
"Lalu kenapa kamu berteriak asisten Ren?! apa kamu sudah bosan bekerja dengan saya?!" tanya Bryan yang masih kesal pada asistennya.
.
.
.
"Maaf tuan setelah masuk ke ruangan anda, sudah 5 menit saya memanggil anda namun anda masih tetap melamun karena itulah mau tidak mau saya berteriak memanggil anda"
Bryan mendengus kesal pada asistennya itu, dia melangkah ke meja kerjanya kemudian duduk di kursi kebesarannya.
Sebenarnya Bryan sungguh tidak suka dengan sikap asistennya yang terkadang suka seenaknya itu, bahkan Bryan selalu bertanya-tanya dimana papanya menemukan Rendy.
Dia juga sering bertanya pada papanya dimana dia menemukan Rendy, namun papanya tidak menjawab dan dia malah tersenyum pada dirinya, mamanya ditanya pun menjawab tidak tahu.
Akan tetapi karena kinerja asisten Rendy sangat memuaskan dia tidak punya alasan untuk memecatnya.
Asistennya itu sangat cekatan dan pria yang bisa di percaya, karena itulah Bryan masih membutuhkan bantuannya mengelola perusahaan.
Lalu masalah saat Hana hilang di mall saat itu bukan karena kelalaian asisten Rendy, karena pria itu dari awal memang tidak ikut Bryan ke mall.
Tapi dia datang setelah mendapat laporan bahwa putri Bosnya menghilang.
"Hmm baiklah, katakan ada perlu apa?" tanya Bryan
"Berkas ini membutuhkan tanda tangan anda secepatnya, tuan"
Asisten Rendy menyerahkan map berisi berkas penting yang harus segera di tanda tangani oleh Bryan
Bryan membaca dengan teliti berkas yang di berikan asisten Rendy, kemudian menandatangani berkas itu
"Ini, sudah hanya itu saja?" tanya Bryan sambil menyerahkan kembali map berisi berkas penting itu pada asisten Rendy
"Iya tuan hanya ini, apa ada yang tuan perlukan?"
"Ya, Tolong kamu bantu saya cari tahu keluarga gadis yang Hana panggil Mommy saat di mall beberapa hari lalu, dan cari tahu juga dimana alamat rumah orang tuanya"
"Baik tuan"
"Hmm kamu boleh pergi"
"Baik permisi Tuan" asisten Rendy hendak beranjak namun di urungkan karena Bryan memanggilnya
"Oh ya asisten Ren, tugas yang kemarin saya berikan pada mu sudah dikerjakan?"
"Sudah tuan"
"Bagus, tolong rahasiakan hal ini jangan sampai ada yang tahu selain kita berdua"
"Baik tuan, permisi" asisten Rendy membungkukkan sedikit tubuhnya pada Bryan.
"Hmmm" jawab Bryan.
***
Di pagi hari yang cerah Diana, Ross, Adit dan dua orang pekerja part time tengah sibuk mengemas pesanan yang akan di kirimkan ke perusahaan hari ini.
Hari ini adalah pesanan terakhir yang akan mereka kirimkan, mereka menyelesaikan pesanan dari perusahaan besar itu dalam waktu empat hari.
Termasuk di hari yang sama saat Ross menelpon Diana untuk memberitahu bahan-bahan sudah habis.
Saat di hari pertama mereka menutup cafe pukul 12 siang karena pesanan dari perusahaan itu masuk pukul 11 pagi.
Dan selama tiga hari berikutnya mereka sengaja tidak membuka cafe agar lebih fokus menyelesaikan pesanan besar itu.
Diana bahkan tidak ingat pada pria yang menelpon nya Beberapa hari yang lalu, dia sangat fokus pada pekerjaannya kerena dia tidak ingin mengecewakan pelanggannya.
Dan dalam tiga hari itu juga Bryan sama sekali tidak menelpon Diana, entah apa yang dilakukan pria itu.
"Ross box dessert nya sudah di rangkai semua?" tanya Diana sedangkan tangannya sedang sibuk mengoles whipping cream ke atas sebuah cake.
