
"Kapan kakak melakukan itu?"
"Dasar tidak peka, pria tua menyebalkan"
.
.
.
Bukannya marah Bryan malah terkekeh "Maafkan suami mu yang tidak peka ini sayang, sekarang tolong jelaskan kakak bermesraan dengan wanita mana?"
"Tadi!" Ucap Diana ketus
"Tadi? maksud mu Tina?"
"Jangan sebut nama itu! jadi perempuan itu adalah Tina ternyata dugaan ku benar"
"Oke maaf, jadi kamu kesal pada dia?" tanya Bryan
"Jangan menyebut dia dengan sangat lembut begitu!"
"Aduh serba salah" ucap Bryan dalam hati
"Jangan menggerutu"
"Bagaimana dia bisa tahu?" ucap Bryan dalam hati
"Tentu saja aku tahu"
"Hah.... Oke Oke jadi kamu marah karena, PEREMPUAN ITU?!" ucap Bryan ketus saat mengucapkan kata perempuan Itu.
"Benar!"
"Alasannya apa? Kakak kan tidak ngapa-ngapain"
"Dia peluk kakak dan cium pipi kakak"
"Sayang itu hanya salam sapa saja" ucap Bryan mencoba memberi pengertian pada istrinya
"Aku tidak suka! bukan hanya itu kamu juga merangkul dia dan membawa dia duduk sedangkan kan aku di cuekin dan malah di suruh membuat minuman untuk dia"
"Jadi kamu marah besar hanya karena itu?"
"Hanya karena itu?!! Kamu bilang hanya karena itu?!!!" ucap Diana tambah kesal, dia melepas pelukannya
"Aduh salah ngomong lagi" ucap Bryan dalam hati
"Kamu cuekin aku dan menyuruh ku membuat minuman untuk dia, kamu bahkan lupa memperkenalkan aku pada teman masa kecil mu itu" Ucap Diana sambil mendorong keras tubuh Bryan agar melepaskan pelukannya
"Maaf sayang, kakak tidak sadar akan hal itu, kami sudah lama tidak berjumpa jadi..."
"Jadi kamu temu kangen gitu?!!!"
"Bukan Gitu sayang... Lagi pula kakak sudah punya istri, kakak tidak akan melirik wanita lain"
"Padahal dia sudah kesini kemarin masa pake salam sapa lagi, kamu saja yang keganjenan" tuduh Diana pada Bryan
"Jangan marah sayang kakak sungguh tidak punya perasaan apapun pada dia, dia sudah kakak anggap sebagai adik sendiri
"Ya kamu tidak punya perasaan pada dia, tapi dia menyukai mu!!"
"Sayang kamu cemburu banget ya?"Tanya Bryan sambil terkekeh
"Jangan tertawa! Aku hanya marah karena kamu cuekin aku!" ucap Diana mencoba mengelak
"Sama saja sayang itu namanya cemburu"
"Tidak! dan juga jangan mengalihkan pembicaraan, seharusnya kamu menjaga jarak dari dia karena dia punya perasaan khusus pada mu! Seharusnya kamu tidak memberikan celah pada dia!"
"Iya maaf ini salah kakak, lain kali kakak akan menjaga jarak"
"Kamu harus menepati perkataan mu"
"Iya kakak janji" ucap Bryan
"Bagus, jika ingkar janji awas saja" ancam Diana
"Iya sayang ku cinta ku" ucap Bryan sambil memeluk Diana dan mengecupi pipinya
"Lalu penyebab kamu kesal saat kakak suruh ganti baju apa? Apa karena masalah ini juga?"
"Bukan!" sahut Diana ketus
"Kok ngegas lagi? bukankah barusan bicaranya udah pelan" ucap Bryan sambil terkekeh
Diana menatap tajam wajah suaminya
"Baiklah baiklah, lalu kenapa kamu marah?"
"Aku kesal saat aku pakai baju yang sedikit terbuka saja kamu melarang ku, kamu seperti risih jika aku pakai pakaian seperti itu, apa aku tidak cantik seperti TEMAN MASA KECIL MU ITU?" tekan Diana pada ucapan terakhirnya
"Sayang bukan begitu, kakak tidak risih sama sekali, malah kakak suka kamu pakai baju seperti itu tapi..."
