
Pagi harinya
"Hueekk hueekk"
Para penghuni rumah keluar menuju dapur saat mendengar suara seseorang tengah muntah
"Diana kamu kenapa sayang" ucap mama Anna yang langsung menghampiri menantunya
"Hueekk hueekk"
Mama Anna mengusap-ngusap punggung menantunya. Setelah beberapa saat.
"Kamu baik-baik saja?" tanya mama Anna
Diana menganggukkan kepalanya
"Sebaiknya kita ke dokter saja, tadi kamu juga muntah" ucap Bryan yang berdiri di samping Diana
"Tidak usah mas, aku baik-baik saja" ucap Diana
"Dokter tidak akan menyuntik mu jadi kamu tidak perlu takut" ucap Bryan
"Dari mana mas tahu aku takut jarum suntik?" tanya Diana
"Eh? Iya yah? benarkah?" tanya Bryan
"Iya" jawab Diana yang masih lemah
"Entahlah" ucap Bryan yang juga bingung
"Apa ingatan mu perlahan kembali Bryan" tanya papa Heru
"Tidak tahu pa, hanya terlintas saja di kepala" ucap Bryan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Di saat Bryan dan kedua orang tuanya sibuk bicara, Diana yang berdiri di samping mama Anna dan Bryan tiba-tiba saja pingsan.
"Non Diana"
Beruntung bik Arum segera menangkap tubuh Diana, sedangkan mama Anna dan Bryan langsung panik.
Bryan segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar di ikuti mama Anna dan papa Heru.
"Pa cepat hubungi dokter" ucap mama Anna
"Iya ma" ucap papa Heru
Sesampainya di kamar Bryan segera menidurkan tubuh istrinya di atas ranjang.
Mama Anna duduk di samping Diana dan mencoba membangunkannya menggunakan minyak angin yang dia ambil dari laci.
"Ma, gimana ini" ucap Bryan khawatir
"Papa sudah menelpon dokter, kamu tenanglah" ucap mama Anna pada putranya
"Dokternya akan segera datang" ucap papa Heru yang baru masuk ke dalam kamar Bryan dan Diana
Beberapa menit kemudian kelopak mata Diana mulai bergerak
"Sayang" panggil mama Anna
Diana membuka matanya namun sedetik kemudian dia kembali memejamkan matanya, dia menyentuh kepalanya yang pusing.
"Pusing?" tanya mama Anna
Diana menganggukkan kepala
"Wanita hamil memang sering kali begitu, sayang" ucap mama Anna
"Mama tahu aku hamil?" tanya Diana yang masih lemas
Mama Anna melipat bibirnya ke dalam karena sudah keceplosan.
"Ma..." panggil Diana
"Iya sayang mama tahu, maaf"
Diana menggelengkan kepalanya
"Mama tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf karena menyembunyikan hal ini pada kalian"
"Tidak apa-apa sayang, mama mengerti"
"Terima kasih ma"
Mama Anna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
Mama Anna mengambil segelas air yang tadi di antar bik Arum
"Minum dulu ya" ucap mama Anna
"Iya ma" jawab Diana lemas
Bryan yang ada di atas kasur tepat di sebelah istrinya membantu Diana duduk, setelah Diana duduk dan menyandar di headboard ranjang mama Anna membantu menantunya minum.
"Sudah?" tanya mama Anna
"Sudah ma, terima kasih"
"Sama-sama sayang"
Tok tok
Semua orang yang ada di dalam kamar menoleh ke arah pintu
"Nyonya dokter sudah datang" ucap Bik Arum
Silahkan masuk dok" ucap mama Anna sambil berdiri dari duduknya
"Permisi" ucap bu dokter lalu melangkah masuk, sedangkan bik Arum sudah kembali ke dapur.
