
"Daddy" panggil Hana agak keras
.
.
.
"Suttt sayang pelankan suara mu, Mommy sudah tidur" bisik Bryan pada Hana
"Upss maaf Daddy" ucap Hana pelan
"Tidak masalah sayang, lain kali lebih hati-hati ya" ucap Bryan masih berbisik
"Oke Daddy" jawab Hana dengan nada yang pelan
"Hana kenapa panggil daddy?" tanya Bryan dengan suara yang sangat pelan namun masih terdengar oleh Hana
"Mommy lupa cium Daddy"
"Ya sudah tidak apa-apa, mungkin Mommy sudah lelah"
"Tapi biacanya kalau Mommy lupa cium Daddy, Daddy yang cium Mommy" ucap Hana
"Benarkah?" tanya Bryan
"Iya apa Daddy lupa?" tanya Hana
"Oh iya sayang kamu benar, Daddy lupa he he he" ucap Bryan pura-pura ingat, karena dia tidak mau putrinya itu sedih
"Dacar Daddy cudah tua" ucap Hana sambil terkekeh
"Ke ke ke benar Daddy sudah tua, karena itulah Hana harus selalu ingetin Daddy kalau lupa, Oke?"
"Oke, ayo cekarang Daddy cium pipi Mommy"
"Iya"
Bryan bangun lewat di atas tubuh putrinya agar bisa menjangkau Diana
Cup
"Sudah" ucap Bryan sambil kembali ke tempatnya
Hana tersenyum manis pada Bryan
"Oke cekalang kita tidur" ucap Hana
"Iya sekarang kita tidur" ucap Bryan sambil memeluk Hana
Sesaat kemudian Hana sudah terlelap, sedangkan Bryan tidak bisa tidur karena setelah mencium pipi Diana jantungnya berdebar sangat kencang.
Namun dia mengabaikan debaran jantungnya dia mencoba tidur menyusul Hana dan Diana. Dan tak lama kemudian dia juga sudah terlelap.
Keesokan harinya pukul setengah tiga pagi
"Huek.. Huek..."
Terdengar suara seseorang tengah muntah di kamar mandi dan orang itu adalah Diana.
Bryan terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Diana, Bryan mencoba bangun tapi lengannya di tiduri Hana.
Perlahan Bryan memindahkan kepala Hana ke bantal, setelah terlepas dia langsung menuju kamar mandi.
Sesampainya di sana Bryan melihat Diana tengah muntah-muntah di wastafel kamar mandi, Diana yang tadinya tidak menyadari kedatangan Bryan sedikit terkejut karena Bryan reflek mengusap punggungnya.
Hampir 15 menit Bryan membantu Diana
"Sudah lebih baik?" tanya Bryan
Diana yang lemas hanya sanggup mengangguk, Bryan membantu Diana melangkah keluar.
Namun saat akan sampai pintu Diana kembali mual, dia langsung berlari ke arah wastafel lagi.
"Huekk huekk"
Sekali lagi Bryan membantu Diana
"Huekk"
Diana sudah hampir menangis karena dia sudah kelelahan, dia juga sudah tidak sanggup berdiri lagi.
Dengan sigap Bryan langsung menopang tubuh lemas Diana.
"Sudah?" tanya Bryan
Diana mengangguk
Bryan yang melihat Diana lemas langsung menggendongnya, dan melangkah keluar dari kamar mandi lalu menurunkan Diana di sofa yang ada di kamar mereka.
Setelah itu dia pergi mencari sesuatu di laci nakas, setelah menemukannya dia kembali menghampiri Diana lagi.
