
"Jelaskan apa?" tanya Diana
"Jelaskan kenapa kalian malah belok ke mall bukannya ke sekolah"
.
.
.
"Itu kak..."
"Itu apa?" tanya Bryan
"Aku yang ajak Hana ke mall"
"Untuk apa?" tanya Bryan
"Untuk jalan-jalan lah kak"
"Kamu ajarin Hana bolos?"
"Sekali-kali saja kak" jawab Diana
"Ya awalnya sekali tapi lambat laun sekali dua kali tiga kali dan seterusnya" omel Bryan
"Maaf" ucap Diana sambil menunduk
"Hah... kenapa kamu ajak Hana bolos?" tanya Bryan
"Aku gak tega kak dia masih terlalu kecil untuk sekolah, Hana bilang lagi gak mau sekolah jadi aku ajak dia main supaya tidak stres"
"Terlalu kecil?" tanya Bryan
"Iya, aku mulai sekolah saja umur 6 tahun itupun langsung masuk ke Sd" ucap Diana
"Tapi Hana bukan sekolah Sd sayang" ucap Bryan
"Sama saja, intinya dia sudah mulai sekolah di umur 3 tahun menurut ku itu terlalu dini kak"
"Tapi sekolah itu penting" ucap Bryan
"Ya aku tahu sekolah penting tapi Hana masih terlalu kecil, setidaknya dia harus senang di sekolah kalau dia tertekan itu tidak baik untuk Hana"
"Sekali-kali dia bolos tidak apa-apa, aku janji tidak akan sering-sering ajak dia bolos kak" ucap Diana panjang lebar
"Tidak akan sering-sering? berarti kamu akan bawa Hana bolos lagi?" tanya Bryan
"He he gak sering kok kak" ucap Diana sambil terkekeh
"Astaga, Diana!"
"Kakak kok teriak sama aku sih?!"
"Kamu masih mau bawa dia bolos lagi?"
"Iya! Kan aku sudah bilang sekolah memang penting tapi bolos Sekali-kali tidak apa-apa"
"Terserahlah kamu di bilangin juga gak akan ngerti" ucap Bryan kesal dia mengalihkan pandangannya dari istrinya
"Ihh... kakak kok jadi marah sama aku sih!"
"Tidak, kakak tidak marah"
"Cih tidak marah apanya, kakak itu kesalkan sama aku?! kakak kesal karena aku ajarin Hana bolos, kakak sampai bentak aku"
"Oke aku minta maaf, aku gak akan ulangi lagi! tapi kalau sampai Hana tertekan gara-gara kakak paksa sekolah aku gak tanggung jawab!" Ucap Diana kesal sambil melipat kedua tangannya dan tidak mau melihat Bryan
"Waktu itu Hana kan yang mau sekolah lagi" ucap Bryan
"Itu karena kakak yang minta dia sekolah, waktu itu kakak kan yang nawarin Hana sekolah lagi dengan iming-iming aku yang antar dan nungguin Hana di sana"
"Kan kamu juga setuju"
"Iya, aku gak masalah nganter dan nungguin Hana di sekolahnya itu karena Hana terlihat senang saat itu, kakak kan tahu sendiri Hana sampai gak mau tidur karena saking semangatnya mau sekolah"
"Lalu sekarang apa masalahnya?" tanya Bryan
"Beberapa hari ini Hana terlihat murung di sekolah, setiap aku tanya dia kenapa Hana hanya menggeleng"
"Aku gak tahu apa yang terjadi tapi tadi malam Hana bilang malas ke sekolah karena itulah aku ajak Hana jalan-jalan"
"Kenapa kamu tidak bilang pada kakak?"
