Mr. Bryan

Mr. Bryan
Pertemuan Calon Istri dan Mantan Istri



Bryan yang merasakan seseorang menyentuh lengannya pun berhenti kemudian berbalik untuk melihat siapa yang sangat berani menyentuh lengannya


"Mas".


.


.


.


Saat ini di hadapan Bryan dan Diana sudah ada seorang wanita berparas elok, tubuhnya tinggi semampai, pakaian yang di kenakannya juga cukup glamor


"Apa kabar?" tanya wanita itu


Bukannya menjawab Bryan malah menatap orang itu dengan tatapan tajam dan tidak suka.


"Mau apa kamu?" tanya Bryan ketus


Wanita itu hanya tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan Bryan


"Mas siapa dia?" tanyanya


"Calon istri ku" sahut Bryan datar


"Ohh jadi ini calon istri baru mu mas?" Tanya Cika


Ya orang itu adalah Cika mantan istri Bryan


"Mau apa kau?" tanya Bryan lagi dengan nada tak suka


"Aku hanya ingin menyapa saja karena barusan melihat mu keluar dari restoran" ucap Cika pada Bryan


"Hai aku Cika wanita yang dulu menikah dengan mas Bryan" kali ini Cika beralih pada Diana


Diana menatap pada Bryan lalu menatap ke arah tangan yang terulur itu.


Cika menggerakkan tangannya agar Diana segera menjabat tangannya.


"Hai aku Diana Gadis yang sebentar lagi akan menikah dengan kak Bryan" Diana membalas ucapan Cika sambil tersenyum


"Diana? Nama yang cantik dan semoga nasibmu juga cantik seperti nama mu" ucap Cika


"Apa maksud anda?" tanya Diana


"Oh tidak, aku hanya mengingatkan mu saja" ucap Cika seperti mengejek


"Memangnya kenapa sampai anda mengingatkan saya?" Diana menggenggam erat telapak tangan Bryan, karena dia tahu Bryan akan lepas kendali jika dia tidak menghentikannya


"Mas Bryan itu sangat gila kerja sampai tidak ada waktu untuk istrinya apalagi umur mu sepertinya masih muda, sangat sayang jika masa muda mu terbuang sia-sia hanya untuk menunggu dia pulang dari kantornya"


"Benarkah begitu?" tanya Diana pura-pura terkejut karena dia sudah menduga jika Bryan memang adalah pria yang gila kerja


"Benar nona Diana, karena itulah aku menceraikannya" ucap Cika dengan bangga


"Cika jaga ucapan mu aku lah yang menceraikan mu bukan kau yang menceraikan aku!" Bryan mulai terbawa emosi, Diana mengusap lengannya untuk menenangkan Bryan


"Ohh jadi maksud nona Cika, kak Bryan itu gila kerja sampai tidak ada waktu untuk keluarga, begitu?" tanya Diana


"Benar"


"Terima kasih untuk nasehatnya, tapi nona Cika menurut saya kak Bryan sampai bekerja Keras seperti itu juga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya juga kan?"


"Jika kak Bryan tidak bekerja keras lalu siapa yang akan bekerja?" lanjut Diana


"Tentu saja itu memang tugas suami tapi setidaknya dia bisa memberi waktu luang untuk keluarga kan?" jawab Cika Mengejek


"Hal seperti ini masih bisa di atur, kelak Kalau kak Bryan tidak ada waktu luang maka saya yang akan meluangkan waktu untuk menemuinya di mana pun dan kapan pun itu." ucap Diana


"Kau pikir mas Bryan akan membiarkan mu menemuinya? Ha ha tidak mungkin" ejek Cika


Bryan hendak menjawab namun Diana menahannya


"Kenapa tidak mungkin? Kak Bryan apa aku tidak boleh menemui mu?" tanya Diana sambil begelayut manja pada Bryan


"Siapa bilang tidak boleh, tentu aku akan senang sekali" jawab Bryan sambil tersenyum dan menatap ke arah Diana