"Tapi apa?" tanya Diana
"Kakak tidak rela jika tubuh indah mu di lirik pria lain karena tubuh indah mu itu hanya milik kakak seorang, pria lain tidak boleh meliriknya" ucap Bryan dengan jujur
"Karena itulah kakak meminta mu berganti pakaian" lanjut Bryan
"Jika aku tidak boleh lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Diana
"Memangnya kakak gimana?"
"Tadi kamu pakai kaos yang sangat ketat di tubuh mu dan memperlihatkannya pada tamu mu itu"
"Sayang sungguh demi Allah, kakak tidak sadar akan hal itu, lagi pula dari tadi pagi kan kakak memang pakai baju itu, kakak kan tidak tahu kalau dia akan datang"
"Lepaskan! Aku kesal pada mu"
"Lah kenapa marah lagi?" tanya Bryan
"Sayang..."
"Lepas aku membenci mu"
"Jangan marah dong" rayu Bryan
"Lepas aku tidak mau di sentuh kamu" ucap Diana
"Sayang kakak suami mu loh"
"Iya suami jahat" ucap Diana sambil memberontak meminta di lepas
"Bukan kakak yang jahat tapi kamunya yang cemburu buta" ucap Bryan sambil terkekeh
"Jadi ini salah ku gitu?!"
"Bukan begitu"
"Aku mau pulang saja!" ucap Diana
"Sayang.... Kamu kenapa sih?"
Bryan kewalahan menahan tubuh Diana
"Minggir aku mau pulang ke rumah"
"Di sini rumah mu sayang"
"Tidak, di sini bukan rumah ku!"
"Ayolah jangan begini"
"Lepas lepas"
"Jangan sampai kakak memberi mu hukuman sayang"
"Panggilnya sayang tapi kasih hukuman, kamu itu memang udah gak sayang sama aku lagi!!" teriak Diana
"Siapa bilang, kakak melakukan itu karena sayang pada mu"
"Minggir aku mau pulang"
Karena Diana masih saja memberontak Bryan mengangkat tubuh istrinya lalu mengukungnya di kasur
"Minggir"
"Sayang kalau kamu masih tetap minta pulang jangan salahkan kakak membuat mu tidak bisa berjalan beberapa hari kedepan" ancam Bryan
"Huaaa kakak benar-benar jahat..."
Bryan membungkam bibir istrinya dengan cium*n dan tangannya bergerak melepas pakaian yang di pakai istrinya.
Sedangkan Diana memberontak di bawah kukungan Bryan
"Hmmpppp le....pas... Hmmmpp"
Beberapa menit kemudian Bryan sudah membuka semua yang di pakai istrinya
Lalu dia mengapit kedua paha istrinya agar tidak bisa kabur dan dia menegakkan tubuhnya untuk membuka semua pakaiannya
"Kamu mau apa?! Lepaskan!"
"Tidak sebelum kakak menghukum mu"
"Hiks hiks lepas...!"
Bryan kembali menyerang istrinya, tangannya ikut bergerak menyusuri setiap inci tubuh istrinya
"Hmmmppptttt......"
Setelah di rasa sudah siap Bryan melepaskan ciumannya lalu mengarahkan bambunya dan
Jleb
"Arrrrhhhhgggg!!" Teriak Diana dia mendongakkan kepalanya keatas saat mendapat serangan dari Bryan.
Beruntung Bryan sudah mengunci pintu sebelum masuk ke dalam kamar jadi teriakan itu tidak akan ada yang mendengar.
"Hiks hiks sakit"
"Itu karena kamu berusaha menolaknya sayang"
"Hiks hiks keluarkan ini sangat sakit..."
"Rileks sayang, rileks"
Diana menggeleng "Tidak tidak lepaskan"
Bryan membungkam kembali bibir istrinya dan dia mulai menggerakkan tubuh bagian bawahnya.
"Hmmpppt"
Bryan menyentak perlahan namun kuat
"Hmmpp!" Des*h Diana tertahan karena Bryan membungkam bibirnya, tangannya mencengkram kuat kedua lengan Bryan
Tubuh Diana tersentak-sentak seiring dengan gerakan Bryan, Seiring berjalannya waktu gerakan Bryan semakin cepat
"Argghh..."
Tubuh Diana tak dapat berbohong, dia sangat menikmati kegiatan mereka namun di dalam lubuk hatinya masih terdapat sedikit rasa kesal.
Bukan karena masalah tadi tapi karena rasa kesal saat Bryan memaksanya di awal walaupun lambat laun dia juga menyukainya
.
.
.