"Karena niat ku mengajak Hana ke mall untuk mencari tahu apa yang terjadi, awalnya aku akan ajak Hana bermain dulu sampai puas setelah itu aku akan tanya dia"
"Tapi kakak tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya" ucap Diana kesal
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Bryan
"Ya mana aku tahu, kakak cari tahu saja sendiri" jawab Diana yang masih kesal pada suaminya
"Sayang jangan gitu dong" ucap Bryan
"Hah.... sebaiknya untuk sekarang Hana jangan ke sekolah dulu sebelum kita tahu apa yang terjadi"
"Aku tidak mau Hana sampai trauma ke sekolah, kakak jangan bicara apapun biar aku saja yang bicara dengan Hana"
"Ingat kak aku gak mau sampai Hana tertekan jadi kakak tidak boleh memaksa dia, sekolah memang penting tapi untuk sebagian anak sekolah itu bisa saja menjadi traumanya kelak"
"Iya maaf, kamu benar" ucap Bryan
"Cih sekarang baru bilang aku benar" ucap Diana yang masih kesal
"Habisnya kakak menyebalkan"
Bryan mendekat dan mengangkat tubuh Diana lalu membawanya ke sebuah pintu yang berada di ruangan mewah itu
"Argghh..! kakak ngapain?! Turunkan aku!"
"Kakak belum kasih kamu hukuman sayang"
"Hukuman apaan kata kakak aku benar" ucap Diana
"Ya kamu memang benar tapi kamu gak jujur sama kakak" jawab Bryan
"Gak jujur gimana? barusan aku udah jujur, aku udah katakan semuanya" Ucap Diana
"Iya barusan, tapi tadi pagi kamu sudah kerja sama dengan Hana kan buat bohongin kakak"
"Mana ada" elak Diana
"Iya ada" jawab Bryan
"Enggak" jawab Diana kekeh
"Ada"
"Kak Bryan....!" Diana berteriak karena Bryan menjatuhkan tubuhnya ke kasur
Cup
Bryan mengecup bibir Diana yang sangat berisik, membuat Diana seketika terdiam sambil melototi suaminya
"Tadi pagi kamu kecup pipi kakak untuk sogokan kan?" tanya Bryan sambil menatap manik mata indah milik istrinya
"Mana ada"
"Tidak, kakak yakin karena hal ini kan? Karena biasanya kamu gak pernah kasih kakak kecupan"
"Gak pernah gimana kakak kan tiap pagi dapat" omel Diana
"Tidak, itu kakak yang kecup kamu duluan bukan sebaliknya"
Glek
Diana menelan salivanya kasar
"Ayo ngaku" desak Bryan
"I... Iya" jawab Diana dengan gugup
"Nah kan dasar gadis nakal" ucap Bryan sambil tersenyum mengejek pada istrinya
"Kak aku sudah bukan gadis kamu tahu itu" jawab Diana
"Oh iya kakak lupa kamu kan sudah jadi wanita" ucap Bryan sambil terkekeh
"Kak Bryan...."
"Ha ha ha oke sekarang waktunya hukuman" ucap Bryan sambil tertawa
"Kakak mau pukul aku?" tanya Diana
"Iya kakak mau pukul kamu" jawab Bryan
"Kakak gak boleh pukul aku" ucap Diana
Bryan membuka ikat pinggangnya membuat Diana seketika ketakutan dia mengira Bryan akan sungguh memukulnya dengan ikat pinggang itu
"Kak, Kak Bryan gak boleh pukul aku nanti aku laporin ke polisi" ancam Diana
"Laporin aja sayang"
"Kak...!!" Diana berteriak ketakutan dan langsung menutup matanya Karen Bryan sudah mengangkat tangan kanannya yang memegang ikat pinggang
Namun dia tidak merasakan apa pun perlahan dia membuka matanya ternyata Bryan membuang ikat pinggang yang dia pegang, membuat Diana bernafas lega
"Kak"
"Hmmm?" jawab Bryan sambil melepas pakaiannya lalu membuangnya sembarangan
"Kakak ngapain buka baju?" tanya Diana
Bryan tidak mendengarkan istrinya dia merangkak mendekati istrinya sedangkan Diana terus mundur dan terpojok di antara Headboard ranjang dan tubuh Bryan
"Kakak jangan macam-macam"
"Cuma satu macam kok sayang" jawab Bryan
"Kak kita tidak sedang di rumah loh"
"Kenapa kalau tidak di rumah? toh sama saja" jawab Bryan
"Kak nanti kalau ada yang datang gimana?" tanya Diana mencoba mencegah niat suaminya
"Tidak akan ada yang datang ini ruangan kakak, tidak akan ada yang bisa masuk tanpa persetujuan dari kakak"
Glek
.
.
.