
"Gak aku udah terlanjur kesal, mulai besok kakak tidur sendiri aku mau tidur sama Hana" ucap Diana kesal
.
.
.
"Sayang jangan ngambek dong, jarumnya udah siap nih"
"Lah kenapa bahas jarum lagi? Kakak ini kok pengen nyuntik aku terus sih? Aku kan udah bilang aku takut jarum suntik!"
Bryan menepuk keningnya melihat kepolosan istrinya
"Sayang maksudnya di suntik itu kita bikin bayi, bukan di suntik beneran" ucap Bryan
"Hah? Ja...jadi yang di bahas kakak itu?" tanya Diana
"Iya, masa kamu gak ngerti sih" jawab Bryan
"Lah aku emang gak ngerti, aku kira jarum suntik beneran" ucap Diana sewot
"Sayang sayang umur mu ini berapa tahun sih? sepertinya kamu harus sering kakak ajari deh" ucap Bryan sambil terkekeh
"Kata kakak aku kan bayi!" ucap Diana kesal
"Iya iya bayi yang bisa bikin bayi, kamu ini masih polos atau cuma pura-pura polos aja sih"
"Kakak jangan menuduh ku! aku itu beneran gak tahu kalau itu maksud kakak, aku kira jarum suntik beneran makanya kalau bicara itu yang jelas" ucap Diana
"Lagian punya kakak itu gak pantes di panggil jarum" sambungnya
"Lah kenapa gitu?" tanya Bryan
"Jarum itu kecil terus ujungnya tajem, sedangkan punya kakak itu tumpul besar panjang pula"
Bryan terkekeh
"Lalu pantesnya di panggil apa dong?" tanya Bryan
"Punya kakak pantesnya di panggil bambu"
"Bambu? Kenapa bambu bukan tongkat atau apa gitu" tanya Bryan
"Karena cuma itu yang ada di kepala ku saat ini kalau kakak gak suka terserah, sekarang kakak minggir badan kakak itu berat"
"Kakak gak nimpa kamu kok" ucap Bryan
"Memang tapi tetap saja rasanya berat, dari tadi aku takut ketimpa tubuh kakak"
Cup
Bryan tiba-tiba mengecup pipi istrinya
"Kakak suka panggilannya" ucap Bryan
"Panggilan apa?" tanya Diana
"Bambu, ya cukup unik" ucap Bryan sambil menatap wajah istrinya lekat
Diana mengalihkan pandangannya, pipinya terasa panas saat di pandang Bryan dengan tatapan sepeti itu.
Perlahan Bryan mulai mengecup istrinya
"Hmmmmm"
"Kak Bryan jangan..." ucap Diana saat Bryan menyelusuri leher jenjangnya
"hsssttt jangan... Kak... jangan di tempat itu... nanti di lihat orang" ucap Diana
Bryan menjauhkan wajahnya dari leher Diana
"Biarin, supaya pria di luar sana tahu kalau kamu sudah ada yang punya" ucap Bryan
Bryan kembali menyentuh tubuh istrinya, walaupun hanya saat itu dia menyentuh istrinya Bryan sudah hafal betul dimana letak sensitif istrinya.
"Ahhh... " teriak Diana saat Bryan mengu lum daun telinganya
"Kak... Jangan di sana... Geli... "
"Arhhhh...." Diana mencoba menutupi telinganya dengan telapak tangannya.
Bryan tidak kehabisan akal dia berpindah ke bagian lain, Istrinya itu punya banyak bagian sensitif atau bisa di katakan setiap inci tubuhnya jika di sentuh Bryan akan membuatnya bereaksi.
Bryan men ci*m bibir istrinya sedangkan tangannya perlahan mulai bergerak ke bawah
Tangannya bermain-main di paha istrinya.
Dan perlahan bergerak masuk menyentuh bagian yang masih tertutup kain.
"Hmmpppptttt...." suara Diana tertahan saat Bryan menyentuh bagian itu
Bryan bergerak di tempat itu, tangannya terasa basah awalnya di kira istrinya itu sudah basah sampai membasahi kain pelindungnya
Tapi dia sedikit curiga karena cair an itu agak banyak, Bryan mengeluarkan tangannya lalu melihat jarinya sambil melepaskan ci*m annya.
