Mr. Bryan

Mr. Bryan
Rencana Pernikahan



"Panggil papa" ucap Heru sambil tersenyum karena Diana sangat sopan begitu juga mama Bryan, dia sepertinya akan sangat senang jika mendapat menantu seperti Diana.


.


.


.


"Ah baiklah papa" ucap Diana mengerti


"Bagus, Nak siapa nama mu?" tanya Heru


"Diana Queenza pa"


"Nama yang cantik kalau begitu papa panggil Queenza saja boleh?"


"Iya boleh" ucap Diana sambil tersenyum


"Oke papa langsung saja, apa kalian sungguh akan menikah?"


"Iya pa" jawab Bryan menyela


"Diamlah bocah tengil aku tidak bertanya pada mu" sahut papa Heru


"Baiklah" ucap Bryan lesu


Diana tersenyum melihat Bryan tidak bisa membantah papanya


"Nak Queenza"


"Iya pa?"


"Apa kalian sungguh akan menikah?" Papa Heru mengulangi pertanyaannya


Diana bingung harus mengatakan apa di satu sisi ia memang mengatakan pada Bryan untuk menikahinya demi Hana tapi di satu sisi ia sebenarnya belum siap untuk menikah.


Semua orang di sana sedang menunggu Jawaban dari Diana dengan sabar


"Pa, saya tadi memang meminta kak Bryan menikahi saya demi Hana saat keadaan emosi, karena kak Bryan tidak sengaja membentak Hana" jelas Diana


"Lalu apa kamu berubah pikiran?" tanya Heru


"Saya tidak tahu, saya ikut kata kak Bryan saja" ucap Diana


"Apa kamu menyukai Bryan?" tanya Heru


Diana menundukkan kepalanya sambil menggelengkan kepalanya


"Saya tidak tahu, tapi saya menyukai Hana" ucap Diana sambil menatap Hana


"Hana cuka Mommy cuga" ucap Hana sambil mengalungkan tangannya pada leher Diana


Semua orang yang melihat kedekatan kedua gadis berbeda umur itu tersenyum bahagia terutama kedua orang tua Bryan.


Karena biasanya semua wanita yang mendekati Bryan Hanya berpura-pura perhatian pada Hana.


Sedangkan Diana tentu berbeda, di mata mereka Diana terlihat sungguh tulus pada Hana dan tidak sedang di buat-buat.


"Kamu yakin terserah apa kata Bryan?" tanya Heru memastikan


Diana mengangguk dan menjawab "iya pa dan juga apa kata orang tua saya"


"Baiklah kalau itu keinginan mu nak" ucap Heru


"Bryan bagaimana dengan mu?" kali ini Heru bertanya pada putranya


"Aku sih setuju pa sekarang pun ijab qobul ayok" ucap Bryan semangat


"Dasar sudah ngebet banget lu" ucap Rico


"Diamlah bocah tengil" sahut Bryan


"Tidak bisa mendadak begitu Bryan nanti apa kata orang yang ada mereka akan menuduh yang tidak tidak" jelas papa Heru


"Iya pa aku cuma bercanda kalau sekarang aku belum nyiapin apa yang di perlukan" ucap Bryan


"Iya tidak boleh terburu-buru" sahut Anna


"Ya sudah, nak Queenza bagaimana kalau 3 hari lagi kami ke rumah orang tua mu apa bisa?" tanya Heru


"Eh jadi beneran nih pa?" tanya Diana


"Ha ha tentu saja nak"


"Tapi kita baru saja ketemu kemarin"


"Tidak masalah kan bisa saling kenal nanti kata orang pacaran setelah nikah itu lebih indah" ucap Bryan


"Keluarga kita juga belum saling kenal kak aku takut mereka memikirkan yang tidak-tidak"


"Gampang mah itu kamu tenang saja nanti 3 hari lagi kan juga bakalan kenal aku juga akan menjelaskan pada orang tua mu agar tidak berpikir yang tidak-tidak" jawab Bryan


"Baiklah nanti aku akan katakan pada keluarga ku dulu kalau kalian akan bertamu"


"Iya nanti aku akan mengantar mu pulang" ucap Bryan


"Iya, tapi bagaimana dengan Hana apa dia bakalan membolehkan aku pulang? Dia bahkan mengeratkan pelukannya sekarang" ucap Diana sambil menatap Hana


Mendengar ucapan Diana pada Bryan papa Heru memanggil cucunya itu


"Hana sayang"


"Iya opa?"