"Sudah selesai semuanya" jawab Ross
"Baiklah kalau begitu tolong masukkan semua dessert yang sudah dingin ke box ya"
"Oke"
"Bos yang ini di masukkan juga tidak?" tanya Adit pada Diana sambil membawa loyang berisi dessert
"Sudah dingin tidak?" tanya Diana
"Sudah bos, yang ini sudah sekitar 2 jam ada di lemari pendingin"
"Baiklah masukkan saja" ucap Diana
"Oke bos"
"Dinda minumannya sudah dapat berapa?" tanya Diana
"Sudah selesai semua mbak, tinggal masukkan es Batunya saja"
"Oke bagus, setelah semua dessert selesai di kemas langsung tambahkan es batunya ya"
"Siap mbak"
Atas persetujuan dari bos nya, Adit membawa gadis cantik bernama Dinda dan seorang pemuda bernama Hafid.
Mereka berdua adalah teman baik Adit.
"Di kamu buat itu untuk siapa?" tanya Ross karena dia melihat temannya itu tengah sibuk membuat cake strawberry
Ross berjalan menghampiri Diana karena sudah ada Adit dan kedua temannya yang mengemas dessert.
Dia sangat suka melihat temannya itu menghias cake karena itulah dia memilih menghampiri Diana dari pada membantu Adit dan kedua temannya.
"Kemarin waktu aku antar pesanannya ke perusahaan itu, aku dengar dari karyawan di sana bos mereka hari ini ulang tahun" ucap Diana
"Oh mungkin karena itu bos mereka mentraktir karyawannya ya" tebak Ross
"Mungkin saja" jawab Diana
"Jadi kamu buat kue itu untuk bos mereka?" tanya Ross
"Iya, sekalian sebagai tanda terima kasih karena sudah borong dessert dan minuman di cafe kita" ucap Diana sambil tersenyum
"Bagus Di, kamu memang hebat" puji Ross
"Apanya yang hebat, biasa saja"
"Kamu hebat, sampai bisa memikirkan hal ini, aku aja gak kepikiran ke sana" jelas Ross
"Sudah jangan terlalu memuji, aku kan jadi malu" ucap Diana dia tersipu malu karena mendapat pujian dari temannya itu
"Dih gayanya sok-sokan malu" ejek Ross
Diana hanya tersenyum menanggapi ejekan temannya itu
"Di, yang coklat ini untuk siapa?" tanya Ross sambil menunjuk cake coklat yang sudah selesai di hias
"Untuk bos itu juga"
"Kok sampai bawa dua?"tanya Ross
"Aku kan gak tahu bos mereka suka cake yang mana, jadi aku bawa dua cake terfavorit di cafe kita" ucap Diana
"Ohhh" jawab Ross manggut-manggut
"Oh iya Di" panggil Ross
"Apa?"
"Bagaimana dengan pernikahan mu dengan pria itu?" bisik Ross
Diana menghentikan kedua tangannya yang sibuk menyusun buah strawberry di atas kue itu.
"Ayah dan ibu tidak setuju" ucap Diana, dia melanjutkan menyusun strawberry
"Kenapa?" tanya Ross
"Tidak apa-apa, mereka cuma gak setuju saja"
"Pasti ada alasannya kan?" tanya Ross
"Ross bisakah kita tidak membahas hal ini di sini" Diana menghentikan pekerjaannya
"Baiklah maafkan aku"
"Emm nanti akan aku ceritakan padamu, tapi bukan di sini" ucap Diana
"Baik, maaf"
"Tidak masalah Ross"
Hafid menghampiri Diana dan Ross
"Mbak dessert nya sudah beres" lapor Hafid
"Sudah di hitung semua?" tanya Diana
"Sudah"
"Baiklah tolong pastikan jangan sampai kurang" ucap Diana
"Iya mbak"
"Oke, kalau sudah tolong bantu Dinda ya"
"Baik"
"Ross nanti kamu ikut ya" Diana mengajak temannya, karena dari hari pertama dia tidak ikut mengantar ke perusahaan itu.
.
.
.