
"Ya sudah terserah kamu aja Di, aku mau bantuin Adit aja kasihan dia pelanggan sudah mulai ramai" ucap Ross dan beranjak untuk membantu Adit
"Iya" jawab Diana
.
.
.
Setelah Ross pergi Diana mulai memikirkan apa yang di katakan oleh temannya itu
"Apa benar aku jatuh cinta pada kak Bryan?" Gumam Diana
"Ah Tidak tidak pasti ini karena aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan laki-laki, ya benar karena itulah aku bingung begini" ucap Diana menyakinkan bahwa dirinya tidak sedang jatuh cinta pada Bryan
"Tapi bagaimana caranya aku mengatakan pada ayah dan ibu tentang ini" gumam Diana
***
Keesokan harinya tepat pukul 3 sore, Diana pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya.
Tok tok "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, tunggu sebentar" jawab seseorang dari dalam rumah
"Ibu" panggil Diana setelah pintu rumah di buka
"Nak kamu pulang"
"Iya Bu" jawab Diana sambil mencium punggung tangan ibunya
"Ayo masuk"
"Yang lain kemana?" tanya Diana
"Ayah ke luar kota, adikmu Ayla lagi di sekolah"
"Loh kan sekarang hari minggu bu?"
"Iya Ayla ke sekolah cuma untuk simulasi bentar lagi kan ujian"
"Ohh, Maulana udah balik ke pondok?" tanya Diana
"Iya, tadi pagi sekalian di antar ayah"
"Ohh"
"Kamu istirahat saja, ibu mau lanjut masak"
"Iya Bu, aku mau shalat dulu"
"Iya"
Diana masuk ke kamarnya membersihkan diri lalu menunaikan shalat, tepat pukul 16.00 WIB Ayla adik Diana pulang dari sekolah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Diana yang tengah nonton TV di ruang keluarga sambil ngemil
"Loh kakak datang, kapan sampai?" tanya Ayla menghampiri kakaknya lalu mencium punggung tangan kakaknya
"Tadi pukul 3 sore" jawab Diana
"Ohh, kak aku mandi dulu ya"
"Iya"
Skip pukul 7 malam, waktu makan malam sudah tiba di meja makan itu hanya ada Diana, Ayla dan ibunya.
"Makan yang banyak nak, kamu makin kurus aja" ucap Ibu pada Diana
"Kurus apanya Bu, aku makannya banyak kok" jawab Diana sambil tersenyum
"Benarkah tapi kenapa makin kurus?" tanya ibu
"Gak kurus Bu, malah berat badan ku nambah 1 kilo"
"1 kilo doang?" Ucap Ayla
"1 kilo itu udah banyak tahu" ucap Diana cemberut
"Iya-iya, sudah makanlah" jawab Ibu
"Iya"
Selesai makan malam..
Diana pergi ke kamar ibunya setelah melihat Ayla sudah tidur, karena dia tidak mau adiknya itu mendengar pembicaraan mereka.
Tok tok Diana mengetuk pintu kamar ibunya
"Masuk" sahut dari dalam
Ceklek pintu kamar terbuka
"Bu" panggil Diana
"Ada apa Nak?"
"Ada yang mau aku bicarakan Bu"
"Kemarilah" ucap ibu Ida menyuruh Diana duduk di sebelahnya
Diana menghampiri ibunya setelah menutup pintu kamar rapat-rapat
"Ada apa nak?" tanya ibu
Diana menarik nafas panjang sebelum bicara
"Bu..."
"Ya?"
"Itu..."
"Ada apa katakan jangan ragu" ucap ibu
"Se.. sebenarnya ada seorang pria yang mau menikahi ku, Bu" ucap Diana yang akhirnya mengatakannya
"Benarkah? Siapa?" Tanya ibu Diana semangat
"Namanya Bryan"
"Apa pekerjaannya?" tanya Ibu
"Dia bekerja di kantor Bu"
"Apa dia tampan?"
Diana tersenyum mendengar pertanyaan ibunya itu
"Tentu saja Bu" jawab Diana
"Aku tidak tahu, bu" ucap Diana sambil menggeleng
"Kenapa?"
"Aku takut Bu"
"Apa kamu menyukainya?"
"Aku juga tidak tahu"
"Lah bagaimana kamu ini Diana, kalau dia berencana menikahi mu pasti karena kalian saling menyukai kan?"
