
"Tidak perlu Bu, untuk saat ini aku tidak mau" tolak Diana
.
.
.
"Baiklah, kapan kamu akan bilang pada pria itu?" tanya Ibu
"Nanti malam akan aku telp"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Tidak Bu, yang ada nanti dia nekad datang kesini ayah sedang tidak ada di rumah"
"Ya kamu benar, tadi malam ayah bilang akan pulang 2 hari lagi jadi kemungkinan besok malam ayah mu pulang jika tidak terjebak macet di jalan"
"Iya, kalau begitu aku ke kamar dulu Bu, pekerjaan ku masih banyak" pamit Diana pada ibunya
"Istirahatlah jangan terlalu banyak bekerja"
"Tidak bisa Bu, sebentar lagi cafe akan meluncurkan menu baru" Diana terhenti di dekat tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua
"Baiklah, tapi ingat jangan di forsir"
"Siap ibu negara" ucap Diana sambil memberi hormat
"Kamu itu ada-ada saja"
"Bye ibu aku ke kamar dulu" Diana naik ke lantai dua dimana kamarnya berada
"Iya"
Tiba di kamar Diana langsung bekerja di depan laptop, dia mendesain dan mengedit sendiri Semua foto, poster, buku menu dan lain-lain.
Beberapa jam kemudian 'Tringgg Tringgg' ponsel Diana berdering.
"Halo Ross ada apa?" tanya Diana, dia memencet tombol speaker lalu meletakkan ponselnya di meja
"Di, bahan-bahan banyak yang habis" ucap Ross di sebrang sana
"Di gudang kan ada" jawab Diana yang masih fokus dengan laptop di depannya
"Sudah di pakai semua"
"Kenapa tidak bilang dari kemarin? tapi sepertinya kemarin masih banyak deh" ucap Diana mencoba mengingat-ingat
"Baru saja habis Di"
"Bagaimana bisa? Sekarang masih pukul 10 pagi" tanya Diana
"Ada pesanan besar dari sebuah perusahaan"
"Hah yang benar saja?!" Diana terkejut dia menghentikan pekerjaannya lalu meraih ponselnya tak lupa dia mematikan tombol speaker
"Iya Di benar 1000 pesanan"
"Jangan bohong Ross" ucap Diana tidak percaya
"Ya ampun Diana!!! Untuk apa aku harus bohong!!"
"Sungguh?"
"Iya 500 minuman dan 500 dessert "
"Apa sekarang tidak ada sisa sama sekali di gudang?" tanya Diana
"Sisa sedikit, mungkin cukup untuk masing-masing 100 pesanan"
"Baiklah aku akan pergi beli bahannya, kamu catatkan apa saja"
"Iya"
Diana membereskan barang-barang di meja tempat ia bekerja tadi, tangannya masih menggenggam ponsel yang masih tersambung dengan Ross di telinganya.
"Eh tunggu Ross" ucap Diana terhenti setelah mengingat sesuatu
"Ada apa?"
"Kau sudah pastikan ini bukan pesanan iseng kan?" tanya Diana memastikan
"Sudah"
"Kamu yakin kan?"
"Iya Di, mereka bahkan sudah membayar penuh semua pesanan"
️"Transfer atau cash?" tanya Diana
️"Cash, kamu tenang saja aku sudah melakukan prosedur yang berlaku dan jikalau mereka penipu mereka tidak akan bisa menuntut kita untuk mengembalikan uangnya" jelas Ross
"Baiklah aku percayakan semuanya pada mu"
"Iya tenang saja"
"Tapi apakah kita sanggup menyelesaikan semuanya?" tanya Diana
"Mereka bilang santai saja, karena ini bisa di cicil untuk 1 Minggu kedepan"
"Di cicil? Memangnya untuk apa sih?"
"Mereka bilang bos mereka memesan untuk karyawan yang ada di sana, jadi kalau hari ini kita sanggupnya 200 pesanan ya kirim saja segitu sisanya besok dan seterusnya asalkan dalam waktu 1 minggu"
"Enak sekali mereka dapat bos baik" ucap Diana
"Kau benar Di"
"Baiklah, setelah ini aku berangkat" ucap Diana
"Iya Di, hati-hati di jalan"
"Oh iya Ross sebaiknya menu baru yang akan di luncurkan Minggu depan kita undur saja"
"Iya aku setuju di undur saja" jawab Ross
"Baiklah aku tutup, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah panggilan terputus Diana mengganti pakaiannya lalu setelah selesai dia menyambar kunci mobil, ponsel dan tas jinjing nya yang berada di kasurnya Kemudian turun mencari ibunya.
