
"Bubulnya cidak celasa carena Hana lagi cakit Daddy, capi calau Hana cembuh bubulnya celasa"
"Calau Hana lagi cakit celus macan bubul halus di kacih galam yang banyak bial kelasa, benalkan Mommy?"
.
.
.
"Tepat sekali, Hana pintar sekali" ucap Diana senang sambil memeluk Hana
"Hana pintal Mommy?" tanya Hana
"Iya Hana pintar, jadi anak pintar harus cepat sembuh biar bisa main lagi sama Mommy dan Daddy"
"️Benarkan Daddy?" Tanya Diana pada suaminya yang duduk di kursi sebelah brankar Hana
"Benar sayang, sama opa sama Oma juga" sahut Bryan
"Iya Daddy" ucap Hana menatap wajah Bryan sambil tersenyum
"Bagus sayang, sekarang Hana habiskan buburnya tinggal dikit kok" ucap Diana
"Mommy cambahin galam dulu biar ada lasanya"
Bryan terkekeh mendengar ucapan Hana
"Sayang, tidak baik makan banyak garam" ucap Diana
"Capi kan bial enak Mom, Hana kan cakit Jadi halus tambahin galam"
"Itu kan cuma perumpamaan sayang, tidak baik makan banyak garam sayang nanti Hana tambah sakit"
"Apa icu pelumpamaan?" tanya Hana lagi
"Emm itu... gimana jelasinnya ya?" Diana bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Hana
"Kakak saja yang jelaskan" ucap Diana melimpahkan pada Bryan
"Kenapa kakak? kan kamu yang mulai" ucap Bryan pada istrinya
"Putri kakak itu terlalu pintar, setelah di jelaskan akan bertanya lagi dan lagi jika ada kata yang membuat dia penasaran"
"Bagus dong, berarti Hana mirip dengan kakak" ucap Bryan bangga
"Iya bagus, tapi akunya yang pusing bagaimana cara jelasinnya" rengek Diana pada suaminya
Bryan terkekeh melihat istrinya yang kelabakan dengan pertanyaan-pertanyaan dari putrinya.
"Mom, cenapa Mommy cidak jawab peltanyaan Hana?" Hana menuntut jawaban dari Diana
"Biar Daddy yang jawab ya sayang, cepat Dad di jawab" ucap Diana pada Bryan
"Perumpamaan itu sama dengan contoh sayang, ya kurang lebih begitu penjelasan singkatnya" ucap Bryan
Jika dia menjelaskan dengan panjang lebar, putrinya itu pasti akan menemukan kata yang akan membuatnya penasaran lagi dan akan terus bertanya jadi dia memilih kata yang mudah di mengerti oleh putrinya.
"Contoh? jadi yang Mom.... "
"Sayang ayo buka mulut aaaakk" ucap Diana menyela perkataan Hana agar tidak kembali bertanya
Hana membuka mulutnya lalu memakan buburnya, beruntung gadis kecil itu sudah tidak mengeluarkan pertanyaan lagi
Sesaat kemudian Hana sudah menghabiskan buburnya.
"Wahhh sudah habis, ini sayang minum dulu" ucap Bryan sambil memberikan Hana air minum
"Pelan-pelan sayang" ucap Diana karena melihat Hana yang minum dengan cepat
"Sudah?" Tanya Bryan saat Hana menjauhkan gelas yang di pegang Daddynya
"Cudah Dad" jawab Hana
"Sekarang waktunya Hana minum obat" ucap Diana
"Cidak mau" tolak Hana
"Kenapa sayang?" Tanya Diana
"Pait Mom, Hana cidak cuka minum obat"
"Obatnya manis kok rasa strawberry, bukankah Hana suka strawbery?" ucap Diana
"Hana cuka cobeli capi Hana cidak cuka obat, obat icu pait Mommy"
"Tidak pait sayang, obatnya manis" rayu Diana
"Hmmmpp" Hana menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggeleng
"Manis kok Hana sayang, paman dokter kasih Hana obat manis bukan pahit" bujuk Bryan
"Cidak cidak mau Daddy" tolak Hana yang sudah hampir menangis
"Sayang lihat ini gambar apa?" Tunjuk Diana pada gambar di botol obat
"Cobeli"
"Nah bukankah Hana suka strawbery? Jadi paman dokter kasih Hana obat rasa strawberry" bujuk Bryan
"Cidak Hana cidak mau minum obat" ucap Hana kekeh
"Biar Mommy coba obatnya kalau obatnya pahit Hana tidak perlu minum obat, bagaimana?" tawar Diana
"Sayang..." Ucap Bryan pada istrinya
Di hanya tersenyum pada suaminya, dia membuka tutup obatnya lalu menuangkan sedikit di sendok takar dan meminumnya
Diana mengecap-ngecap sirup obat itu, sedangkan Hana dan Bryan tengah menunggu jawaban dari Diana
"Hmmm obatnya rasa strawberry, manis" ucap Diana
"Mommy boong" tuduh Hana
"Memangnya Mommy pernah bohong sama Hana?" Tanya Diana
"Lihat kan, Mommy tidak pernah bohong pada Hana"
Hana mengangguk
"Sayang, Hana kan mau cepat sembuh jadi harus minum obat dulu ya..." Rayu Bryan
"Capi obat pait Daddy..." Rengek Hana
"Tidak pait kok sayang, Mommy kan sudah coba" ucap Bryan
"Cidak"
"Nanti kalau Hana sembuh kita jalan-jalan, mau?" bujuk Bryan
"Mau Daddy, cama Mommy cuga?"
