
Keesokan harinya Adzan subuh sudah berkumandang dan seluruh penghuni rumah sudah bangun untuk melaksanakan shalat subuh.
Para pria pergi ke masjid, yang berada di samping rumah orang tua Diana sedang kan para wanita Shalat di Musholla yang ada di dalam Rumah.
Masjid tersebut adalah masjid tertua di desa itu, bahkan saat jaman kakek buyut ibu Ida Masjid tersebut adalah yang pertama kali berdiri.
Sehingga warga dari beberapa desa sekitar juga biasa datang dan Shalat di sana, Masjid tersebut pertama kali di dirikan oleh kakek buyut dari ibu Ida.
Dan sampai sekarang masjid tersebut tetap berdiri kokok setelah di lakukan beberapa kali renovasi.
Sekitar 2 jam para pria berada di masjid dan sekarang mereka sudah kembali ke rumah.
"Assalamualaikum" ucap Evan
"Wa'alaikum salam." sahut ibu Ida yang kebetulan sedang menyapu ruang tamu
"Mas sudah pulang, kenapa lama sekali?" tanya ibu Ida sambil tersenyum dan mengecup punggung tangan suaminya
"Iya biasa lagi ngerunpi dulu" sahut Evan
"Ada-ada saja" sahut ibu Ida
Bryan yang masih ada di dekat keduanya tersenyum melihat kemesraan calon ayah dan ibu mertuanya itu, sedangkan sang papa masih berada di teras karena ada telp penting.
Di hati kecil Bryan ada sedikit rasa iri melihat keduanya, jika nanti dia sudah menikah dengan Diana dia ingin seperti ayah Evan yang di sambut istrinya dengan senyuman saat dia pulang.
Karena dulu saat menikah dengan Cika dia tidak pernah dapat merasakan hal ini, dulu saat dia akan berangkat ke kantor Cika bahkan belum bangun dan saat sudah sampai rumah Cika sudah lebih dulu tertidur karena Bryan selalu pulang agak larut.
Namun karena rasa cintanya pada Cika dia tidak pernah mempersalahkan hal ini.
"Bryan ayo masuk" ajak Evan pada Bryan yang masih di ambang pintu
"Iya Yah"
Sekarang Bryan juga memanggil ayah pada Evan sama seperti Diana, tadinya dia memanggil Evan dengan sebutan paman tapi Evan malah mengomelinya karena Bryan tidak memanggil ayah pada dirinya sedangkan pada istrinya memanggil Ibu.
"Nak biasanya kalian sarapan pukul berapa?" tanya ibu Ida
"Kalau hari biasa, kami sarapan pukul 7 pagi bu, kalau weekend sekitar jam 8 pagi" jelas Bryan
"Oh berarti beda 1 jam, disini selalu sarapan agak pagi sekitar jam 6 an"
"Kalian mau sarapan bersama tidak? tapi kalau kalian tidak terbiasa sarapan pagi tidak apa-apa kalian sarapan agak siang saja" lanjut ibu Ida
"Kalau Bryan tidak masalah pukul berapa aja bu, untuk mama papa akan Bryan tanyakan dulu"
"Baiklah nak, ibu siapkan sarapan dulu"
"Iya bu"
Sesaat kemudian papa Heru masuk ke dalam rumah setelah selesai menelpon
"Mama dimana Bryan?" tanya Heru setelah masuk ke dalam
"Tidak tahu pa, ini Bryan baru akan mencari mama"
"Jeng Anna ada di kamar, katanya mau mandi" ucap Ibu Ida yang kembali ke ruang tamu karena melupakan sapu ijuknya
"Oh iya bu terima kasih" ucap Bryan
"Sama-sama" ucap ibu Ida lalu dia kembali ke dapur
"Mama ada di kamar pa" ucap Bryan
"Iya papa dengar kok" jawab Heru
"Kenapa cari mama, Bryan?" tanya Heru
"Ibu Ida tanya setelah ini mau sarapan bareng atau tidak?" ucap Bryan
