
Ceklek pintu terbuka
"Pa dimana mama?" tanya Bryan saat melihat papanya masuk ke dalam
"Mama mu masih ada di bawah masih ada perlu" ucap papa Heru sambil berjalan mendekat ke arah Bryan
"Kau masih belum makan juga Bryan?" tanya papa Heru basa-basi
"Bryan tidak lapar pa" jawab Bryan sambil memalingkan wajahnya
"Loh katanya tadi lapar?" tanya papa Heru
"Tidak, sudah tidak lagi"
"Kenapa? apa istri mu tidak menyuapi mu?"
"Tidak pa bu... "
"Queenza apa kau tidak menyuapi suami mu? Bukankah mama sudah meminta mu menyuapi Bryan" papa Heru tiba-tiba mengomeli menantunya
Diana terkejut karena mertuanya tiba-tiba memarahinya, dia masih belum mengerti apa maksud papa mertuanya itu.
Bukankah tadi dia sudah mengatakan yang sebenarnya.
"Menantu kenapa tidak jawab?"
"Pa aku..."
Mungkin memang karena efek kehamilannya lah Diana jadi sangat sensitif jika seseorang memarahinya, saat ini matanya sudah berkaca-kaca
Bryan yang tadinya hanya diam melihat papanya yang sedang mengomeli perempuan yang katanya adalah istrinya itu menjadi tidak tega.
Karena dia melihat netra wanita itu sudah berkaca-caka akan menangis.
"Seharusnya kamu bilang kalau tidak mau membantu menyuapi Bryan, kalau begini kan putra papa jadi kelaparan"
"Pa..." belum selesai Diana bicara Bryan sudah memotong perkataannya
"Papa hentikan, lihat dia sudah akan menangis" ucap Bryan menghentikan papanya
"Memangnya kenapa? toh kamu tidak peduli jika istri mu menangis, kamu kan tidak ingat dia" ucap papa Heru
"Bryan memang tidak mengingatnya pa, tapi apa papa tega melihatnya seperti itu dia sudah hampir menangis karena papa omeli"
"Itu memang kesalahannya kan"
"Tidak pa itu bukan salah dia itu salah Bryan, Bryan yang menolak makan"
"Kenapa menolak makan? kau tidak mau sembuh hah" ucap papa Heru sedikit meninggikan suaranya
"Bryan tidak mau dia yang menyuapi Bryan pa" ucap Bryan pelan
"Kamu tidak berbohong kan Bryan?" tanya papa Heru
"Tidak pa, jadi berhenti mengomeli dia" ucap Bryan
"Baiklah, kalau kamu tidak mau papa mengomeli istri mu tapi dengan satu syarat"
"Apa pa?"
"Kamu makan di suapi Queenza"
"Tapi pa..."
"Kamu tidak mau? baiklah papa akan hukum istri mu itu karena tidak bisa menjaga mu dengan baik"
"Jangan pa, oke oke Bryan turuti papa"
"Bagus itu baru anak papa"
"Nak kemari"
Diana berjalan menghampiri papa Heru
"Kamu suapi Bryan"
Diana hanya mengangguk
"Papa mau jemput mama dan Hana di bawah, papa mau saat papa kembali ke sini dengan mama dan Hana kamu sudah menghabiskan makanan dan meminum obat mu Bryan" ucap papa Heru pada Bryan
"Iya pa"
"Ya sudah papa pergi dulu"
Papa Heru keluar dari sana dan pergi menjemput mama dan Hana
"Kenapa kamu masih diam saja? cepat suapi saya, kamu tidak dengar yang di katakan papa tadi?" ucap Bryan dingin
"Maaf mas" ucap Diana, dia duduk di samping Bryan sambil memegang mangkuk bubur
"Mas buburnya sudah dingin, mau aku panaskan dulu?" tanya Diana
"Tidak usah ayo cepat" ucap Bryan dia membuka mulutnya bersiap untuk makan
Diana memasukkan sesendok demi sesendok bubur ke mulut Bryan
Saat sudah menelan buburnya tangan Bryan tiba-tiba terulur untuk menghapus sisa air mata di wajah Diana.