"Iya sama Mommy juga" sahut Bryan
"Calau begicu Daddy coba cuja obatnya"
"Dia benar-benar putri kak Bryan, pandai bernegosiasi" ucap Diana dalam hati
"Oke Daddy coba juga"
"Sayang berikan obatnya" ucap Bryan pada istrinya
"Biar aku cuci dulu sendoknya kak"
"Tidak perlu" Bryan mengambil botol obat dan sendok takar yang berada di tangan Diana
"Daddy akan coba tapi setelah itu Hana minum obat, oke?"
Hana menganggukkan kepalanya, Bryan menuang sedikit obat ke dalam sendok takar, lalu meminumnya.
"Hmmmm...." Wajah Bryan di buat seakan-akan terkejut
"Obatnya pait, Daddy?" tebak Hana
Bryan menggeleng lalu menjawab
"Manis seperti Mommy" ucap Bryan pada Hana setelah itu dia menatap wajah istrinya
"Kak Bryan...." Ucap Diana
"Kenapa? Obatnya manis kok kayak kamu" ucap Bryan tersenyum pada istrinya
"Ihhh dasar tidak tahu tempat" ucap Diana sambil mencubit pinggang Bryan
"Awww sakit sayang" keluh Bryan sambil mengusap bekas cubitan istrinya yang sangat sakit
"Biarin siapa suruh tidak tahu tempat"
"Hi hi hi Mommy cama Daddy lucu" ucap Hana sambil tertawa cekikikan
Bryan kembali menatap putrinya
"Ayo sekarang waktunya Hana minum obat, oke?" Ucap Bryan
"Oce Daddy" Hana akhirnya setuju minum obat
"Ma takaran obatnya seberapa?" Tanya Bryan pada mamanya
"Kata dokter sampai garis di sendoknya" ucap mama Anna dari arah sofa
"Oh oke"
"Kak aku cuci dulu sendoknya"
"Ini" Bryan menyerahkan sendok takar pada Diana
Diana pergi untuk mencuci sendok di wastafel kamar mandi, sesaat kemudian dia sudah kembali.
"Ini kak" Di menyerahkan sendok takar pada Bryan
"Terima kasih" ucap Bryan
"Sama-sama"
Bryan menuangkan obat ke sendok takar
"Ayo sayang buka mulutnya"
Hana membuka mulut kecilnya, lalu meminum obat yang di berikan Daddy-nya
"Bagaimana sayang, pait?" tanya Bryan
"Cidak"
"Rasa strawberry kan?" tanya Bryan
"Iya lasa cobeli"
"Hana mau minum air?" Tanya Diana
"Iya"
Diana memberikan air minum pada Hana
"Cudah Mommy"
Diana menjauhkan gelas berisi air yang ia pegang setelah Hana bilang sudah minum, lalu meletakkan gelas air di nakas
"Hana mau sesuatu?" Tanya Bryan
"Mau gendong" ucap Hana sambil merentangkan kedua tangannya
"Baiklah sayang, ayo"
Bryan bangun dari tempat ia duduk dan menggendong Hana.
"Kak hati-hati infusnya Hana" ucap Diana mengingatkan
"Iya" jawab Bryan