Mr. Bryan

Mr. Bryan
Menakutkan



"Calon anak-anak? Sepertinya aku tadi tidak mengatakan itu?" ucap Diana


.


.


.


"Ya kamu memang tidak mengatakannya karena mungkin kamu lupa, suatu saat nanti Hana pasti akan meminta adik dari kita jadi kamu bersiaplah" bisik Bryan di akhir kalimat


Blush wajah Diana memerah


"Lanjutkan yang kedua dan ketiga" ucap Diana untuk mengalihkan rasa malunya


"Oke, Kedua aku tidak boleh KDRT, baik itu melalui ucapan dan perlakuan"


"Karena?" tanya Diana memperjelas


"Karena kau tidak akan pernah memaafkan kesalahan itu"


"Benar, lalu yang ketiga?"


"Yang ketiga, tidak ada orang ketiga di antara kita / perselingkuhan karena kau juga tidak akan pernah memaafkan kesalahan ini"


"Jika Dua kesalahan fatal itu aku lakukan maka aku tidak akan pernah bisa bertemu dengan mu lagi" lanjut Bryan


"Tunggu ada tambahan, jika kak Bryan melakukan itu aku akan pergi jauh bersama calon anak-anak kita kelak dan kak Bryan tidak akan bisa menemukan kami"


"Iya, kalau aku sampai melakukan hal ini kau akan pergi dengan anak-anak kita kelak dan aku tidak akan bisa menemukan mu" ucap Bryan mengulangi perkataan Diana


"Bagus kak Bryan memang pintar, ingatan kakak kuat sekali" puji Diana


"Tentu saja siapa dulu" ucap Bryan sombong


"Dasar sombong baru aja di puji dikit sombongnya sudah selangit, sekarang kita pulang dan kak Bryan harus mengingat hal ini baik-baik"


"Baik nona muda" ucap Bryan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya


"Ha ha ha apaan sih kak" Diana tertawa mendengar panggilan Bryan


"Ayo pulang, tapi sebelum itu kakak akan mengajak mu ke suatu tempat" ucap Bryan sambil menarik Diana pelan


"Kemana?" tanya Diana


"Sudah ikut saja nanti kamu tahu"


Diana berhenti dan menyilangkan kedua tangannya di depan dad*nya


"Kenapa berhenti?" tanya Bryan dia menoleh ke belakang


"Kakak tidak akan macam-macam kan?" tanya Diana sambil menatap curiga pada Bryan


"Ke ke ke" Bryan terkekeh dan melangkah mendekati Diana


"Kalau iya bagaimana? kamu akan kabur?" bisik Bryan tepat di telinga Diana


"Kak..."


"Ayo, kakak hanya bercanda" meraih telapak tangan Diana dan menariknya pelan agar segara keluar dari mall


Sesampainya di parkiran Bryan membukakan pintu mobil dan meminta Diana agar segera naik


"Ayo sayang cepat naik, tunggu apa lagi?"


"Kita mau kemana sih? kakak beritahu aku dulu baru aku naik"


"Kok kamu malah cerewet banget sih"


"Habisnya kakak main rahasiaan sih, katakan dulu"


"Kalau kakak kasih tahu kamu sekarang jadi gak seru"


"Apanya yang seru?"


"Kejutannya, kakak kan mau kasih kamu kejutan"


"Kok mencurigakan begini sih?"


"Ayolah Ratu ku naik agar kita cepat sampai di tempat itu" rayu Bryan


"Katakan dulu" ucap Diana tetap kekeh


"Oke dengarkan baik-baik"


Diana mengangguk "Oke"


Bryan mendekati Diana seolah-olah dia akan berbisik padanya tapi..


"Ahkkk" Diana berteriak karena terkejut


Bryan menipunya bukannya mengatakan akan kemana, dia malah mengangkat tubuh Diana dan memasukkannya ke dalam mobil


"Ishhh kakak menipu ku" Diana meronta ingin keluar namun Bryan menahan tubuhnya


"Dengar baik-baik sayang, kakak punya kejutan untuk mu jadi kamu ikut kakak dan jangan membantah" Bryan memasang seat belt ke tubuh Diana


"Tidak mau"


"Kenapa? kamu takut?" tanya Bryan


"Iya"


"Tidak perlu takut, kakak tidak gigit"


"Tidak mau aku mau turun kak Bryan tidak boleh memaksa" memberontak ingin turun


"Diana ikut aku atau aku cium" ancam Bryan


"Coba saja kalau berani" tantang Diana dengan mata yang melotot


"Siapa takut" Bryan menyeringai


"Ini tempat umum kak Bryan tidak aka.... hmmpp"


