
Sudah 3 bulan pasca pertengkaran Bryan dan Cika, dan saat ini Cika tengah hamil anak Bryan.
Usia kandungannya sudah 2 bulan, Bryan dan keluarganya sangat senang karena sebentar lagi mereka akan mendapat anggota baru di keluarganya.
Hari terus berganti dan saat ini usia kandungan Cika sudah masuk di bulan ke 9, dokter memprediksi Cika akan melahirkan 3 minggu lagi.
"Kamu yakin tidak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Bryan yang akan berangkat ke kantor
"Iya gak papa kan ada bibi" ucap Cika lembut
"Gimana kalau aku gak usah berangkat kerja saja, mama dan papa juga lagi gak ada di mansion" ucap Bryan
"Aku tidak apa-apa sendirian sayang, di rumah kan masih ada bibi" ucap Cika
"Hah..., coba aja kamu gak minta para pekerja cuti aku gak bakalan kepikiran begini" ucap Bryan
Cika hanya tersenyum pada Bryan, sebenarnya di sangat jengah melihat wajah Bryan
2 bulan lalu Cika meminta pada Bryan agar para pelayan cuti, dengan alasan dia tidak nyaman ada banyak orang di rumah.
Dia beralasan stres jika melihat banyak pelayan, jadi mau tidak mau Bryan meminta pada mamanya agar menuruti kemauan Cika.
Mama Anna menyetujui hal itu karena dia tidak mau terjadi sesuatu pada menantu dan cucunya.
"Aku berangkat dulu ya" ucap Bryan sambil mengecup kening Cika
"Iya hati-hati di jalan" ucap Cika sambil melambaikan tangannya
"Iya" ucap Bryan sambil melambaikan tangannya juga
Setelah mobil Bryan pergi cika memanggil Bibi Arum.
"Bik" panggil Cika
"Iya non" ucap bik Arum menghampiri Cika
"Bik aku pengen makan mangga"
"Mangga? Tapi sekarang belum musim mangga non"
"Gimana nih bik, aku pengen sekali makan mangga" ucap Cika
"Ya sudah biar bibik carikan di supermarket, nanti bibik carikan di pasar juga kalau tidak ada"
"Beneran nih bik?"
"Iya non"
"Terima kasih bik"
"Sama-sama non, ini sudah tugas bibik"
"Maaf ngerepotin bik"
"Tidak apa-apa non, bibik ambil dompet dulu ya"
"Iya bik"
Bi Arum pergi ke kamarnya untuk mengambil dompetnya, beberapa saat kemudian dia sudah kembali dan menghampiri Cika
"Non saya berangkat dulu"
"Tunggu bi"
"Iya non?"
"Bibik naik apa?" tanya Cika
"Pesan taxi"
"Kalau taxi lama bik, naik mobil saja minta anter sopir aku saja" ucap Cika
"Tapi non"
"Bawa aja bik, aku pengen mangganya segera"
"Kalau mobilnya saya bawa non gimana? Kalau misalnya non mau melahirkan bagaimana?"
"Dokter bilang masih 3 minggu lagi bik"
"Tidak perlu non saya pakai taxi saja"
"Tidak Pokoknya bibi bawa mobil titik, nanti lebih enak kalau misalnya di supermarket gak ada langsung ke pasar gak perlu nunggu taxi, terus kalau di pasar gak ada juga bibi ke desa bibi saja"
"Loh kenapa ke desa saya, non?"
Cika mulai geram pada Bik Arum, namun sebisa mungkin Cika tidak menunjukkannya pada bik Arum karena sejak saat itu Cika pura-pura menjadi istri yang baik dan ramah pada semua orang.
"Bik, dulu kan bibi pernah Bawa mangga dari desa bibik, inget tidak? Waktu bibik pulang kampung? Kata bibik di depan rumah bibi ada pohon mangganya"
"Oh iya non, bibik inget tapi kalau bibik ke sana non sama siapa?"