Dokter duduk di samping Diana tepat di tempat mama Anna tadi
"Baik nyonya"
"Papa akan keluar" ucap papa Heru pada istrinya
"Ayo Bryan kamu tidak mau keluar?" tanya papa Heru pada putranya yang masih betah duduk di samping istrinya
"Tidak pa, aku akan tetap di sini" jawab Bryan
"Ya sudah" ucap papa Heru lalu melangkah keluar
"Nona bisa berbaring dulu" ucap bu Dokter
"Iya dok"
Bryan dengan sigap membantu istrinya dan bu dokter mulai memeriksa kondisi Diana.
Beberapa menit kemudian bu dokter sudah selesai memeriksa kondisi Diana
"Bagaimana keadaan istri saya dan bayi saya, dok?" tanya Bryan
"Istri dan bayi anda baik-baik saja tuan, tapi sebisa mungkin untuk nona Diana agar banyak istirahat dan perbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak nutrisi"
"Untuk di trisemester pertama memang sudah biasa ibu hamil muda sering muntah-muntah"
"Saran saya sebaiknya anda mengkonsumsi makanan atau minuman untuk pereda mual seperti sup kaldu, kacang-kacangan, biskuit, jahe hangat dan masih banyak lagi"
"Baik dok"
"Saya akan berikan obat anti mual untuk anda dan juga vitamin"
"Obat anti mualnya bisa anda minum sebelum makan dan setelah makan anda bisa minum vitaminnya"
"Baik dok" jawab Diana
Setelah semuanya selesai dokter pamit pulang. Mama Anna mengantar dokter sampai ke depan.
Di kamar
"Kamu mau sesuatu?" tanya Bryan pada Diana yang memejamkan matanya karena masih sedikit pusing
Diana membuka kelopak matanya lalu menatap wajah Bryan
"Aku mau ceker ayam kecap"
"Lalu apa ada lagi?" tanya Bryan
"Aku mau mas yang masak cekernya" ucap Diana
"Mas yang masak?" tanya Bryan
Diana menganggukkan kepalanya
"Oke, mas akan pergi memasak untuk mu dan bayi kita"
"Terima kasih mas" ucap Diana sambil tersenyum
"Sama-sama" jawab Bryan sambil tersenyum dan mengusap lembut kepala istrinya
Bryan beranjak turun dari ranjang
"Kamu mau kemana Bryan?" tanya mama Anna yang masuk ke kamar putra dan menantunya
"Istri Bryan mau makan ceker kecap" ucap Bryan dan langsung pergi dari sana menuju dapur
Mama Anna menatap putranya yang sudah pergi dari sana dengan tatapan heran, lalu mama Anna melangkah menghampiri Diana.
"Bagaimana keadaan mu sayang?" tanya mama Anna
"Sudah lebih baik ma" jawab Diana
"Syukurlah"
"Oh ya sejak kapan Bryan seperti itu? mama pikir dia masih tidak mau bicara dengan mu"
"Sejak tadi ma saat aku muntah-muntah di kamar mandi, aku juga tidak menyangka mas Bryan akan menerima ku lagi"
"Tentu saja dia harus menerima mu sayang, kamu istri Bryan mau tidak mau dia harus menerima itu" ucap mama Anna
"Mama pernah mendengar kata-kata ini dari teman mama, 'Bahkan jika kamu kehilangan ingatan. Hal terakhir yang tersisa adalah ketulusan seseorang dan cinta"
"Mama rasa cinta Bryan sangat kuat untuk mu, sayang" ucap mama Anna sambil tersenyum
"Mungkin iya ma" jawab Diana
"Bukan mungkin sayang, mama tahu seberapa besar rasa cinta Bryan pada mu"
Diana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kamu sudah memberitahu kehamilan mu pada keluarga mu?" tanya mama Anna
"Sudah ma"
"Ya sudah sekarang kamu istirahatlah sembari menunggu Bryan selesai masak, mama mau ngecek Hana dulu tadi dia main di halaman bersama Lala"
"Iya ma"
Mama Anna melangkah keluar dari kamar
30 menit kemudian Bryan sudah kembali ke kamar dengan nampan berisi pesanan Diana.
Bryan meletakkan nampannya di atas nakas lalu duduk di samping Diana yang tidur.
"Sayang" panggil Bryan
.
.
.