baik Bryan yaitu Zain, dan keluarga mereka juga setuju-setuju saja Bella menikah dengan Zain.


Karena mereka tahu bahwa dia adalah pria baik-baik diantara Rico dan David, Karena Rico dan David adalah laki-laki playboy.


Sedangkan Zain suami Bella tidak seperti itu begitu juga dengan Bryan, mereka berdua adalah laki-laki baik di antara mereka berempat.


"Aku tidak mengejek mu, hanya saja dulu saat menikah dengan Cika cincin tunangannya saja harganya sangat fantastis" ucap Zain


"Apa ini terbuat dari emas putih?" tanya Zain


"Iya, tapi milik ku terbuat dari perak" jawab Bryan


Zain hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia juga menggunakan cincin pernikahan yang terbuat dari perak karena pria tidak di perbolehkan menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas.


"Cincin itu juga tak kalah mahal, hanya saja desainnya yang cukup sederhana dan aku tidak mengatakan pada Diana berapa harganya" jelas Bryan


"Kenapa begitu?" tanya Zain


"Kamu tidak tahu saja, waktu itu kami berdebat di mall saat memilih cincin itu"


"Kalian bertengkar di sana?" tanya Zain sedikit terkejut


"Iya"


"Kenapa? Karena harganya?" tebak Zain


"Benar, karena harganya" jawab Bryan membenarkan


"Apa dia tidak mau cincin yang murah?"


"Jangan berkata seperti itu, justru sebaliknya karena cincin yang aku tunjukkan harganya sangat malah dia malah menolak dan ingin pergi ke tempat lain" ucap Bryan


"Bahkan aku juga sudah meminta tante Irna untuk mengambilkan cincin yang lebih murah tapi tetap saja dia menolak" lanjut Bryan


Tante Irna adalah pemilik toko perhiasan dan juga teman baik mama Anna


"Benarkah?" tanya Zain


"Benar, tante Irna juga sudah membujuk dia untuk memilih cincin mana pun yang dia suka, karena aku akan sanggup membayarnya tapi dia malah marah dan mengancam akan membatalkan pernikahan kami" ucap Bryan sambil tersenyum saat mengingat hari itu


"Gila aku tidak tahu masih ada gadis yang menolak perhiasan mahal" ucap Zain agak tidak percaya


"Dia sungguh berbeda dengan gadis yang biasa kita temui Zain" ucap Bryan


"Lalu bagaimana akhirnya?" tanya Zain penasaran


"Aku terpaksa pura-pura mengajak tante Irna untuk mengambil cincin yang lain, padahal yang sebenarnya aku hanya meminta tante Irna menunjukkan koleksi miliknya yang paling sederhana dan meminta tante Irna untuk tidak mengatakan harga yang sebenarnya"


"Hah... Aku sungguh benar-benar tidak menyangka" ucap Zain


"Aku saja juga tidak menyangka hal itu, padahal saat itu dia mengatakan pada ku ingin suami yang kaya, tapi pada kenyataannya itu hanya ucapannya saja hanya untuk menghibur dirinya" ucap Bryan


"Maksudnya?" tanya Zain


"Aku tidak bisa mengatakannya pada mu sekarang, tapi yang pasti dia bukan gadis yang gila harta" jelas Bryan


Suami Bella itu hanya menganggukkan kepalanya


"Ya... Semoga saja dia yang terbaik untuk mu Bryan, saat aku bertemu dia di mansion hari itu sepertinya dia memang gadis yang baik dan tulus, terutama pada Hana" ucap Zain


"Ya semoga"


"Ya sudah ayo sekarang bersiap, sudah hampir waktunya berangkat yang lain pasti sudah menunggu di restoran untuk sarapan" ajak Zain


"Iya"


***


Tepat pukul 08.45 akad nikah sudah selesai di laksanakan dengan teriakan sah menggema dari para tamu undangan.