"Bu... Ibu..." Panggil Diana
"Bu.."
"Ada apa nak? Lok kok sudah rapi mau kemana?" tanya ibu heran melihat putrinya sudah berpakaian rapi
"Bu, aku harus balik ke cafe" pamit Diana
"Apa ada masalah?" tanya ibu Ida
"Tidak Bu, bukan masalah tapi cafe dapat pesanan banyak Bu"
"Seberapa banyak?"
"1000 pesanan"
"1000?!!" Tanya ibu Diana terkejut
"Iya Bu, 500 minuman dan 500 dessert"
"Alhamdulillah nak"
"Iya Bu Alhamdulillah"
"Apa perlu ibu bantu?" tanya ibu Ida
️"Tidak perlu Bu, ibu istirahat di rumah saja nanti aku akan cari pekerja part time saja"
"Baiklah tapi ingat kalau kalian lelah istirahat jangan terlalu di forsir"
"Iya ibu sayang"
"Kalau begitu aku berangkat Bu, masih mau beli bahan-bahan dulu"
"Iya hati-hati di jalan, ingat jangan terlalu capek"
"Iya Bu, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Diana berlari ke arah mobilnya yang terparkir di garasi, beruntung tadi pagi dia sudah menghangatkan mobilnya itu.
Saat hendak menginjak gas mobilnya ponsel Diana berdering, tanpa melihat siapa yang menelpon dia mengangkatnya.
"Halo Ross, ini aku sudah mau jalan kamu kirimkan apa saja yang di butuhkan" ucap Diana dia mengira yang menelpon adalah Ross
"Halo sayang"
"Eh?" Diana terkejut ternyata yang menelpon bukan temannya, kemudian dia mengecek nama si penelpon
"Siapa ya?" tanya Diana Karena tidak ada nama dari penelpon melainkan hanya nomer saya
"Ini aku sayang kamu tidak mengenali suara ku?" sahut si penelpon
"Siapa saya tidak kenal, jika tidak ada kepentingan akan saya tutup" ucap Diana ketus
"Ke ke ke, Ketus sekali sih sayang ini aku Bryan" ucap si penelpon sambil terkekeh
"Ini kak Bryan?" tanya Diana terkejut
"Iya" jawab Bryan
"Maaf kak, maaf awalnya aku kira Ross yang menelpon ku lalu aku kira telp iseng setelah mendengar ternyata suara laki-laki yang menelpon, aku tidak tahu kalau itu kakak" ucap Diana tidak enak pada Bryan
"Iya tidak apa-apa, Maaf mengganggu mu, sepertinya kamu sibuk ya?"
"Eh tidak apa-apa kak"
"Sungguh?" tanya Bryan
"Iya tidak apa-apa, kakak ada perlu apa?" tanya Diana
"Kita bicarakan nanti saja ya, sepertinya kamu sibuk sekali" Bryan tidak enak mengganggu Diana
"Gak sibuk amat kak, ada apa katakan?"
"Baiklah, apa kamu sudah bicara dengan orang tua mu?"
"Sudah"
"Lalu bagaimana tanggapan mereka?"
"Kak.."
"Iya?"
"Maaf, tapi mereka tidak setuju dengan pernikahan kita"
"Ah begitu, apa karena kakak duda dan sudah punya anak?" Tebak Bryan
"Maaf kak" Suara Diana sudah mulai serak menahan tangis
Diana merasa sangat bersalah karena dia sendiri yang meminta Bryan untuk menikahinya tapi malah dari pihak dirinya lah yang menolak.
"Tidak apa-apa sayang kumohon jangan menangis" Bryan tidak tega mendengar Isak tangis Diana
"Maafkan aku kak hiks hiks" Diana malah menangis, dia menjatuhkan kepalanya di atas setir mobilnya
"Diana dengarkan kakak, jangan menangis" bujuk Bryan
Diana perlahan menghentikan tangisnya
"Kamu tolong jawab pertanyaan kakak oke" ucap Bryan setelah mendengar tangis Diana mulai reda
"Iya"
"Apa kamu menyayangi Hana?"
"Tentu saja"
"Apa kamu ikhlas dan siap menjadi ibu sambung Hana?"
"Iya aku siap dan ikhlas untuk menjadi ibu Hana"
"Oke pertanyaan terakhir, apa kamu mencintai ku?" pertanyaan terakhir membuat jantung Bryan berdetak kencang menunggu jawaban dari gadisnya.
.
.
.