"Lihat Kak Bryan bilang tidak apa-apa" ucap Diana pada Cika


"Kak Bryan kau tidak boleh ingkar janji, kapanpun dan di manapun Kakak berada kalau tidak bisa meluangkan waktu maka aku yang akan meluangkan waktu untuk menemui mu bersama Hana" ucap Diana masih manja


"Iya kakak janji"


"Bagus kami bisa pergi naik pesawat jika kakak berada di tempat jauh, lagi pula apa gunanya kakak punya banyak uang kalau tidak di gunakan oleh Hana dan aku"


"Bukankah hanya akan menumpuk di rekening, benar kan kak?" Diana mendongak menatap Bryan yang lebih tinggi darinya


"Benar sekali, calon istri ku pintar sekali" puji Bryan sambil mengusap lembut kepala Diana


"Cih baru calon istri" cibir Cika


"Memangnya kenapa kalau cuma calon istri? Toh sebentar lagi akan aku nikahi" ucap Bryan


"Nona sebaiknya kau berhati-hati, kau pasti tidak akan betah menunggunya" ucap Cika yang masih menghasut Diana


"Maaf nona Cika bagi saya tidak apa-apa menunggu toh saya bisa menyusulnya kapanpun seperti yang saya katakan barusan, saya bisa pergi jalan-jalan atau pergi shopping dengan begitu saya bisa membantu meringankan beban kak Bryan dengan cara menghabiskan uangnya, benar tidak kak?" dia kembali mendongak menatap Bryan


"Benar sekali sayang" ucap Bryan santai akan tetapi di dalam hatinya dia tertawa melihat kesombongan calon istrinya itu


"Sombong sekali kamu sayang, aku mau lihat apakah kau sanggup menghabiskan uang ku nanti, dan aku yakin kamu tidak akan sanggup" ucap Bryan dalam hati


"Dan aku masih bisa mentolerir hal ini tapi..." Dia menjeda ucapannya


Diana menatap Bryan, lalu beralih menatap Cika


"Tapi aku tidak akan pernah bisa mentolerir dua kesalahan, kau tahu apa itu?" tanyanya pada Cika


"Apa?" Tanya Cika


"Kak Bryan dengarkan baik-baik" ucap Diana pada Bryan


"Baik" jawab Bryan


"Pertama aku tidak bisa mentolerir KDRT lalu yang kedua....."


"PERSELINGKUHAN" Diana menekan kalimatnya


"Aku dapat mentolerir dan memberikan kesempatan kedua untuk semua kesalahan kecuali dua kesalahan tadi."


"Jadi jika kak Bryan melakukan kedua kesalahan fatal itu jangan harap kak Bryan bisa menemukan ku" ucap Diana menyindir Cika sekaligus memberi peringatan pada Bryan


Ya seperti kata Bryan tadi 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui' dan Diana sungguh benar-benar menerapkan pribahasa itu saat ini.


Cika kesal karena seolah-olah gadis di depannya itu tengah menyindir dirinya yang dulu berselingkuh dari Bryan.


Dia langsung pergi begitu saja tanpa pamit dari harapan Diana dan Bryan


"Dasar tidak punya sopan santun pergi begitu saja apakah dia merasa tersindir? Dia bahkan tidak bertanya sedikit pun tentang putrinya" gerutu Diana


"Sayang" panggil Bryan


"Ya?"


"Terima kasih" ucap Bryan


"Untuk apa?"


"Karena kau mengerti keadaan ku dan sudah membantu ku untuk mengusir nenek lampir itu, sepertinya dia benar-benar merasa tersindir"


"Kak Bryan aku tidak main-main dengan ucapan ku jadi kak Bryan harus mengingat dengan baik apa yang aku katakan barusan"


"Tentu saja kakak akan mengingatnya"


"Apa saja?" tanya Diana


"Pertama jika aku tidak ada waktu luang maka kau, Hana dan calon anak-anak kita kelak yang akan meluangkan waktu untuk menemui ku di manapun dan kapanpun"


"Calon anak-anak? Sepertinya aku tadi tidak mengatakan itu?" ucap Diana


.


.


.