"Bareng dong, gak enak sama mereka kalau gak bareng"
"Tapi di sini sarapannya lebih pagi pa"
"Tidak masalah"
"Oh oke, ada apa pa? barusan siapa yang telp? " tanya Bryan
"Teman papa dia masuk rumah sakit, barusan papa di kabari sama teman-teman yang lain"
"Teman yang mana?" tanya Bryan
"Teman main Golf"
"Oh kenapa masuk rumah sakit pa? Sakit apa?" tanya Bryan
"Stroke ringan, tadi malam di bawa ke rumah sakit" jelas Heru
"Emm" ucap Bryan sambil mengangguk-angguk
"Jadi setelah ini papa langsung ke rumah sakit?" tanya Bryan
"Iya pa, sebaiknya papa jangan terlalu lelah perjalan dari sini ke rumah lumayan jauh" ucap Bryan
"Iya Bryan"
"Seharusnya papa bawa sopir saja kemarin" Ucap Bryan
Ayah dan anak itu berjalan ke arah ruang keluarga dan duduk di sana
"Bawa sopir, wong papa mau jalan-jalan berduaan sama mama kamu" ucap Heru sambil cengengesan
"Papa dan mama seperti ABG aja inget pa, papa sudah punya 1 cucu dan 1 lagi sudah mau lahir"
"Hei gini-gini papa masih muda tahu"
"Terserah papa lah"
"Oh iya pa gimana kabar Bella dan Zain?" tanya Bryan
"Kamu ini kabar adik sendiri tanya ke papa, kamu kan kakaknya"
"Maaf pa Bryan gak sempat telp Bella"
"Adik mu baik-baik saja kandungannya juga sehat, Zain juga ambil cuti selama beberapa minggu ke depan karena perkiraan dokter Bella akan segera melahirkan"
"Baguslah Zain ambil cuti" ucap Bryan
"Oh ya nanti jika kamu dan nak Queenza sudah menikah tinggallah bersama kami semua Bryan, jadi enak semisal istri mu hamil banyak yang jagain seperti Bella"
"Bryan gak janji pa"
"Ayolah Bryan, lupakan semuanya kamu harus bisa melupakan wanita itu jangan sampai karena ini kau menyakiti Queenza nantinya"
"Iya pa, Bryan sudah berusaha"
"Baguslah papa harap ini pernikahan terakhir mu, ingat pesan papa jangan sampai kamu menyakiti Queenza jika kamu sampai melakukan itu papa akan bawa pergi dia sejauh mungkin dari mu" Heru memberi ancaman pada putranya
"Iya pa Bryan janji"
"Jangan hanya janji tapi buktikan"
"Iya pa"
"Ya sudah papa mau susul mama mu dia mandi lama sekali"
"Iya pa"
Dari arah lantai dua terdengar suara langkah kaki seseorang, Bryan menoleh ke arah tangga terlihat Diana sedang turun dari sana.
"Hoamm" Diana menguap dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil menuruni anak tangga
Diana tidak sadar bahwa dari arah ruang keluarga ada Bryan yang sedang menatapnya.
"Selamat pagi" sapa Bryan
"Astagfirullah, kak Bryan bikin kaget aja" keluh Diana
"Maaf, memangnya kamu gak lihat kakak ada di sini sejak tadi?" tanya Bryan
"Enggak" ucap Diana sambil menggeleng
"Pantas saja kamu kaget" ucap Bryan tersenyum
"Hhmm" Diana mengangguk-anggukkan kepalanya dan berjalan ke arah sofa di ruang keluarga
"Masih ngantuk?" tanya Bryan lembut
"Iya, tengah malam aku tidak bisa tidur"
"Kenapa?" tanya Bryan
"Ross ngorok"
"Teman mu ngorok?" ucap Bryan agak terkejut
"Iya"
"Selamat pagi semuanya" sapa Ross yang baru turun dari lantai dua
"Nah tuh pelakunya datang" adu Diana pada Bryan
"Ada apa nih? kamu kenapa masih ngantuk?" tanya Ross
"Habis begadang bareng nih ya?" goda Ross sambil menaik-turunkan alisnya
.
.
.