Mr. Bryan

Mr. Bryan
Bawang Bombay



Bryan membuka lemari pakaian milik istrinya, betapa terkejutnya dia saat melihat lemari pakaian yang tadinya hanya berisi beberapa pakaian sekarang penuh dengan pakaian-pakaian kurang bahan.


.


.


.


"Hah... Mama apa yang mama berikan pada istri Bryan..." gerutu Bryan frustasi dia memijat keningnya yang terasa nyeri


"Bagaimana caranya aku bertahan malam ini dan hari-hari berikutnya jika seperti ini"


"Dia pakai piyama biasa saja sudah membuat ku panas dingin, apalagi pakai beginian" ucap Bryan sambil mengambil salah satu pakaian itu


"Sial, membayangkan dia pakai ini saja sudah membuat ku on" umpat Bryan karena bambunya ternyata sudah berdiri tegak


Bryan melempar pakaian yang dia pegang ke dalam lemari, lalu menutup rapat-rapat lemari itu dan pergi dari sana menuju kamar mandi untuk menidurkan bambunya.


1 jam kemudian Bryan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan tubuh menggigil.


Selama satu jam Bryan mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar bambunya segera kembali tidur.


Bryan mengambil pakaian tebal lalu memakainya, setelah itu dia keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.


Malam ini dia akan tidur di sana karena jika dia tidur di dalam kamar dengan istrinya bambunya akan kembali bangun.


Keesokan harinya


Pukul 4 pagi Diana mulai bangun, mata indahnya mulai terbuka.


"Kak Bryan tidak di sini" gumam Diana sedih saat mengetahui lagi-lagi suaminya tidak ada di sampingnya saat dia bangun


"Sebenarnya apa yang kak Bryan rencanakan? Apa yang terjadi? Apa kak Bryan segitu marahnya pada ku?"


Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Diana mengusap air matanya "Jangan menangis Diana, semuanya akan baik-baik saja" ucap Diana mencoba menyemangati dirinya


Diana turun dari ranjang hendak menuju kamar mandi, tapi di saat dia melihat cermin Diana berhenti dan melihat tubuhnya yang berbalut pakaian kurang bahan.


"Aku bahkan sampai harus menggunakan pakaian seperti ini untuk menggodanya, apakah aku tampak seperti wanita mura.... ?" Diana tak dapat melanjutkan ucapannya, air matanya kembali menetes


Diana langsung berlari ke kamar mandi dia menutup rapat pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam


Hiks hiks hiks


Tubuhnya luruh ke bawah, dia menangis sambil bersandar di balik pintu kamar mandi


Hiks hiks


"Sial kenapa aku jadi begini? Dia hanya pria jika dia... Hiks.. membuang ku aku bisa mencari penggantinya"


"Di dunia ini pria bukan cuma satu hiks hiks"


"Tapi aku tidak mau yang lain huaaaa.... bagaimana ini?" tangisnya semakin kencang saja


Beberapa saat kemudian tangisnya mulai reda


"Yang di katakan mama benar aku harus mendiamkan kak Bryan juga, kak Bryan lihat saja pembalasan ku" ucap Diana


Diana melangkah menuju shower dia membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat dari shower.


"Pakaian ini akan terus aku kenakan, kita akan lihat sampai kapan dia akan bertahan melihat ku berpakaian seperti ini" ucap Diana sambil menyentuh pakaian kurang bahan yang dia kenakan, lalu melepasnya dan memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor


Beberapa saat kemudian Diana sudah selesai mandi, dia mengambil pakaiannya lalu menjalankan kewajibannya sebagai Muslim


***


Pukul setengah enam Diana keluar dari kamarnya menuju dapur


"Pagi ma" sapa Diana pada mama Anna yang sudah lebih dulu berada di dapur


"Pagi sayang, bagaimana tidur mu nyenyak?" tanya mama Anna


Diana hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Mama Anna merasa ada yang berbeda dengan menantunya itu.


