
Tok tok
"Masuk"
Nampak asisten Bryan masuk ke dalam setelah Bryan mengizinkannya masuk
"Selamat pagi tuan" sapa Rendy
"Pagi, ada apa Ren?" tanya Bryan
"Saya sudah mendapatkan apa yang anda minta tuan" Ren menyerahkan map berisi informasi tentang calon istri tuannya
Bryan mengambil map yang di serahkan asistennya, dia membuka map itu lalu membaca semua informasi yang ada di sana
"Rendy.." panggil Bryan
"Ya tuan?" sahut Rendy
"Apa kamu yakin ini alamat rumah orang tuanya?" tanya Bryan
"Benar tuan, saya sudah mengeceknya berulang kali sebelum di serahkan pada anda"
"Kenapa sepertinya aku pernah lihat alamat ini ya, tapi dimana?" gumam Bryan
"Ada apa tuan?" tanya Rendy dia takut ada yang salah dengan informasi yang dia berikan
"Aaaa.. aku ingat sekarang"
Bryan meletakkan map itu dan menyambar ponselnya
Bryan membuka pesan yang di kirimkan papanya tadi, dia mengecek alamat yang papanya berikan lalu membandingkan nya dengan alamat yang di berikan asistennya.
Tiba-tiba Bryan tertawa kencang
"Ha ha ha ha"
"Ada apa tuan?" tanya sang asisten khawatir
"Ha ha ha ya ampun" Bryan masih saja tertawa seperti orang gila dia menutup kedua matanya dengan telapak tangan kanannya
"Tuan" panggil Rendy khawatir
"Tunggu sebentar Ren" ucap Bryan di sela tawanya sambil mengangkat tangan kirinya
Rendy membiarkan tuannya itu tertawa sampai puas, beberapa menit kemudian Bryan selesai tertawa
"Bisa anda jelaskan tuan?" tanya Rendy yang sudah penasaran
"Rendy, Sepertinya aku dan gadis itu memang berjodoh" ucap Bryan membuat asistennya itu tambah bingung.
Baru kali ini Rendy di buat bingung oleh atasannya itu karena biasanya Bryan lah yang di buat bingung oleh asistennya itu.
"Begini, papa meminta ku ikut ke rumah temannya papa juga sudah mengirim alamat rumah temannya"
"Lalu tuan?"
Bryan tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya "Alamat rumah teman papa dan alamat rumah yang ada di sini sama persis" ucap Bryan sambil menunjuk selembar kertas yang ada di map itu
"Jadi maksud tuan orang tua nona Diana dan teman tuan Heru adalah orang yang sama?"
"Tepat sekali asisten Rendy" seru Bryan sambil Menjentikkan jarinya
Rendy di buat tercengang
"Memangnya kamu tidak tahu saat menyelidiki keluarga Diana bahwa mereka berteman?" tanya Bryan
"Tidak tuan, saya tidak menyelidiki sejauh itu" ucap Rendy
Bryan hanya menganggukkan kepalanya
"Baiklah Rendy, terima kasih untuk informasinya, tapi bisakah kamu rahasiakan ini dari semua orang terutama papa dan mama"
"Mengapa tuan?" tanya Rendy
"Aku hanya ingin membuat mereka terkejut, jika kamu mengatakan pada papa ini tidak akan seru"
"Baiklah tuan, saya akan rahasiakan hal ini"
"Terima kasih banyak Rendy, kamu bisa kembali ke ruangan mu"
"Baik tuan saya permisi"
"Emm"
Setelah itu Bryan segera melanjutkan pekerjaannya, karena dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang cepat.
Flashback end
"Begitu ceritanya" ucap Bryan
"Jadi papa dan mama memang tidak tahu ya, pantas saja tadi mereka agak terkejut saat melihat ku walaupun mereka terlihat biasa-biasa saja tapi aku tahu papa dan mama terkejut" ucap Diana sambil tersenyum
"Ya mungkin mereka tidak menyangka saja" ucap Bryan
"Tapi yang aku dengar mereka mau menjodohkan ku dengan putra ke duanya berarti adik kakak, benarkah begitu?" tanya Diana
"Iya, beruntung aku yang datang bukan adikku"
"Kenapa?" tanya Diana
"Karena jika adikku yang datang bisa jadi dia langsung menerima perjodohan ini"
"Kenapa begitu? Memangnya adik kakak sebelumnya tidak mau menikah dan menolak semua perjodohan?" tebak Diana
"Lalu kenapa dengan ku bisa jadi di berubah pikiran?"
