Mr. Bryan

Mr. Bryan
Keanehan Diana



"Pria yang di pegang adalah ucapannya" ucap Diana mulai kesal, entah kenapa akhir-akhir ini Diana gampang sekali kesal


"Ganti sekarang Diana" ucap Bryan sekali lagi


.


.


.


"Kakak menyebalkan hmppt..!" ucap Diana kesal dan kembali naik ke kamarnya untuk berganti pakaian


"Hah.... " Bryan menghela nafas tadinya dia memang membiarkan istrinya memakai pakaian yang dia suka.


Tapi sekarang dia seakan tidak rela tubuh istrinya di lirik pria lain bahkan seinci pun, padahal hanya sedikit bagian di pundak saja yang terlihat sedangkan bagian lain tertutup.


Tak lama kemudian Diana sudah turun dari lantai atas dengan pakaian baru dan berdiri tepat di depan suaminya


"Puas?" tanya Diana


"Hmmm" ucap Bryan menganggukkan kepalanya


"Hah... Ha ha ha" tiba-tiba Diana tertawa membuat semua orang yang ada di sana terkejut


"Ada apa sayang?" Tanya Bryan saat melihat istrinya justru tertawa terbahak-bahak


"Ada apa dengan mu kak?!" Diana justru bertanya balik pada suaminya


"Kenapa dengan kakak?" Tanya Bryan tidak mengerti


"Kakak benar-benar aneh belakangan ini" ucap Diana


"Aneh bagaimana?" tanya Bryan masih tidak mengerti


"Kau tidak tahu letak keanehan mu?" tanya Diana


Mereka yang melihat Diana seakan-akan tidak mengenalinya, Diana berubah menjadi orang yang berbeda.


"Apa maksud mu sayang?" Tanya Bryan lembut sambil tersenyum


"JANGAN MEMANGGIL KU SAYANG!" bentak Diana tiba-tiba


"Apa yang terjadi dengan mu istri ku? tidak biasanya kamu membentak kakak seperti itu?" tanya Bryan lembut


"Kau sangat menyebalkan, aku membenci mu!" Diana berlari naik ke kamarnya di lantai dua


"Ada apa dengannya Bryan?" Tanya Rico kebingungan


"Aku juga tidak tahu" sahut Bryan


"Kamu pasti berbuat salah sampai-sampai istri mu yang biasanya hanya galak menjadi sangat marah begitu" ucap Rico


"Daddy, Mommy cenapa? Hana cakut"


"Hana sayang, kamu tidak perlu takut" ucap Bryan


"Kenapa Mommy malah Dad? Hana nakal ya?"


"Tidak sayang Hana tidak nakal, Daddy yang nakal, Mommy marah sama Daddy karena Daddy nakal" ucap Bryan mencoba menenangkan putrinya


"Kenapa Daddy nakal? Mommy jadi malah, Daddy halus minta maaf cama Mommy" ucap Hana memarahi Daddynya


"Iya sayang, Daddy akan minta maaf pada Mommy, tapi sepertinya kita tidak jadi jalan-jalan sekarang sayang


"Cidak apa-apa Daddy, kita bisa jalan-jalan becok"


"Benar, kita jalan-jalan besok ya... Sekarang Daddy akan bujuk Mommy dulu, boleh kan?"


"Iya bujuc Mommy dulu bial Mommy gak malah cama Daddy"


"Terima kasih sayang"


"Cama-cama Daddy"


"Aku titip Hana dulu, tolong bawa main ke taman" ucap Bryan


"Biar aku saja kak" sahut bella


"Iya"


"Ayo Hana ikut Aunty yuk, kita main di taman bareng dedek kembar juga"


"Ayo Aunty" Hana menghampiri Auntynya


"Daddy kalau Mommy macih malah cium caja pipinya, cama seperti Hana"


"Iya sayang"


Setelah itu Bryan naik ke lantai dua untuk bicara dengan istrinya


"Kalian tetap di sini, tolong awasi mereka berdua, kalian kan tahu emosi kakak bagaimana" ucap Bella pada kedua teman Bryan dan adiknya


"Iya tenang saja, sebaiknya kamu cepat bawa Hana main di taman" ucap David


"Iya, ayo sayang" Bella memanggil Hana


Lalu menggandeng tangan mungil Hana dan mereka melangkah menuju taman sedangkan baby twins berada di kereta bayi dan di dorong papa mereka yaitu Zain


Di lantai atas, Bryan langsung masuk ke kamar mereka berdua


Diana membongkar semua isi lemari mereka berdua dan menghamburkan pakaian-pakaian itu, begitu juga dengan meja rias mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumam Bryan


"Ini pasti ada salah paham"


Bryan menutup pintu sekaligus menguncinya lalu melangkah ke arah ranjang dan duduk di samping istrinya yang sedang menangis sambil tengkurap, dia menyembunyikan wajahnya di atas bantal.