"Ah maaf" ucap Bryan
"Tidak apa-apa mas"
"Kamu jangan ambil hati ucapan papa, papa memang begitu" ucap Bryan dengan nada datarnya
"Iya mas aku mengerti" ucap Diana lalu dia menyodorkan satu sendok terakhir pada Bryan dan Bryan memakannya
"Buburnya sudah habis, mas mau langsung minum obat?"
"Ya"
Diana berdiri dari duduknya dia meletakkan mangkuk kosong itu ke nakas lalu mengambil obat dan segelas air
"Ini mas"
"Terima kasih" ucap Bryan setelah itu dia menelan obat itu kemudian minum
Diana mengambil gelas kosong yang di sodorkan Bryan, dia hendak membawa gelas dan mangkuk bekas makan suaminya untuk di bersihkan.
Namun tiba-tiba kepalanya pusing membuat mangkuk dan gelas yang dia bawa terjatuh dan pecah.
Beruntung Bryan berhasil menarik tubuh Diana agar tidak jatuh ke lantai, lalu dia mendudukkan Diana di brankarnya
"Kamu kenapa?" tanya Bryan
"Tidak apa-apa mas hanya saja kepala ku tiba-tiba pusing, maaf aku memecahkan gelas dan mangkuknya biar aku bersihkan dulu" Diana hendak beranjak turun
"Diam, tetap di tempat mu"
"Tapi mas, belingnya ada di mana-mana nanti ada yang terluka"
"Kamu ini lihat saja keadaan mu sekarang, wajah mu pucat sekali kamu mau membersihkan pecahan itu? yang ada kamu pingsan"
"Tapi bagaimana jika..."
"Diam di sini kita tunggu papa dan mama datang"
"Baiklah"
Beberapa menit kemudian papa mama dan Hana sudah kembali.
"Ya Allah, kenapa ini?" tanya mama Anna yang melihat beling berhamburan di dekat brankar putranya
"Hana tetap di sini sayang" ucap papa Heru menghentikan langkah cucunya
"Bryan kamu apakan istri mu?" tuduh mama Anna
"Apa maksud mama? Bryan tidak apa-apakan dia" ucap Bryan
"Lalu kenapa banyak beling di sini?"
"Maaf ma itu salah ku, tadi aku tidak sengaja menjatuhkan mangkuk dan gelas" ucap Diana yang masih duduk di brankar Bryan
"Kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya mama Anna dari kejauhan
"Aku tidak apa-apa ma"
"Syukurlah, mama akan panggil seseorang untuk membersihkan ini dulu" mama Anna keluar untuk memanggil cleaning service
Setelah ruangan sudah bersih Diana baru di lepaskan oleh Bryan namun karena masih pusing dia hampir saja terjatuh lagi.
"Kamu baik-baik saja nak?" tanya papa Heru
"Aku baik-baik saja pa"
"Sebaiknya kamu di periksa dokter lagi deh, wajah mu pusat sekali" ucap mama Anna
"Tidak usah ma"
"Ya sudah tapi kamu istirahat di rumah saja sayang, tadi dokter juga bilang kamu harus istirahat di rumah" ucap mama Anna
Karena sudah tidak kuat Diana akhirnya mengangguk saat di suruh pulang
"Baiklah ma"
"Ayo papa akan antar kamu dan Hana, bik Arum dan pak Ujang sudah papa suruh pulang tadi, jadi biar mama yang menjaga Bryan"
"Iya pa"
"Hana ayo pulang sayang" ucap papa Heru
"Tapi Hana mau temani Daddy"
"Di sini sudah ada oma sayang, lagi pula Mommy juga sedang sakit kalau Hana di sini siapa yang menemani Mommy?" ucap mama Anna
"Mommy juga cakit? kenapa Mommy dan Daddy halus cakit balengan kan Hana jadi bingung halus jagain ciapa?" ucap Hana sok dewasa membuat para orang tua itu tertawa
"Ha ha ha"
.
.
.