"Boleh opa tanya?"


"Canya apa?"


"Kemari duduk di pangkuan opa"


Hana menggelengkan kepalanya


Hana turun dari pangkuan Diana dengan enggan namun dia tetap turun dan duduk di pangkuan opa nya


"Hana mau Mommy kan?" tanya Heru setelah cucunya duduk di pangkuannya


"Iya mau"


"Yang seperti siapa?"


"Mommy Di" tunjuk Hana pada Diana


"Capi kaca uncle Dapid Mommy cidak bica cinggal dengan Hana dan Daddy" ucap Hana pada opanya


"Kenapa?" tanya Heru


"Kalena belum nicah"


"Kalau Daddy sama Mommy nikah apa Hana senang?" tanya Heru


"Cencu caja opa Hana cenang cekali" jawab Hana semangat


"Benarkah?"


"Iya, Hana mau Mommy Di"


"Baiklah kalau begitu dengarkan opa ya"


"Iya"


"Mommy Di sama Daddy Bryan bentar lagi nikah"


"Celius opa?"


"Iya, jadi sekarang biarkan Mommy Di pulang dulu untuk menyiapkan pernikahannya"


"Halus ya opa?" ucap Hana sedih


"Tentu harus, Mommy harus pulang dulu"


"Baiklah" ucap Hana lesu


"Bagus, cucu opa memang pintar"


***


Saat ini Bryan dan Diana sudah berada di depan rumah yang Diana tempati dengan temannya Ross, Diana membuka pintu rumahnya


"Istirahatlah yang cukup, wajah mu terlihat lelah" ucap Bryan khawatir


"Iya kak"


"Diana!!? Kamu sudah pulang? Teriak seseorang dari dalam dan bisa di pastikan itu Ross


"Iya.. kamu belum berangkat ke cafe?" Tanya Diana heran karena ternyata Ross belum berangkat ke cafe


"Aku terkunci di kamar mandi, tolong bukakan"


"Apa!!"


Diana panik ia tidak Lagi fokus pada Bryan, sahabatnya tengah dalam kesulitan. Diana langsung bergegas Masuk tanpa ia sadari Bryan juga ikut masuk


"Kak Bryan ngapain? Kenapa masih di sini?"


"Memangnya kamu bisa buka pintunya?"


"Ta..Pi..."


"Diana cepetan aku bisa mati lemas lama-lama di sini"


Tanpa pikir panjang Bryan mencoba membuka pintunya, sedikit sulit namun Bryan belum mengeluarkan seluruh tenaganya.


Hingga pria itu mundur beberapa langkah dan dia akan mendobrak pintu kamar mandi itu.


"Mundur!" titah Bryan dengan suara tegasnya


"Kamu minta tolong siapa Di?" Tanya Ross


"Sudah jangan banyak bicara Ross, mundur saja pintunya akan di dobrak


Satu...dua...ti


BRAKK


Diana menganga pintu sekeras itu bisa rusak bahkan hampir terlepas hanya dengan sekali dobrak, padahal dia tidak melihat Bryan mengeluarkan banyak tenaga saat mendobrak pintu itu.


"Dia memang bukan orang biasa" gumam Diana


"Ross kamu baik-baik saja? Tanya Diana setelah ia tersadar dari kekagumannya pada Bryan


Segera dia masuk ke kamar mandi itu dan sungguh di luar dugaan, penampakan Ross sungguh diluar dugaannya


Rambutnya sampai kering, matanya merah dan bisa di pastikan dia sudah lama berada di sana.


Ross keluar kamar mandi dengan sisa tenaganya di bantu oleh Diana hanya menggunakan handuk di atas lutut dan memperlihatkan belahan dadanya.


Melihat itu Bryan langsung memalingkan pandangannya agar tidak menatap tubuh teman calon istrinya itu.


"Berapa lama kamu di dalam? Kenapa tidak minta tolong tetangga? Kalau aku tidak pulang bagaimana?"


"Aku sudah teriak dari tadi tapi tidak ada yang dengar"


Dengan langkah pelan karena kakinya gemetar Diana tetap setia membantunya. Hingga lemasnya tergantikan terkejut luar biasa yang membuat tenaganya seolah terisi kembali kala melihat pria yang mereka jumpai kemarin di mall


"Astaga Diana !!


.


.


.