Bryan mengusap lembut kepala istrinya, Diana yang merasakan tangan seseorang di kepalanya langsung menepisnya, karena dia sangat tahu siapa pemilik tangan itu


Bryan terkejut karena istrinya menepis tangannya


"Sayang..."


"PERGI!!" Ucap Diana lantang


"Kamu kenapa? Apa kakak ada salah dengan mu?" tanya Bryan lembut


"Hiks hiks" hanya isakan tangis sesenggukan yang terdengar


"Sayang bicaralah, tidak biasanya kamu begini"


"Pergi!! Hiks hiks" Hanya kata itulah yang terdengar


"Kakak akan pergi jika sudah tahu permasalahannya"


"Ayolah tolong jangan begini katakan pada kakak apa yang kamu rasakan, katakan seperti biasanya bukankah kamu selalu mengatakan apa yang kamu rasakan pada kakak"


"Hiks hiks hiks" tangis Diana tambah kencang


"Ayo katakan, kenapa kamu menangis? Jika kakak memang salah kakak minta maaf tapi tolong bicaralah"


"...."


"Sayang...." Bryan mengusap kembali kepala Diana namun lagi-lagi Diana menepis tangan itu


"Ayo bangun ceritakan pada kakak, apa yang membuat mu kesal" Bryan mencoba membuat istrinya bangun


Namun Diana tetap kekeh di posisinya


"Sayang, kakak juga punya batas kesabaran" ucap Bryan yang sudah mulai tidak sabar dengan sikap istrinya


"Karena itulah aku menyuruh mu pergi! pergi! biarkan aku sendiri di sini!" ucap Diana


"Tidak!" Ucap Bryan tegas


"Kalau begitu aku yang akan pergi" ucap Diana lalu bangun hendak pergi dari sana namun dengan cepat Bryan menangkap tangan istrinya


"Lepas! Lepaskan tangan ku, aku akan pergi dari sini" ucap Diana memberontak


"Kakak tidak akan melepaskan mu sebelum kita meluruskan ini"


"Apa yang harus di luruskan aku sudah tahu semuanya!" teriak Diana


"Apa yang kamu ketahui? dan masalah apa yang kamu maksud?" tanya Bryan


"Lepas!"


Bryan menarik tubuh Diana, membuat tubuh istrinya kini berada di pangkuannya. Diana memberontak ingin di lepaskan.


"Lepaskan aku! Aku tidak mau di sini! Lepas!!!!!" teriak Diana


Bryan memeluk erat tubuh istrinya


"Tenanglah... Tenangkan diri mu" ucap Bryan masih memeluk erat tubuh istrinya


"Hiks hiks kamu sangat jahat" ucap Diana sambil menangis


"Maaf"


"Hiks hiks kamu jahat, kamu sangat jahat kak Bryannnn!!!!" Teriak Diana di dalam pelukan Bryan


"Maaf, maafkan kakak" ucap Bryan semakin erat memeluk tubuh Diana


"Hiks hiks hiks jahat jahat" ucap Diana sambil memukul-mukul punggung Bryan untuk melampiaskan kemarahannya


"Hiks aku ini istri mu.. tapi kamu melakukan itu di hadapan ku"


"Kakak melakukan apa sayang?" tanya Bryan karena dia sungguh tidak tahu apa yang di maksud istrinya


"Huaaaaa masih saja bertanya, dasar jahat" Diana tambah kencang menangis dan memukuli Bryan yang masih memeluknya


"Maaf, tapi kakak sungguh tidak mengerti"


"Kau bermesraan dengan wanita lain di hadapan ku"


"Kapan kakak melakukan itu?"


"Dasar tidak peka, pria tua menyebalkan"


.


.


.