Bryan berjongkok di depan Diana dan hendak mengangkat baju tidur yang di pakai Diana
"Mas mau apa?" tanya Diana dengan nada suara yang lemah
"Aku mau membalurkan minyak kayu putih ke perut mu"
"Biar aku lakukan sendiri mas" ucap Diana hendak mengambil alih minyak kayu putih yang di pegang Bryan
"Tidak" ucap Bryan, dengan gesit tangannya menjauhkan botol minyak kayu putih dari jangkauan Diana
"Aku masih bisa kok, mas" ucap Diana
"Teman-teman dan adik-adik ku bahkan sampai memarahi ku karena aku melupakan mu, mereka mengatakan kamu adalah istri ku"
"Dan akan tetap seperti itu bahkan jika seumur hidup aku tidak mengingat mu, itu yang mereka katakan"
"Jadi biarkan aku membantu mu agar sedikit demi sedikit aku bisa mendapatkan kembali ingatan ku tentang diri mu, aku ingin kembali mengingat mu" ucap Bryan lembut
Diana terharu mendengar ucapan Bryan, dia pikir Bryan akan terus memberikan penolakan terhadapnya dan malah mencari mantan istrinya seperti di novel-novel yang dia baca dulu.
Namun ternyata dia salah, Bryan justru berusaha untuk mengingatnya dengan melakukan bantuan-bantuan kecil pada dirinya.
"Kau mengerti apa yang aku katakan?" tanya Bryan lembut
Diana mengangguk "Iya mas aku mengerti, terima kasih"
"Tidak perlu berterima kasih itu sudah tugas ku, sekarang kamu berbaringlah itu akan membuat mu lebih nyaman"
Diana hanya bisa tersenyum dia sangat bahagia, ketakutannya selama ini tidak terjadi. Diana sangat bersyukur akan hal itu.
Dia berbaring seperti yang di minta Bryan, Bryan meletakkan bantal sofa di bawah kepala Diana dan mulai mengangkat pakaian tidur yang di kenakan Diana
Lalu dia menuang minyak kayu putih ke telapak tangannya setelah itu dia membalurkan minyak kayu putih itu dengan pelan ke perut istrinya.
"Kenapa kamu mual-mual begitu?" tanya Bryan dengan tangan yang masih sibuk
"Mungkin hanya masuk angin saja" ucap Diana berkilah
"Benarkah?" tanya Bryan dia menghentikan gerakan tangannya
"I..iya mungkin" jawab Diana gugup
Bryan kembali menggerakkan tangannya kali ini dia menuju ke atas, lebih tepatnya ke sekitar kerongkongan
Diana terkejut saat merasakan tangan Bryan naik ke atas, Diana gugup di saat tangan kekar suaminya itu berjalan di antara kedua dad*nya dan sedikit menyentuh benda kenyal miliknya itu.
"Mas" panggil Diana sambil menatap ke arah tangan Bryan
"Oh maaf" Bryan langsung menarik kembali tangannya
"Sudah selesai" ucap Bryan sambil mengalihkan pandangannya
Diana duduk dan merapikan pakaiannya
"Terima kasih mas" ucap Diana
"Emm" jawab Bryan
Hening
"Kamu sungguh hanya masuk angin saja?" tanya Bryan lagi
"I..iya mas, memangnya aku kenapa?" tanya Diana di akhir kalimat
"Kamu mual bukan karena hamil kan?" tanya Bryan
Deg
Diana terkejut
"Mas a..aku.." ucap Diana gugup
"Katakan"
"Kalau aku hamil mas akan bagaimana? dan kalau tidak bagaimana?" tanya Diana
"Kalau kamu hamil aku akan berusaha menjaga mu sebaik mungkin, toh mama bilang pernikahan kita sudah berjalan 5 bulan jadi wajar saja kalau kamu hamil" jawab Bryan dengan santainya
"Lalu kalau tidak bagaimana?" tanya Diana
"Kalau tidak ya tidak apa-apa, toh nantinya kita akan punya anak" ucap Bryan sambil menatap wajah cantik Diana
"Mas.. " panggil Diana
"Hemm?" Bryan masih menatap Diana dan menunggu dengan sabar
"A...aku..."
"Emm katakan" ucap Bryan lembut
Walau Bryan tidak mengingat wanita di depannya itu, tapi dia sangat berharap istrinya itu hamil bayinya.
"Aku hamil mas" akhirnya Diana mengaku juga
Bryan senang bukan main, dia tersenyum lebar dan langsung memeluk Diana
"Terima kasih sayang" ucap Bryan
Deg
Jantung Diana berdebar kencang, dia senang bisa mendengar Bryan memanggilnya sayang lagi.
Bryan melepas pelukannya
"Berapa usianya?" tanya Bryan
.
.
.