"Aku sendirian gak papa bik, lagi pula di depan masih ada satpam, aku bisa panggil mereka kalau perlu sesuatu, nanti bibik katakan aja aku sendirian di sini jadi mereka harus standby, tapi ingat katakan pada mereka jangan ke sini kalau tidak aku panggil"
"Baiklah non, kalau begitu saya berangkat dulu, non bawa terus ponsel non Cika biar gampang di hubungi"
"Iya iya bik, ya sudah sana berangkat". Cika mendorong bibi Arum pelan agar segera pergi
"Ingat bik harus dapat, jangan kembali kalau tidak dapat, aku gak mau bayi ku ileran"
"Iya non, saya pastikan untuk bawa mangganya"
"Pak Ujang tolong antarkan bik Arum" ucap Cika pada sopirnya yang sedang minum kopi di taman samping
Pak Ujang meletakkan kopinya dan langsung menghampiri Cika.
"Di antar ke mana non?" tanya pak Ujang
"Cari mangga"
"Oke non"
"Iya non, non hati-hati di rumah"
"Iya udah sana berangkat"
Bi Arum dan pak Ujang berangkat
"Oke sudah beres" ucap Cika setelah keduanya pergi
Drttt drttt
"Cika merogoh saku pakaiannya
"Halo"
"Bagaimana?" tanya seseorang di balik telp
"Beres, tapi tunggu sebentar lagi biar aku pastikan mereka tidak segera kembali" ucap Cika
"Oke"
30 menit kemudian
Drtt drtt
"Halo bik ada apa?"
"Non di supermarket mangganya tidak ada"
"Lalu di pasar?"
"Ini bibik baru keluar dari pasar non, mangganya juga tidak ada"
"Yah... Gimana bik"
"Ini bibik mau ke desa bibik, gimana?"
"Iya bik kesana saja, siapa tahu ada"
"Tapi perjalanannya satu jam an non, kalau bolak balok bisa 2 jam an kalau gk macet"
"Gak papa bik, bibik berangkat aja"
"Non yakin tidak apa-apa sendirian"
"Iya tidak apa-apa, biasanya kan juga begitu kalau aku pengen sesuatu" ucap Cika
"Ya sudah kalau begitu non, bibik langsung ke desa bibik"
"Oke terima kasih"
"Sama-sama non"
Tuttt tuttt panggilan berakhir
"Kalau bisa pergi aja sampai nanti sore" ucap Cika sambil tersenyum licik
Drrttt drrrttt
"Halo"
"Bagaimana" tanya orang itu
"Aman, mereka sudah aku kirim keluar kota"
"Bagus, cepat buka pintu belakang aku sudah ada di sana"
"Sudah di sana? Bagaimana caranya"
"Ada deh, cepat buka"
"Iya sebentar"
Cika buru-buru ke pintu belakang dan lupa menutup pintu depan
Ceklek
"Hai aku rindu" ucap Cika sambil memeluk tubuh seorang pria
"Aku juga sayang"
"Pria itu langsung menyerang bibir Cika.
Beberapa menit kemudian pria itu melepaskan cium*nnya
"Kita ke kamar sekarang" ucap Cika
"Ayo"
Sesampainya di kamar, pria itu menyerang Cika lagi, dan mereka melakukan hubungan suami istri.
Selama satu jam lebih mereka berdua belum selesai juga, sang pria masih bergerak di tubuh wanita dengan perut besar itu.
Bukan kali ini saja mereka melakukannya, ini sudah ketiga kalinya mereka melakukannya di mansion itu dan entah sudah berapa kali di luar sana.
Mereka berdua tidak takut dengan apapun, akan tetapi tibalah saatnya karma menghampiri mereka.
Bryan yang tadinya masih berada di kantornya tiba-tiba pulang ke mansion karena ada berkas penting yang tertinggal.
Awalnya Rendy yang akan mengambilnya di mansion tapi Bryan melarangnya karena sekalian ingin melihat istrinya.
Bryan yang pulang dari kantor dengan hati gembira tidak tahu apa yang sedang menunggunya di mansionnya
Sesampainya di mansion
.
.
.