Mr. Bryan

Mr. Bryan
Butik



Di dalam mobil


"Apa kabar sayang?" tanya Bryan pada Diana


"Baik, kabar kakak dan Hana gimana?" tanya Diana


"Hana juga baik, tapi...."


"Tapi apa?"


"Kakak yang gak baik-baik saja" ucap Bryan lesu


"Kenapa apa kakak sakit? Kalau sakit kita batalkan saja ke butiknya" ucap Diana khawatir


Bryan terkekeh


Diana mengernyitkan keningnya "Kenapa kakak tertawa?"


"kakak tidak sakit kok, kenapa kamu khawatir?"


"Tidak juga, lalu kenapa kakak bilang tidak baik-baik saja?"


"Karena kakak rindu pada mu" ucap Bryan dia menoleh sebentar untuk melihat reaksi Diana


"Ihs kakak mah suka gombal" ucap Diana tersipu


"Ha ha ha siapa yang gombal memang kenyataan kok"


"Tau ah aku kesel" Diana menatap ke luar


"Gak udah malu gitu" goda Bryan


"Siapa yang malu, aku cuma gak suka kak Bryan gombal terus"


"Kenapa? Jantungnya deg deg kan ya?" tanya Bryan menggoda Diana


"Gak" jawab Diana agak ketus


"Lalu kenapa wajahnya merah gitu?" ucap Bryan masih dalam mode menggoda Diana


"Wajah ku merah karena kesal sama kakak"


"Imut banget sih kalau lagi malu"


"Terserah apa kata mu kak"


"Dasar nyebelin, bisa kan pura-pura gak tahu gitu" gerutu Diana


Bryan tersenyum melihat Diana yang malu-malu


Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di mall, dimana butik langganan Anna berada


"Oke kita sudah sampai" ucap Bryan setelah selesai memarkirkan mobilnya


"Ayo turun" ajak Bryan


"Iya" Diana membuka selt beltnya dan turun


Bryan menggandeng lengan Diana dan berjalan masuk ke dalam mall


"Capek gak? tadi pas kakak jemput kamu baru sampai ya?"


"Gak capek kok, tadi pas di jemput kakak aku emang baru sampai"


"Ya sudah kamu gandeng kakak terus, nanti kalau capek biar gak jatuh karena ada kakak yang rangkul"


"Dih itu mah maunya kakak aja" ucap Diana dan melepaskan gandengan tangan Bryan


"Ha ha ha kan Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui"


"Dasar genit"


"Sudah ayo, itu butiknya" Bryan menarik Diana pelan menuju sebuah butik yang cukup mewah


Bryan dan Diana masuk ke dalam butik dan di sambut pemiliknya yang merupakan teman baik Anna


"Selamat siang tante" sapa Bryan


"Siang Bryan, ini calon istri mu?" tanya Nara ramah


"Iya tan, sayang kenalin ini teman baiknya mama"


"Assalamualaikum tante, nama saya Diana" ucap Diana sambil mencium punggung tangan Nara


"Wa'alaikum salam, duh sopan sekali kamu nak, nama tante Nara"


"Salam kenal tante Nara"


"Salam kenal, Bryan kamu beruntung calon istri mu kali ini sangat sopan dan juga cantik"


Bryan hanya tersenyum, dia mengerti kenapa teman mamanya itu bicara seperti itu.


Karena dulu saat dia ke sana bersama dengan Cika, Cika langsung nyelonong begitu saja dan bicara kurang sopan pada Nara


"Ayo kalian ikut tante, tante sudah siapkan pakaian terbaik di butik tante"


"Iya tan"


Mereka mengikuti Nara dari belakang, sesampainya di sebuah ruangan Diana di buat takjub


"Wah keren sekali" ucap Diana


Bryan dan Nara tersenyum melihat Diana yang takjub dengan ruangan itu


"Diana gimana bagus tidak butik tante?"


"Eh maaf tan saya jadi tidak fokus, butik tante luar biasa bikin iri deh"


"Kamu suka?"


"Iya"


"Kapan-kapan kamu boleh kok mampir ke sini"


"Beneran nih tan?"


"Iya"


"Terima kasih tante"


"Sama-sama, tante juga senang kalau ada temennya"


"Iya tan Kapan-kapan saya mampir ke sini"


"Iya"


"Ayo silahkan duduk, tante keluarin pakaiannya dulu"


"Iya tan" ucap Diana dan Bryan bersamaan


"Kak, kita kan cari pakaian untuk akad nikah kan?"


"Iya kenapa?"


