
"Sayang... Hana kan tahu sendiri Mommy sangat menyayangi Hana"
Hana menganggukkan kepalanya
.
.
.
"Capi meleka bilang Mommy cuma cayang Hana kalena Mommy belum punya dedek bayi, capi nanti calau Mommy punya dedek bayi Mommy gak bakal cayang Hana lagi"
"Astagfirullah.... itu tidak benar sayang, Hana jangan percaya sama ucapan teman-teman Hana, mereka semua bohong sayang" ucap Diana sambil memeluk Hana
Hati Diana kembali sakit, ketakutannya dulu sebelum menikah dengan Bryan terjadi.
"Sayang dengarkan Mommy" ucap Diana
"Sampai kapan pun Mommy akan selalu menyayangi Hana, dan jika nanti Mommy punya dedek bayi rasa sayang Mommy pada Hana tidak akan berkurang sedikit pun"
"Memangnya Mommy punya dedek bayi?" tanya Hana sambil menatap wajah Diana
"Sekarang belum punya sayang, kenapa? apa Hana tidak mau punya adik?"
Hana menggeleng
"Hana cuka Mommy punya dedek bayi, Hana juga mau adik bayi"
Diana tersenyum
"Capi Hana cakut Mommy gak cayang Hana"
"Hana sayang dengarkan Mommy, Mommy akan tetap sayang Hana walaupun Mommy punya dedek bayi"
"Hana tahu kenapa?" tanya Diana
Hana menggeleng
"Karena tujuan Mommy menikah dengan Daddy karena Hana, Mommy gak bakalan menikah dengan Daddy kalau bukan karena Hana"
"Karena Mommy sangat sayang pada Hana dan kalau nanti Mommy punya dedek bayi, Hana tidak akan kehilangan kasih sayang Mommy tapi kasih sayangnya akan bertambah banyak"
"Beltambah Banyak?" tanya Hana
"Iya, kasih sayang dari Mommy lalu kasih sayang dari dedek bayi, adik Hana nanti pasti akan sangat sayang pada Hana jadi nanti Hana harus jadi kakak yang baik dan menyayangi adiknya"
"Jadi kacih cayang ke Hana bertambah?"
"Iya sayang, dari Daddy dari Mommy dari Opa dan oma, kakek, nenek, lalu Aunty Bella, om Zain, om Kiano, Aunty Ayla, om Maulana lalu dari adik Hana nanti"
"Cemua olang cayang Hana?"
"Tentu saja sayang, semua keluarga Hana sangat sayang pada Hana"
Hana memeluk Diana
"Hana cenang Mommy"
"Iya sayang" ucap Diana sambil mengusap punggung Hana dengan lembut
"Mommy"
"Ya sayang?"
"Hana mau dedek bayi cekalang" ucap Hana yang masih memeluk Diana dengan erat
"Sekarang?" tanya Diana terkejut
"Iya Mom, cekalang"
"Tidak bisa sekarang sayang, dedek bayinya harus di buat dulu"
"Calau begitu buat cekalang Mom" desak Hana
Diana terkekeh
"Kalaupun buat sekarang dedek bayinya gak langsung jadi sayang, Hana ingat tidak waktu perut Aunty Bella besar?"
Hana menganggukkan kepalanya
"Perut Aunty Bella besarnya lama kan sayang?"
"Iya lama cekali"
"Nah saat itu dedek bayinya masih tumbuh di perut aunty Bella, setelah dedek bayinya tumbuh besar baru dedeknya lahir"
"Cenapa begitu Mom?"
"Hemm kenapa ya...?"
"Mommy kacih tahu Hana" ucap Hana sambil menggoyang lengan Diana
"Begini sayang, sebelum lahir dedek bayi itu sangat kecil"
"Kecil?"
"Iya, kira-kira segini" ucap Diana sambil menunjukkan ukurannya pada Hana
"Cenapa kecil cekali Mom? dedek kembar kok becar?"
"Dedek kembarkan sudah tumbuh di perut aunty Bella makanya saat lahir besar, tapi sebelum lahir ukuran dedek kembar kecilnya segini"
"Jadi sebelum lahir dedek bayinya sekecil ini dan lambat laun akan bertambah besar, nah kalau sudah sebesar ini baru dedek bayinya lahir" ucap Diana sambil menunjukkan ukuran bayi
"Belapa lama campai dedek bayinya becar?"
