
"Oke pertanyaan terakhir, apa kamu mencintai ku?" pertanyaan terakhir membuat jantung Bryan berdetak kencang menunggu jawaban dari gadisnya.
.
.
.
Diana terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Ka..k a...ku.." ucap Diana gugup
"Katakan sayang" ucap Bryan lembut dan terdengar santai
Suara lembut Bryan yang terdengar santai itu sangat berbanding terbalik dengan kondisinya di balik sana.
Di tempatnya saat ini Bryan malah berkeringat dingin menunggu jawaban gadisnya, Padahal ruangan itu ber-AC.
"Apa kakak akan mencintai ku dan menyayangi ku seumur hidup mu?" Bukannya menjawab, Diana malah mengajukan pertanyaan pada Bryan
"Tentu saja, bukan hanya akan tapi saat ini aku sudah mencintai mu, aku mencintaimu dari saat pertama melihat mu"
Mendengar pernyataan cinta dari Bryan, membuat Diana terkejut bahkan saat ini jantungnya berdetak kencang.
"Kakak yakin?" tanya Diana di tengah rasa terkejutnya
"Tentu saja aku sangat yakin, dan aku adalah pria yang selalu menepati perkataan ku"
"Katakan sayang apa kamu mencintai ku?" tanya Bryan lagi
"Kalau aku mengatakan iya bagaimana? Dan kalau aku mengatakan tidak bagaimana?"
Di balik telpon itu Bryan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari gadisnya, dia pikir sepertinya gadisnya itu tengah mengulur waktu untuk menjawab pertanyaannya.
"Kalau kamu mengatakan tidak maka kakak tidak akan menggangu mu lagi, aku akan menganggap kalau kamu bukanlah jodoh ku tapi...." Bryan menjeda kalimatnya
"Tapi?" tanya Diana
"Tapi jika kamu mengatakan walaupun hanya sedikit saja rasa cinta yang kamu miliki untuk kakak, maka aku akan memikirkan cara untuk membujuk keluarga mu agar merestui kita" ucap Bryan mantap
Diana terdiam mendengar ucapan Bryan, dia ragu apakah yang di katakan Bryan sungguh-sungguh atau hanya dusta.
"Sayang.." panggil Bryan
"Kak Bryan aku tidak tahu rasa apa ini tapi saat aku mendengar bahwa orang tua ku tidak merestui kita hati ku sakit sekali" ujar Diana, akhirnya dia memberitahu apa yang tengah ia rasakan
Di balik telp itu Bryan tersenyum lebar mendengar apa yang di katakan pujaan hatinya itu.
"Kak Bryan" panggil Diana
"Ya sayang?" jawab Bryan sambil tersenyum
"Apa kak Bryan mendengar yang aku katakan?"
"Tentu saja kakak dengar, kamu tenang saja kakak akan memikirkan cara agar kedua orang tua mu merestui kita" ucap Bryan
"Tapi kak Bryan aku tidak tahu aku mencintaimu atau tidak" ucap Diana cepat
"Kamu tidak perlu memikirkan itu lagi sayang karena kakak sudah mengerti maksud mu"
"Maksud kak Bryan apa?" tanya Diana bingung
"Sudah, kamu ada janji dengan teman mu kan" Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan
"Kakak jangan coba-coba melukai keluarga ku" ancam Diana
"Astaghfirullah sayang kakak tidak akan melakukan itu"
"Maaf kak tolong jangan dendam pada kami"
"Tidak sayang kakak menerima semua ini dengan ikhlas"
"Tentu saja dengan ikhlas karena aku akan memikirkan cara untuk membujuk kedua orang tua mu agar merestui kita, dan kita akan terus bersama" ucap Bryan dalam hati
️Diana tidak mengerti maksud dari Bryan, awalnya dia kira Bryan ikhlas dan akan melupakan dirinya tapi dia juga bingung kenapa Bryan bilang akan membujuk orang tuanya dan bagaimana caranya"
Sedangkan Bryan, dia tidak memberi tahu Diana, bahwa yang dirasakan Diana itu karena jatuh cinta pada dirinya.
Bryan ingin memberitahu Diana nanti setelah dia sudah mengantongi restu dari kedua orang tua gadisnya itu.