Bryan tersenyum "kamu tenang saja mama sudah bilang kok ke tante Nara kalau kita cari pakaian adat"


"Ohh" ucap Diana sambil mengangguk


"Sayang" panggil Bryan


"Hmm?" Diana menoleh ke arah Bryan


"Kamu suka ya lihat baju-baju?" tanya Bryan karena sejak tadi baru masuk ke butik Diana tidak henti-hentinya menatap pakaian-pakaian yang ada di sana


"Iya suka benget"


"Kalau kamu mau sekalian nanti beli untuk di pakai nanti" tanya Bryan


"Eh bukan itu maksud ku kak" ucap Diana kelabakan


"Lalu?"


"Dulu cita-cita ku setelah lulus SMK mau jadi desainer dan punya butik, tapi tidak kesampaian"


Bryan mengusap lembut kepalan calon istrinya


"Maaf"


"Tidak apa-apa kak" ucap Diana tersenyum


"Kalau kamu mau nanti kakak buatkan butik untuk mu" tawar Bryan


"Eh tidak usah kak, aku handle cafe aja udah kewalahan"


"Tidak masalah nanti kita pakai pekerja buat handle butik mu, nanti sesekali kamu pergi cek"


"Gak usah deh kak, jadi gak enak nih"


"Sayang lihat kakak" Bryan memegang kedua pipi Diana agar menatapnya


"Kita akan menikah, dan setelah menikah apa yang aku miliki adalah milik mu juga jadi kamu tidak usah sungkan pada kakak, mengerti?"


"Tapi kak..."


"Tidak ada bantahan"


"Dasar pemaksa" cibir Diana


Tangan Bryan yang masih berada di kedua pipi Diana membuat wajahnya terlihat sangat lucu di mata Bryan.


"Mengerti tidak?" tanya Bryan sambil menggoyangkan kepala Diana


Diana mengangguk "Iya ngerti kak"


"Emmm bagus, kamu pikir-pikir lagi tawaran kakak, nanti katakan pada kakak jika kamu mau"


"Emm terima kasih"


"Ekhmm permisi" ucap Nara


"Eh" Diana terkejut karena terciduk oleh Nara dia langsung melepaskan tangan Bryan dari wajahnya


"Tidak apa-apa tante ngerti kok" ucap Nara sambil menahan tawanya


"Nah ini koleksi tante, kalian pilihlah yang kalian suka"


"Iya tante, sayang kamu pilihlah"


"Aku bingung pilihnya, semuanya bagus-bagus"


"Ke ke ke santai saja sayang pilihlah perlahan" ucap Nara


"Iya tan"


Satu jam lebih mereka memilih pakaian dan dekorasi untuk akad nikah, sekarang mereka berdua sudah pamit pulang


"Tante terima kasih banyak" Diana mencium punggung tangan Nara


"Sama-sama sayang, Kapan-kapan tante tunggu kamu di sini" ucap Nara sambil memeluk Diana


"Tentu"


"Tan, kami pamit" ucap Bryan


"Iya hati-hati di jalan"


"Iya"


Mereka berdua meninggalkan butik Nara


"Kita makan siang dulu ya" ucap Bryan


"Iya kak, aku sudah lapar"


"Sama kakak juga, ayo kita ke restoran favorit kakak"


"Ayo"


Mereka menuju restoran yang ada di mall tersebut, restoran itu berada di lantai yang sama dengan butik milik Nara berada.


Sesampainya di restoran mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing.


Sambil menunggu pesanan datang mereka berbincang-bincang, 15 menit kemudian pesanan sudah tiba.


Mereka langsung melahap makanan mereka, karena waktu makan siang sudah lewat 1 jam yang lalu sehingga membuat mereka lapar.


Setelah makan siang Diana pamit ke toilet yang ada di dalam restoran sedangkan Bryan dia pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka tadi


"Sudah?" tanya Bryan yang menunggu sambil menyender di meja kasir setelah Diana datang menghampirinya


"Iya"


"Ayo kita pulang" ajak Bryan


"Kakak sudah bayar?" tanya Diana


"Sudah dong"


"Ayo pulang" ajak Diana


Di saat mereka keluar restoran


"Mas Bryan" panggil seseorang


"Mas Bryan tunggu" panggilnya lagi dan berlari untuk meraih lengan Bryan karena Bryan tidak menghiraukan panggilan pertamanya


Bryan yang merasakan seseorang menyentuh lengannya pun berhenti kemudian berbalik untuk melihat siapa yang sangat berani menyentuh lengannya


"Mas"


.


.


.