"Bi, tolong gantikan dulu sebentar saya mau bicara dengan menantu saya"


"Baik nyonya" ucap bibi Yana istri dari pak An


"Ikut mama sebentar sayang" ucap mama Anna sambil menarik pelan lengan menantunya dan membawanya ke taman belakang


Sesampainya di taman belakang


"Coba ceritakan pada mama, kenapa mata mu sampai bengkak begini?"


Diana menyentuh kelopak matanya "kelihatan ya ma?" tanya Diana sambil tersenyum


Mama Anna sedih melihat menantunya yang tersenyum tapi nampak sedih, mama Anna memeluk Diana.


"Sayang, ceritakan pada mama supaya mama bisa bantu"


"Hiks hiks mama" seketika Diana menangis di pelukan mama mertuanya


Hiks hiks


Cukup lama Diana menangis di pelukan mertuanya, dan saat tangisnya sudah reda mama Anna melepas pelukannya


Mama Anna mengajak Diana duduk di sebuah bangku taman


"Sayang mau ceritakan pada mama?"


Diana mengangguk


"Ma, kak Bryan...."


"Ya kenapa dengan Bryan?" Tanya mama Anna lembut


"Sejak saat itu setiap Di bangun kak Bryan tidak pernah ada di samping Di, ma. Dia selalu bangun lebih dulu dan tidak bicara apapun pada ku, kak Bryan mengabaikan ku ma"


"Bahkan tadi malam kak Bryan sepertinya tidak tidur di kamar"


"Bagaimana kamu tahu kalau Bryan tidak di kamar semalam?"tanya mama Anna sabar


"Diana tahu ma, karena biasanya Di merasakan seseorang sedang memeluk ku, ma"


"Mungkin tadi malam kamu kelelahan jadi tidak tahu kalau Bryan ada atau tidak"


"Tidak ma, Di sangat yakin"


"Baiklah mama percaya pada mu, itu berarti rencana kita tadi malam gagal?"


Diana mengangguk


"Tidak apa-apa sayang kita buat rencana baru lagi, mama akan bantu kamu."


"Sekarang hapus air mata berharga mu sayang, mama tahu kamu perempuan kuat."


"Jangan sedih lagi ya... Mama akan sekuat tenaga membantu mu, begini saja nanti kalau misalkan Bryan mengajak mu bicara kamu jangan dengarkan dia abaikan saja, oke?"


"Iya ma"


"Mama yakin kali ini Bryan akan bicara pada mu sayang"


"Kenapa mama seyakin itu?" tanya Diana


"Kalau Bryan benar-benar mencintai mu dia pasti akan tahu kalau kamu habis menangis, itu yang akan menjadi umpan untuk Bryan"


Diana menganggukkan kepalanya "Baik ma, terima kasih sudah mau membantu Di"


"Sama-sama sayang, sekarang ayo bantu mama memasak"


"Iya ma"


"Ayo" ajak mama Anna


Sesampainya di dapur


"Nak, tolong iris bawang bombaynya ya"


"Baik ma"


Diana mulai mengiris bawang bombay, tapi baru tiga buah yang dia iris matanya sudah sangat perih dan mengeluarkan air mata


Diana mendongakkan kepalanya ke atas mencoba menghilangkan rasa perih di matanya.


"Kenapa sayang?"


"Perih ma"


"Kalau begitu biar mama yang teruskan kamu iris sayurnya saja"


"Tidak apa-apa ma, biar Di saja yang iris sedikit lagi selesai kok"


"Beneran nih?"


"Iya ma"


"Baiklah"


Skip selesai memasak, saat ini semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan termasuk Bryan


Mama Anna mengambilkan sarapan untuk suaminya, sedangkan Diana sedang mengambilkan sarapan untuk Bryan dan Hana yang duduk di sebelah opanya


"Nak Queenza" panggil papa Heru


"Ya pa? Papa butuh sesuatu?" tanya Diana sambil tersenyum pada papa Heru


"Kamu habis menangis?" Tanya papa Heru membuat semua orang yang berada di sana seketika menatapnya


.


.


.