"Baiklah kakak tutup telponnya ya" ucap Bryan mengakhiri pembicaraan
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Diana
Setelah panggilan berakhir Diana diam sambil menatap ponselnya, entah apa yang sedang dia rasakan, dia sendiri tidak tahu.
Karena sebelumnya dia tidak pernah merasakan perasaan yang campur aduk seperti sekarang.
"Hah... apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
"Kenapa aku sangat senang saat mendengar kak Bryan akan membujuk orang tua ku?"
"Ini tidak mungkin perasaan jatuh cinta kan?" Diana mencoba menepis apa yang tengah ia pikirkan
Dia tidak mau terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti, karena nantinya akan membuat dirinya sendiri terluka dan merasakan sakit yang begitu dalam.
Tringgg Tringgg
Ponsel di genggamannya kembali berdering, kali ini dia tahu siapa si penelpon.
"Halo Ross"
"Di, kamu sudah berangkat belum?" tanya Ross
"Iya ini sudah ada di mobil, mau berangkat" jawab Diana
"Oh baiklah, aku sudah kirim bahan apa aja yang di perlukan lewat WA"
"Iya terima kasih"
"Iya, ya sudah kamu hati-hati di jalan, Assalamualaikum" ucap Ross
"Iya, Waalaikumsalam"
Setelah itu Diana langsung tancap gas menuju toko bahan kue lalu selepas dari sana dia langsung meluncur ke cafe.
Berbeda dengan Diana yang sedang gundah, Bryan yang saat ini tengah berada di ruangannya malah berteriak girang.
Sangat berbeda dengan Bryan yang biasanya, dan jika para karyawannya melihat hal ini mereka pasti akan sangat terkejut.
Karena bos mereka yang biasanya tidak banyak bicara justru berteriak girang, beruntung saat ini Bryan hanya sendirian di ruangannya.
Dia sangat senang mengetahui bahwa sebenarnya gadis incarannya itu juga merasakan hal yang sama dengan yang di rasakan dirinya.
"Yes!!! yes!!!" teriak Bryan kegirangan
"Huh... akhirnya sebentar lagi ada yang nemenin bobok" ucap Bryan bernafas lega, dia berdiri di dekat jendela yang berada di samping meja kerjanya.
"Tapi sebelum itu aku harus memikirkan cara agar bisa mendapatkan restu dari kedua orang tua Diana" Gumam Bryan
Bryan menatap keluar dimana terdapat gedung-gedung tinggi menjulang, dia termenung cukup lama, Sampai-sampai dia tidak mendengar bahwa sejak tadi ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
"Tuan!!"
Asisten Bryan yang bernama Rendy itu memanggil tuannya cukup keras, membuat Bryan terkelonjat kaget setelah mendengar panggilan yang cukup lantang keluar dari mulut asistennya itu.
"Astagfirullah, Ren kamu mau buat saya mati jantungan hah?!" teriak Bryan kesal karena di kejutkan oleh suara asistennya itu
Mendapat amukan dari tuannya bukannya takut asisten Rendy malah bersikap biasa saja, karena dia sudah biasa mendengar teriakan bosnya itu.
Namun yang membuat asisten Rendy terheran adalah sikap tuannya itu sangat berbeda dari biasanya.
Tidak biasanya Bryan melamun sampai-sampai tidak mengetahui yang terjadi di sekitarnya, yang dia tahu Bryan adalah pria yang sangat peka dengan apapun di sekitarnya.
Sudah hampir 4 tahun dirinya menjadi asisten Bryan, dia menjadi asisten Bryan dari pertama kali Bryan di angkat menjadi CEO menggantikan papanya yaitu tuan Heru, 4 tahun lalu.
Dan bosnya itu tidak pernah bersikap seperti ini kecuali saat itu, yaitu saat tahu tentang perselingkuhan istri tercintanya 3 tahun silam.
"Maaf tuan, sejak 10 menit yang lalu saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari anda"
"Karena itulah saya langsung masuk ke ruangan anda takut terjadi sesuatu pada anda"
"Lalu kenapa kamu berteriak asisten Ren?! apa kamu sudah bosan bekerja dengan saya?!" tanya Bryan yang masih kesal pada asistennya.
.
.
.