Mr. Bryan

Mr. Bryan
Mengunjungi Cafe



"Kak ku mohon ini penting" rayu Diana


"Sepenting apa?" tanya Bryan


.


.


.


"Sangat penting, aku harus bertemu teman ku" ucap Diana


"Teman mu Ross?" tanya Bryan


"Iya"


"Jangan bohong, kamu bukan hanya akan bertemu teman mu Ross kan?" ucap Bryan tepat sasaran


"Da...dan teman ku yang lain" ucap Diana


"Siapa?" tanya Bryan


"Senior ku di kampus dulu saat aku masih kuliah"


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Bryan


"La... Perempuan kak" ucap Diana berbohong


"Sungguh?" tanya Bryan ragu


"Iya" jawab Diana


"Baiklah" Bryan bangun dari atas tubuh istrinya


"Terima kasih kak"


"Hmmm"


"Jangan marah kak" ucap Diana


"Kakak tidak marah"


"Tapi kakak cemberut"


"Tidak, sana pakai pakaian mu kalau kakak sampai berubah pikiran kamu tidak akan bisa keluar dari sini"


Mendengar ancaman Bryan, Diana langsung lari ke walk in closet dan memakai pakaiannya.


Beberapa saat kemudian Diana sudah selesai bersiap


"Kemana kak Bryan?" tanya Diana saat tidak melihat keberadaan suaminya


Diana keluar mencari suaminya sekalian berangkat ke cafe


"Mommy" panggil Hana yang sedang bermain dengan si kembar


"Kakak ipar mau pergi?" tanya Kiano


"Iya, lihat kak Bryan tidak?" tanya Diana pada iparnya


"Tidak kak"


"Ohh... kemana dia ya?"


"Mommy mau kemana?" tanya Hana


"Mommy ada janji dengan teman Mommy, sebentar saja ya sayang" ucap Diana pada Hana


"Hana boleh icut?" tanya Hana


"Maaf sayang kali ini Hana tidak bisa ikut"


"Yahhhh.... " ucap Hana kecewa


"Maaf sayang"


"Hana sayang, kalau Hana ikut Mommy dedek bayinya main sama siapa nanti?" ucap Bella


"Oh iya, dedek bayinya cidak punya ceman" ucap Hana


"Ya cudah Monmy belangkat caja, Hana cidak ikut" ucap Hana


"Iya..., Mommy berangkat dulu Hana jangan nakal ya.."


"Iya Mom"


"Titip Hana ya mbak" ucap Diana pada Bella


"Bella saja kakak ipar" ucap Bella


"Maaf tidak bisa" ucap Diana sambil tersenyum


"Ya sudah senyaman mu saja" ucap Bella pada Diana sambil tersenyum


Diana tidak nyaman memanggil Bella tanpa embel-embel karena Bella lebih tua dari dirinya begitu juga dengan Kiano Adik laki-laki Bryan itu juga lebih tua dari dirinya.


"Aku pergi dulu, Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


"Haci-haci Momny" ucap Hana sambil melambaikan tangannya


"Iya sayang"


Sesampainya di luar, ternyata sudah ada mobil yang menunggunya.


"Ayo masuk" ucap Bryan setelah menurunkan kaca mobilnya


"Loh kok kak Bryan"


"Kenapa? Tidak suka karena ternyata kakak?"


"Bu...bukan begitu kak"


"Ayo cepat masuk" ucap Bryan


"Iya"


Diana membuka pintu mobil Bryan lalu masuk kedalam dan kembali menutupnya


"Duh gimana nih? Bisa mampus aku kalau kak Bryan sampai tahu" ucap Diana dalam hati


"Pakai sabuk pengaman mu" ucap Bryan


"Iya kak" Diana memasak sabuk pengamannya


"Kamu kenapa sayang?" tanya Bryan


"Memangnya aku kenapa?"


"Lah malah tanya balik" ucap Bryan


"Kamu kok kayak orang bingung begitu, kenapa?" tanya Bryan


"Tidak kok kak, aku cuma lagi mikirin ide buat menu baru di cafe"


"Ohh, kita berangkat" Bryan melajukan mobilnya menuju cafe milik istrinya


Sesampainya di cafe


"Kita sudah sampai" ucap Bryan


"Sayang, sayang, Diana" Bryan beberapa kali memanggil istrinya


"Eh iya kak"


"Kita sudah sampai, kamu mikirin apa sih?"