Bryan membungkam bibir yang sangat cerewet di hadapannya itu


"Hmppp" Diana memukul dad* bidang Bryan agar melepaskannya


Namun bukannya melepaskan pagutannya Bryan malah menarik tengkuk belakang Diana agar memperdalam cium*nnya


Beberapa menit berlalu Diana yang mulai kehabisan nafas memukul Bryan agar melepaskan cium*nnya


Bryan yang mengerti kode dari gadisnya itu langsung menghentikan kegiatannya, Dia menatap wajah Diana yang memerah dengan mata yang masih terpejam.


Bibirnya yang agak bengkak karena ******an Bryan terlihat sangat seksi di mata Bryan ingin sekali dia merasakannya kembali, Bryan menyeka saliva di bibir Diana dengan ibu jarinya.


"Bibir mu manis dan lembut sayang, lain kali kakak minta lagi ya" bisik Bryan


Diana melotot ke arah Bryan


"Kenapa mau lagi?" tanya Bryan terkekeh


"Gak!"


"Lalu kenapa melotot gitu?"


"Ihh kak Bryan mah suka nyosor kayak bebek gimana kalau ada orang yang lihat" Diana mencubit pinggang Bryan


"Aduh aduh sakit sayang lepasin" cubitan tangan Diana di tubuh Bryan terasa sangat sakit


"Makanya suruh siapa main nyosor"


"Kan kamu yang nantang kakak tadi" Bryan menyalahkan Diana


Diana yang mendengar dirinya di salahkan menambah kekuatan cubitannya, padahal benar memang dirinya yang menantang Bryan untuk melakukan itu


"Aduh..! aduh!..! ampun sayang ku cinta ku, maafin kakak arghh"


Diana melepaskan cubitannya dari tubuh Bryan, Bryan meringis kesakitan sambil mengusap bekas cubitan itu.


"Sakit tahu sayang" keluh Bryan cemberut


"Salah kakak, siapa suruh... " Diana tidak melanjutkan ucapannya karena di sela Bryan


"Kan kamu yang nantang"


"Mau aku cubit lagi??" ancam Diana


"Eh enggak enggak, kakak yang salah kok maaf ya"


"Hmpp" Diana membuang muka ke arah lain


"Hah... perempuan selalu benar" gumam Bryan


"Apa kakak bilang?" Diana yang mendengar gumaman Bryan langsung menoleh kembali ke arah Bryan


"Enggak kok sayang kakak gak bilang apa-apa " ucap Bryan sambil tersenyum


"Bohong, aku tuh denger tahu"


"Enggak kamu salah dengar kok"


"Jadi kakak bilang aku tuli gitu?"


"Salah lagi" gerutu Bryan


"Kak Bryan jawab"


"Enggak sayang, sebaiknya kita berangkat sekarang keburu sore"


"Eh aku belum selesai"


Cup


Bryan mengecup kembali bibir Diana sekilas, membuat pemilik bibir itu melotot hendak kembali protes.


Tapi sebelum Diana akan protes lagi Bryan sudah lebih dulu menutup pintu mobil.


"Kak Bryan!!!" teriak Diana


Bryan langsung berlari ke arah pintu mobil yang ia tempati untuk mengemudikan mobilnya.


Bryan langsung masuk ke dalam mobil lalu segera mengunci pintu mobil karena Diana sudah melepas seat belt nya dan hendak keluar.


"Ih kok gak bisa di buka, kak cepat buka pintunya"


Bryan meraih pundak Diana untuk menghentikan apa yang di lakukan gadisnya itu, dia juga meraih seat belt dan memasang kembali ke tubuh gadisnya.


"Dengar sayang, mainnya sudah cukup sekarang kamu ikut kakak jika tidak kakak tidak akan membiarkan mu pulang malam ini, kakak akan membawa mu ke apartemen kakak dan kamu tahu sendiri apa yang di lakukan pria dan wanita di dalam satu ruangan" ancam Bryan dengan nada yang sangat seram di telinga Diana


Glek Diana menelan salivanya kasar, kali ini dia takut dengan ancaman Bryan


"Mengerti?" tanya Bryan


Diana mengangguk pelan


"Gadis baik, sekarang kita berangkat" Bryan mengusap lembut kepala Diana lalu melajukan mobilnya setelah memasang seat belt di tubuhnya.


"Dia sangat menakutkan" batin Diana menjerit ketakutan


.


.


.