Mr. Bryan

Mr. Bryan
Membujuk Bryan



"Dia lupa menghubungi suaminya, aku akan mengantarnya pulang kalian bisa kan tutup cafe"


"Tentu saja boss, serahkan saja pada kami "


.


.


.


"Terima kasih banyak Dit, untuk bulan ini aku akan kasih kalian bonus lebih, ayo Ross cepat antar aku pulang" ucap Diana buru-buru


"Beneran nih boss?" tanya Adit senang


"Iya beneran, kami pulang duluan" ucap Diana sambil menarik Ross keluar dari cafe


"Hati-hati di jalan Boss" ucap Adit sambil melambaikan tangannya


"Mereka kenapa?" tanya Dinda


"Boss Diana dalam masalah" ucap Adit dengan wajah bahagia


"Lalu kenapa wajah mu senang saat boss kita dalam masalah?" tanya Hafid


"Karena bulan ini boss akan kasih kita bonus lebih" ucap Adit


"Beneran nih?" tanya Dinda


"Iya"


"Asik.. " ucap Dinda


"Lalu kenapa dengan boss?" tanya Hafid


"Dia lupa mengabari suaminya, tadi kan boss cuma bilang sampai sore tapi kenyataannya boss di sini sampai malam"


"Gawat tuh" ucap Dinda


"Benar, kalian tahu sendiri kan gimana suami si boss" ucap Adit


"Posesif" jawab Dinda dan Hafid bersamaan


"Tepat sekali" ucap Adit


"Kasihan boss Di, dia akan dalam masalah" ucap Dinda


"Paling juga di hukum" sahut Adit


"Di hukum gimana? boss bakalan di pukuli sama suaminya?" tanya Dinda


"Bukan" jawab Adit


"Lalu?"


"Kamu anak gadis gak bakalan tahu maksudnya, udah sekarang kita cepetan beres-beres" ucap Adit


Kedua pria itu melanjutkan pekerjaan mereka


"Maksudnya gimana sih? kasih tahu aku dong" ucap Dinda


"Nanti kamu bakalan tahu kalau udah nikah"


"Kenapa begitu? kasih tahu aku sekarang saja" desak Dinda


Di perjalanan


"Gimana nih Ross" ucap Diana saat mobil mereka terjebak macet cukup lama


"Gak tahu Di kan bukan aku yang bikin macet" sahut Ross


"Gawat nih, kak Bryan pasti bakalan marah"


"Coba kamu hubungi suami mu" ucap Ross


"Aku gak berani nelpon"


"Hubungi aja Di, kalau kamu tambah gak hubungi dia yang ada suami mu tambah marah" ucap Ross


"Tapi aku takut" ucap Diana


"Udah Telp aja"


"Oke" ucap Diana lesu


Diana mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya


"Mampus aku, gak gak aku gak berani nelpon" ucap Diana heboh


"Kenapa?" tanya Ross


Diana memperlihatkan ponselnya pada Ross


"Gila 50 panggilan tak terjawab!" ucap Ross terkejut


"Pesan Wa nya lebih banyak, lihatlah" ucap Diana


"Kamu benar-benar dalam masalah Di" ucap Ross tambah menakuti temannya


"Ih... jangan tambah nakutin gitu deh" rengek Diana


Diana membaca semua pesan yang di kirim Bryan, mulai dari pesan biasa sampai pesan ancaman dari suaminya


" 'Awas saja kamu sayang kalau sudah sampai di rumah!' " Diana membaca pesan terakhir yang di kirim suaminya


"Itu pesan dari suami mu?" tanya Ross sambil fokus ke depan karena jalanan sudah mulai lancar


"Iya itu pesan terakhir yang kak Bryan kirim" ucap Diana


"Ha ha ha"


"Jangan tertawa Ross, aku lagi ketakutan gini kamu malah tertawa" ucap Diana kesal


"Kamu harus bersiap Di, suami mu pasti akan menghukum mu" Ross semakin menakuti temannya


"Aku gak mau pulang deh, aku nginep di rumah mu aja ya" ucap Diana


"Mana bisa begitu, nanti malah aku yang di sembur suami mu" ucap Ross


"Ross... " rengek Diana


"Enggak, lagian ini udah hampir sampai di rumah mu"


"Putar balik saja" ucap Diana seenaknya


Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Ross sudah sampai di depan rumah besar milik Bryan


"Sudah sampai, sana turun" Ross mengusir temannya


Diana melepas sabuk pengamannya dengan lesu lalu dia turun dan menutup pintu mobil Ross dengan kencang membuat Ross terkejut.