"Karena kamu cantik" bisik Bryan di telinga Diana
Blushh pipi Diana langsung memerah
"Ih kakak mah gombal mulu, sana jauh-jauh" Diana mendorong Bryan agar menjauh
"Aku tidak gombal, aku serius kamu gadis cantik, manis dan juga gadis yang baik" puji Bryan
Diana menoleh ke arah lain karena tidak sanggup menatap wajah Bryan yang terus menatapnya
"Sayang...." panggil Bryan lembut
Blushhh wajah Diana semakin merah bahkan sampai ke leher dan telinganya, saat ini dia sungguh tersipu malu padahal biasanya saat Bryan memanggilnya sayang dia tidak seperti ini.
"Sayang kenapa wajah mu merah?" tanya Bryan usil
"Kakak hentikan jangan menggoda ku terus" ucap Diana dia menoleh ke arah Bryan
Wajah keduanya menjadi sangat dekat, hembusan nafas mereka saling bersautan dan mengenai wajah mereka.
Tatapan mata mereka terkunci, Bryan menatap manik mata calon istrinya itu begitu pun sebaliknya.
"Kak..."
"Hmm?" sahut Bryan sambil meneguk salivanya kasar, jakunnya naik turun.
"Apa kau sungguh mencintai ku?" tanya Diana tanpa mengalihkan pandangannya dari manik mata indah milik Bryan
"Ya sangat" jawab Bryan dia juga tidak melepaskan tatapannya
"Tapi aku tidak tahu apakah mencintai mu, kak" ucap Diana
"Tidak, kamu mencintai ku sayang" jawab Bryan
"Bagaimana bisa kakak tahu?" tanya Diana
"Tentu saja aku sangat tahu hal itu" ucap Bryan
"Bagaimana caranya?"
"Dari manik mata mu sayang, manik mata mu yang indah ini sudah mengatakan semuanya" ucap Bryan
"Memangnya mata bisa bicara? Kakak jangan gombal terus deh" Diana lebih dulu mengalihkan pandangannya
"Ke ke ke ya sudah kalau gak percaya, tapi yang pasti kamu juga sudah jatuh cinta pada ku" ucap Bryan sambil terkekeh
"Ya terserah kakak saja"
Bryan tiba-tiba merebahkan tubuhnya dia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Diana
"Eh kakak ngapain? Jangan begini nanti kalau ada yang liat gimana?" dia tidak tahu harus melakukan apa.
Kedua tangannya menggantung di kedua sisi tubuhnya, dia tidak berani menyentuh Bryan.
"Tidak apa-apa, kita kan sudah mau nikah" ucap Bryan santai
"Masih mau nikah bukan sudah menikah" ralat Diana
"Orang tua kita gak bakalan marah kok palingan langsung di nikahkan" ucap Bryan sambil tersenyum
"Eh enak saja langsung nikah, gak mau"
Bryan yang awalnya memejamkan mata langsung membuka matanya setelah mendengar ucapan Diana
"Kenapa gak mau?" tanya Bryan
"Aku kan juga pengen di lamar dulu gitu baru nikah"
"Ke ke ke tadi kan sudah" Bryan terkekeh
"Ih beda bukan yang kayak itu" rengek Diana
"Lalu yang gimana?" tanya Bryan
"Ih kak Bryan mah gak peka, kesel aku"
"Gak peka gimana sayang? Kan kakak tanya mau yang gimana?" tanya Bryan lembut
"Pikir aja sendiri"
"Jangan ngambek dong, iya nanti kakak siapin tapi kamu jangan ngambek ya...." bujuk Bryan
"Terserah"
"Kamu lagi PMS ya kok marah-marah terus?" tanya Bryan
"Gak!" sahut Diana galak
"Jangan galak-galak nanti kakak cium, mau?"
"Apaan sih" ucap Diana masih ketus
Cup
.
.
.