"Cembilan?"
"Iya, satu bulan ada 30 hari jadi kalau sembilan bulan sekitar 270 hari, jadi Hana harus menunggu 270 sampai 280 hari"
Hana menggerakkan jari jemarinya untuk menghitung "aduh! Hana pucing"
"Ha ha ha" Diana tertawa melihat keimutan Hana
"Cenapa lama cekali Mom, Hana kan mau adik cekarang"
"Hana harus bersabar dedek bayinya kan harus tumbuh besar dulu"
"Oh iya"
Diana tersenyum
"Hana mau kan bersabar?"
"Iya Mom" jawab Hana sambil mengangguk
"Bagus gadis baik, Hana berdoa sama Allah supaya cepet punya adik"
"Iya Mom"
"Sini peluk Mommy sayang" ucap Diana sambil merentangkan kedua tangannya, dan Hana memeluk tubuh Mommy
"Mommy akan berusaha untuk memberi mu adik sayang" ucap Diana dalam hati
Keesokan harinya Bryan yang sudah mendengar apa yang terjadi pada putrinya langsung menghubungi pihak sekolah untuk memanggil para orang tua murid yang terlibat.
Bryan mengamuk di sana, dia memarahi semua orang tua murid yang sudah terbukti bersalah.
"Bagaimana cara kalian mendidik anak kalian, hah?!" bentak Bryan
"Bagaimana bisa anak sekecil itu mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti itu!"
"Seharusnya sebagai orang tua kalian mendidik anak kalian dengan baik! tapi kalian malah mengajari mereka hal seperti itu!"
"Siapa bilang istri ku adalah ibu yang jahat! katakan siapa!"
"Istri ku perempuan baik, dia rela melepas masa mudanya demi putri ku jika kalian tidak tahu apapun tidak perlu berkomentar!"
"Ucapan kalian itu berimbas pada putri dan istri ku, mulut kalian sungguh tidak tahu sopan santun"
"Maaf tuan saya hanya mengatakan apa yang saya dengar, saat itu saya sedang bicara dengan ibu-ibu lain saya tidak tahu bahwa anak-anak kami akan mendengar apa yang kami ucapkan" ucap salah satu orang tua murid
"Karena itulah aku mengatakan mulut kalian itu tidak punya sopan santun!" bentak Bryan
"Maaf tuan, maafkan kami"
"Maaf saja tidak akan cukup!"
Tok tok
Ceklek pintu terbuka
Muncullah seorang wanita dari balik pintu
"Kak Bryan...." panggilnya
"Sedang apa kamu di sini" ucap Bryan
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kakak di sini? bukankah harusnya kakak di kantor?"
"Hah... " Bryan menghela nafas
"Sayang kamu keluarlah, aku akan menyelesaikan ini"
"Aku tidak akan keluar, ayo lanjutkan marah-marahnya" tantang Diana
"Nyonya tolong maafkan kami" ucap salah satu orang tua murid pada Diana
"Tolong maafkan kami, kami tahu salah"
"Hah.... " kali ini Diana yang menghela nafas
"Bangunlah jangan seperti ini" ucap Diana pada ibu-ibu yang tengah memohon maaf.
"Maafkan kami nyonya"
"Ibu-ibu duduklah di atas jangan begini" ucap Diana
"Tolong maafkan kami, kami akan bangun setelah mendapat maaf dari anda"
"Tck kalian benar-benar tidak mendengarkan ucapan ku" ucap Diana yang mulai jengkel dengan kelakuan mereka
Sebenarnya Dian juga sangat marah tentang kejadian yang menimpa putrinya, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
"Bangun sekarang atau saya tidak akan pernah memaafkan kalian!" ucap Diana dengan tegas
Mendengar ucapan Diana mereka segera bangun dan duduk di kursi yang berada di ruang kepala sekolah.
Sikap tegas Diana membuat semua orang yang ada di sana cukup kagum. Sedangkan Bryan merasa sangat bangga pada istrinya itu.
Diana menarik pelan lengan suaminya agar duduk.
.
.
.