"Kami baru bertemu 2 hari lalu Bu"
"Dua hari? Lalu dia mau menikahi mu begitu?" tanya Ibu terkejut
"Iya" jawab Diana sambil mengangguk
"Ibu kira kamu diam-diam berpacaran dengan pria itu" ucap Ibu
"Tidak Bu, aku tidak pernah berpacaran satu kali pun tidak pernah apalagi dengan pria itu"
"Sebaiknya jangan terburu-buru kalau seperti itu, kita masih belum tahu bagaimana dia dan keluarganya apalagi kalian baru bertemu 2 hari yang lalu"
"Benar, yang ibu katakan benar tapi..."
"Tapi apa?" tanya ibu
"Kemarin orang tuanya mengatakan padaku bahwa mereka akan ke sini 3 hari lagi, itu artinya sisa 2 hari lagi"
"Apa? Jadi dia juga sudah mengenalkan mu pada orang tuanya?" tanya ibu terkejut
"Iya Bu"
"Nak, kalau seperti itu sepertinya dia serius dengan mu"
"Apa ibu akan setuju?"
"Tentu saja asalkan dia pria yang baik, memiliki pekerjaan yang tetap dan juga dia harus tampan!"
"Ha ha ha ibu ada-ada saja, lalu kalau dia tidak tampan bagaimana?" tanya Diana
"Ya mau bagaimana lagi, terima apa adanya asalkan dia bisa menjaga putri ibu dengan baik" ucap ibu sambil tersenyum
"Bu, semua kriteria yang ibu sebutkan ada pada pria itu"
"Bagus kalau begitu suruh mereka secepatnya ke sini, lalu jika ibu lihat dia pria yang baik ibu akan langsung setuju"
"Kok malah ibu yang semangat sih? " ucap Diana cemberut
"Tentu saja harus semangat, karena putri ibu yang satu ini kan awalnya tidak mau menikah tapi sepertinya sekarang sudah berubah pikiran jadi ibu harus segera menikahkan mu sebelum berubah pikiran lagi" jawab Ibu
"Tapi dia duda Bu"
"Apa duda?!"
"Duda anak satu" lanjut Diana
"Ya Allah, Diana!" ibu Diana sangat terkejut
"Kenapa ibu teriak?"
"Pantas saja dia mau segera menikahi mu ternyata dia duda"
"Apa ibu tidak setuju kalau dia duda?"
"Ibu tidak tahu harus jawab apa kita tunggu ayah mu saja kalau seperti ini situasinya"
Setelah mendengar jika pria yang akan menikahi putrinya adalah seorang duda beranak satu, ibu Ida menjadi agak ragu timbul rasa khawatir saat mengetahui hal itu.
"Tapi mereka akan ke sini 2 hari lagi, kapan ayah akan pulang?"
"Ibu akan menghubungi ayah mu, sekarang kamu tidurlah hari sudah malam"
"Baik Bu"
Diana keluar dari kamar ibunya dan kembali ke kamarnya, di kamarnya ibu Diana sedang menghubungi suaminya.
"Halo?"
"Mas kapan pulang?" tanya ibu
"Ada apa?"
"Ada yang mau melamar putri kita" ucap ibu Ida to the Point
"Putri yang mana?" tanya ayah
"Diana lah mas, Ayla kan masih sekolah"
"Benarkah? Jadi anak itu mau menikah?"
"Hah.." ibu menghela nafas
"Kenapa kamu menghela nafas, dik?" tanya Ayah
"Diana ragu, menikah atau tidak karena dia masih takut"
"Maaf, itu karena mas sampai membuat putri kita takut untuk menikah" ucap ayah menyesal
Ayah Diana dulu pernah mengkhianati ibu Ida, dia menikah lagi dengan seorang janda beranak 4 yang statusnya jauh di bawah ibu Ida, karena guna-guna yang di berikan janda itu pada ayah Diana.
Beberapa bulan setelah itu ayah Diana bangkrut semua pekerjaan yang awalnya berjalan dengan baik tiba-tiba hancur, hutang di mana-mana dan juga hutang di bank sangat banyak.
Membuat Diana, ibu dan kedua adiknya hidup menderita dan mau tidak mau harus melunasi semua itu sedikit demi sedikit.
Namun sekarang ayah Diana sudah sadar dan kembali pada keluarga yang sebenarnya ekonomi keluarga juga sudah membaik, hutang-hutang mereka juga sudah lunas.
Akan tetapi semua itu sudah terlambat karena kejadian itu sudah membuat Diana, putrinya trauma dengan sebuah pernikahan.
"Sudahlah mas, yang berlalu biarlah berlalu yang penting sekarang putri kita sudah mulai membuka hatinya"
"Iya, lalu kapan keluarga pria itu ke rumah?" tanya ayah semangat
"Dua hari lagi"
"Baiklah mas akan usahakan pulang"
"Mas.."
"Ya?"
"Pria itu duda dengan satu anak"
"Duda?".
.
.
.