"Sayang kok merah?" tanya Bryan tertegun
"Hah?" Diana bangun dan menarik tangan Bryan untuk melihat apa yang menempel di jari suaminya
"Kak sepertinya aku datang bulan" ucap Diana
"Hah.... " Bryan menghela nafas
"Aku ke kamar mandi dulu kak"
Diana turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi yang ada di kamar itu
"Hah gagal deh... Maaf ya bambu sepertinya kamu tidak bisa di serut sekarang" ucap Bryan sambil menatap bambunya
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka
"Bagaimana sayang?" tanya Bryan
"Aku datang bulan kak, di sini ada pembalut tidak kak?" tanya Diana
"Tunggu kakak ambilkan dulu, sepertinya ada" ucap Bryan sambil beranjak turun dari ranjang
Bryan membuka laci yang ada di nakas, dan menemukan stok pembalut di laci itu lalu dia melangkah mendekati istrinya dan memberikannya pada Diana.
"Punya siapa ini kak?" tanya Diana
"Punya mu sayang"
Diana mengerutkan keningnya
"Sebenarnya kakak membeli apartemen ini beberapa hari sebelum kita menikah" ucap Bryan menjelaskan, dia tidak ingin istrinya berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya
"Untuk apa?" tanya Diana
"Seperti sekarang, niatnya kalau kakak pengen berduaan dengan mu maunya di sini jadi gak bakalan ada yang ganggu kita buat bayi"
"Di rumah kan bisa" ucap Diana
"Iya di mana pun bisa tapi kan kakak juga pengen cuma berduaan dengan mu saja jadi kakak beli apartemen ini, kalau kamu tidak percaya tanyakan saja pada Rendy, kakak meminta Rendy mencarikan apartemen ini dan memintanya untuk tetap merahasiakannya"
"Jadi keluarga kakak tidak ada yang tahu tempat ini?"
"Benar, hanya kita, Rendy dan Bik Arum yang tahu jadi kamu juga harus merahasiakannya sayang"
"Apa kakak dulu juga punya apartemen yang di tempati dengan mantan istri kakak dulu?" tanya Diana menyelidiki
"Ada, tapi kakak punya apartemen itu dari waktu SMA bukan khusus buat berduaan seperti sekarang"
"Lalu dimana apartemennya?" tanya Diana
"Sudah kakak jual"
"Kapan?"
"Setelah perceraian"
Diana memincingkan matanya pada Bryan
"Percayalah sayang, semua yang berhubungan dengan wanita itu sudah kakak buang"
"Sekarang hanya kamu kekasih hati dan istri kakak"
"Kapan kakak mengisi barang-barang di sini?" tanya Diana
"Beberapa minggu setelah kita menikah, kakak minta tolong ke Bik Arum untuk mengisi semua perabotan dan semua kebutuhan mu di sini karena itulah bik Arum juga tahu tempat ini"
"Semua pakaian dan barang-barang mu sudah ada di sini, periksalah ukurannya itu akan pas di tubuh mu, barang-barang kakak juga ada di sini."
"Oh" ucap Diana santai dan kembali masuk kedalam kamar mandi
"Oh? Hanya oh saja yang dia katakan setelah aku panjang lebar menjelaskan?" Bryan tercengang
"Sifatnya berubah-ubah sangat drastis" gumam Bryan
Beberapa menit kemudian Diana sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar sehabis mandi.
"Kak pakaian ku di mana?" tanya Diana
"Kamu mandi?" tanya Bryan
"Iya sekalian, baju ku?"
"Di sana" ucap Bryan sambil menunjuk sebuah ruangan khusus pakaian dan barang-barang lainnya
Diana melangkah ke ruangan itu, sesampainya di sana dia di buat takjub dengan isi dari ruangan itu
"Wah banyak sekali"
Diana mengambil sebuah dress selutut berwarna biru muda
"Sepertinya kak Bryan tidak berbohong, ukurannya pas dengan ku"
.
.
.