Ross menurunkan kaca mobilnya


"Di kamu emang gak tahu terima kasih ya.. " tanya Ross sambil tersenyum kesal


"Makasih Ross" ucap Diana tidak bersemangat


"Gak ikhlas banget makasihnya" ucap Ross


"Terima kasih teman ku...." ucap Diana sambil tersenyum


"Udah sana masuk" ucap Ross


"Hmmm"


"Aku pulang dulu" pamit Ross


"Iya hati-hati di jalan"


"Iya"


Setelah Ross pergi Diana melangkah ke arah pintu.


Tin tong, ting tong


Ceklek


Pintu terbuka


"Kak David? kakak belum pulang? kok kakak yang buka pintu?"


"Iya kami menginap di sini kebetulan tadi aku ke dapur mau ambil air, masuklah"


"Oohh... terima kasih"


"Sama-sama"


"Kak Bryan mana?" tanya Diana


"Mungkin sudah tidur, sejak tadi sore dia kesal" ucap David


"Kenapa?"


"Karena kamu gak pulang-pulang, kamu dari mana saja? Bryan sejak tadi mencemaskan mu"


"Cafe lagi ramai jadi aku gak bisa pulang" ucap Diana


"Ya sudah sana cepetan samperin suami mu"


"Iya, aku ke atas dulu selamat malam"


"Selamat malam"


Diana melangkah menaiki anak tangga dan sesampainya di depan pintu kamarnya Diana mengambil nafas dalam terlebih dahulu


"Huhhh haaahhh, ya Allah semoga kak Bryan sudah tidur" gumam Diana berdoa


Perlahan Diana membuka pintu kamar, dia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan di dalam sana.


"Sepertinya kak Bryan sudah tidur" gumam Diana saat melihat ke arah ranjang


Diana membuka pintu dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara lalu dia perlahan masuk ke dalam lalu berbalik menutup pintu dengan perlahan.


Setelah menutup pintu Diana berbalik dan terkejut


"Argghhh!! ka.... kak Br...Bryan...."


'Brakk' tas yang di pegang Diana seketika terlepas dari tangannya


Bryan tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Diana sambil melipat kedua tangannya di depan dada


"Se... sejak kapan kakak sudah ada di sana? bukankah barusan masih ada di ranjang?" tanya Diana sambil bolak balik menatap Bryan dan ke arah ranjang


"Dari mana saja kamu?" tanya Bryan dengan nada suara yang menakutkan di telinga Diana


Glek...


"Da.. dari cafe kak" jawab Diana dengan takut-takut


"Kamu tahu pukul berapa sekarang?" tanya Bryan lagi


Diana melirik dengan takut ke arah jam yang ada di kamar mereka


"Se.....sepuluh"


"Kenapa sampai malam? kamu izinnya cuma sampai sore?" tanya Bryan dengan nada yang sangat dingin


"Maaf kak..." ucap Diana sambil menunduk


"Lain kali kamu tidak boleh pergi kemanapun sendirian" ucap Bryan


Diana langsung mendongak menatap Bryan


"Kenapa begitu? kakak bilang tidak akan pernah menghalangi ku" protes Diana


"Karena kamu Sudah ingkar janji di tambah tidak mengabari kakak"


"Kak Bryan.... ini namanya tidak adil, kakak saja boleh pulang kerja terlambat" protes Diana


"Tapi kan kakak menghubungi mu dulu sedangkan kamu tidak"


"Kak dengerin penjelasan ku dulu..."


Bryan melangkah ke arah sofa yang ada di kamar mereka kemudian duduk di sana, Diana mengambil tasnya dan mengikuti Bryan dari belakang


"Kak Bryan... maafkan aku sekali ini saja lain kali aku tidak akan melakukannya lagi"


"Tidak"


.


.


.