Diana dengan balutan gaun pengantin ala sunda sudah berada di hadapan Bryan dan akan melakukan sesi pemasangan cincin dan tanda tangan surat-surat.


"Ayo sayang pasang cincinnya" ucap mama Anna yang mendampingi putranya dengan memegang nampan berisi kotak cincin


Nak salim tangan suami mu" bisik ibu pada Diana setelah cincin terpasang


Diana menuruti ucapan ibunya dia meraih tangan suaminya lalu di balas kecupan di ubun-ubunnya dan tangan Bryan juga mengusap kepalanya


Deg


Jantung Diana tiba-tiba berdetak kencang, ada yang berbeda saat kulit mereka bersentuhan.


Mungkin inilah yang terjadi saat dia sudah menikah dan menjadi istri Bryan.


"Sekarang tanda tangani surat-suratnya" ucap penghulu


"Baik"


Setelah semua prosesi akad selesai sekarang adalah waktunya para tamu memberikan selamat pada kedua mempelai dan juga untuk sesi foto dan sesi mencicipi hidangan.


Beberapa jam kemudian


"Capek?" tanya Bryan


"Emm" Diana mengangguk manja


"Mau istirahat dulu? Sepertinya para tamu sudah selesai foto bersama"


"Apa boleh?" tanya Diana


"Kakak tanya dulu ya" ucap Bryan


"Iya"


Bryan turun dari panggung dan menghampiri kedua orang tuanya dan kedua mertuanya


"Kenapa Bryan?" tanya papa Heru


"Diana sudah kelelahan, wajahnya agak pucat" ucap Bryan


"Bawa istirahat Bryan, sesi fotonya sudah kan?" tanya mama Anna


"Iya ma sudah"


"Ya sudah kalian istirahat saja, di sini biar kami yang urus" ucap ibu Ida


"Terima kasih bu"


"Emm" ibu mengangguk sambil tersenyum


Bryan kembali ke atas panggung dan membawa Diana turun


"Maaf sayang niat awalnya cuma akad nikah tapi malah jadi resepsi dadakan" ucap ibu pada anak dan menantunya setelah mereka berdua ada di hadapan mereka


"Tidak apa-apa bu, kapan lagi ibu undang semua keluarga ibu lagi pula sayangkan dekorasinya sudah bagus tapi tidak ada tamunya"


"Benar sayang" ucap mama


"Maaf, Di juga gak tahu kalau bakalan sebesar ini" ucap Diana


"Tidak apa-apa, nak Queenza toh yang dateng cuma keluarga dan tetangga dekat saja jadi masih belum bisa dikatakan resepsi, hanya tamu yang datang di akad nikah saja pesta resepsinya nanti tetap nyusul 1 bulan lagi" ucap papa Heru


"Jadi tetap di adain nih pa?" tanya Diana terkejut


"Ha ha ha tentu saja nak, sesuai rencana dan kamu harus bersiap menyambut tamu yang dua kali lebih banyak dari sekarang" ucap papa Heru sambil tertawa


"Hah? Dua kali? Sekarang aja Di sudah kelelahan pa apa lagi dua kali" ucap Diana


"Ha ha ha tidak apa-apa nanti minta Bryan pijat kaki mu saja, benar kan Bryan" ucap papa Heru


Bryan hanya bisa tersenyum tanpa menjawab apa-apa


"Jangan banyak mengeluh sayang, nikmati saja" ucap ayah Evan


"Baik yah" sahut Diana dengan wajah cemberut


"Katanya mau istirahat" ucap ibu


"Aku istirahat di sini saja bu, gak enak sama yang lain" ucap Diana sambil menarik salah satu kursi untuk ia duduki


Dan Bryan dengan sigap membantu istrinya


"Mau makan? Biar kakak ambilkan" tawar Bryan


"Tidak kak"


"Duduklah Bryan kamu pasti lelah juga" ucap ayah Evan


"Baik yah"


.


.


.