"Enggak kak, ayo kita turun"


Diana melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobil di ikuti Bryan.


Ting.....


Diana mendorong pintu cafe lalu masuk kedalam di ikuti Bryan


"Selamat datang.... Eh ternyata kamu Di" ucap Ross


"Iya"


"Apa kabar?" Tanya Ross sambil memeluk temannya


"Baik"


"Di suami mu kok ikut sih? Gimana kalau dia ngamuk kamu ketemu pria lain?" tanya Ross


"Aku gak tahu Ross tiba-tiba dia ikut, semoga aja dia gak marah toh yang kita temui itu rekan bisnis bukan selingkuhan ku"


"Iya semoga saja" ucap Ross lalu melepas pelukannya lalu menyapa Bryan


"Apa kabar Mr. Bryan?" sapa Ross


"Baik" sahut Bryan


"Kak duduklah dulu, aku mau ngecek dulu" ucap Diana


"Iya" jawab Bryan


"Mau aku buatkan sesuatu?" Tanya Diana


"Tidak perlu repot-repot ice americano saja" ucap Bryan sambil tersenyum


"Aku kira gak perlu repot-repot itu maksudnya kak Bryan tidak mau apa-apa gitu" omel Diana


Bryan hanya tersenyum pada istrinya


"Tunggu sebentar" ucap Diana


Bryan mengangguk, Bryan duduk di sebuah meja kosong sedangkan Diana membuatkan pesanan Bryan


Tak lama pesanan Bryan sudah selesai di buat, Diana mengantar ice americano milik Bryan plus sepotong cake.


"Silahkan di nikmati"


"Terima kasih"


"Sama-sama, kakak tidak keberatan nunggu aku di sini?" tanya Diana


"Tidak kok, memangnya kenapa?"


"Sepertinya semua orang sedang memperhatikan kakak" ucap Diana sambil melirik ke sekeliling


Bryan menatap ke sekeliling


"Sepertinya benar"


"Kalau kakak tidak nyaman kakak bisa menunggu di ruangan ku saja"


"Di mana ruangan mu?" tanya Bryan


"Di dalam, kakak mau nunggu di sana? Aku akan mengecek barang di gudang, gudangnya dekat dengan ruangan ku"


"Oke, kakak tunggu di ruangan mu saja"


Diana membawa nampan berisi minuman dan cake milik Bryan kedalam ruangannya


"Biar kakak yang bawa"


"Tidak apa-apa kak, aku sudah biasa"


"Biar kakak yang bawa minumannya" ucap Bryan, dia mengambil gelas minuman dari nampan


Sesampainya di ruangan


"Silahkan masuk kak"


"Iya, permisi"


Diana meletakkan nampan di atas meja


"Ruangan mu bagus sekali sayang" puji Bryan saat masuk ke ruangan Diana


"Tentu saja" ucap Diana bangga


"Oh ternyata kacanya tembus pandang, tapi tadi sepertinya kakak tidak lihat ruangan ini"


"Jika di lihat dari luar, di dalam sini tidak akan terlihat kak, dari arah luar orang-orang hanya akan melihat cermin"


"Tapi kalau dari dalam sini kita bisa melihat ke luar sana, bagaimana keren tidak kak?"


"Keren sayang, bagaimana kamu bisa dapat ide seperti ini?" tanya Bryan


"Ada deh"


"Pelit banget"


Bryan sebenarnya tahu kaca jenis apa yang di gunakan istrinya untuk ruangannya tapi dia berpura-pura tidak tahu, ruangan istrinya itu menggunakan 'Cermin Satu Arah'.


Bagaimana Bryan bisa tahu? tentu saja karena perusahaan Bryan bergerak di bidang properti.


Sampai saat ini Diana tidak pernah tahu bisnis apa yang di kelola suaminya itu, karena dia tidak pernah bertanya.


Diana hanya tahu bahwa keluarga suaminya itu cukup kaya dan mereka memiliki bisnis, hanya sampai di situ yang Diana tahu.


Bryan juga tidak memberitahu tahu istrinya bisnis apa yang dia kelola, dia akan membiarkan istrinya tahu dengan sendirinya suatu saat nanti, karena Bryan tidak ingin kejadian dengan mantan istrinya dulu kembali terulang.


.


.


.