Mr. Bryan

Mr. Bryan
kontraksi



"Mereka mengatakan anda adalah suami yang baik, suami idaman dan masih banyak lagi" ucap Rendy


.


.


.


"Aku tidak butuh pujian seperti itu Ren, mereka juga pasti sedang menertawakan ku" jawab Bryan


"Tidak apa-apa tuan, bukankah kebahagian nona muda adalah yang utama" ucap Rendy


Bryan mendongakkan kepalanya "Kamu benar Ren, ya sudah biarkan saja"


"Untuk berjaga-jaga saya akan take down beritanya tuan, takutnya suatu saat akan menjadi masalah untuk perusahaan" ucap Rendy


Bryan menganggukkan kepalanya "Baiklah terserah kamu saja Ren" jawab Bryan


"Baik"


"Mas Bryan" panggil Diana di ambang pintu kamar


"Kamu sudah bangun, mau sesuatu?" tanya Bryan


"Aku lapar" ucap Diana yang masih mengantuk


Bryan melihat jam di pergelangan tangannya


"Ren, tolong pesankan makan siang" ucap Bryan pada asistennya


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi"


"Emm"


Rendy keluar dari sana lalu memesan makan siang untuk Bryan dan Diana.


Flashback End


"Oh jadi beritanya sudah di take down" ucap Diana


"Iya, kata Rendy takutnya terjadi masalah karena berita itu"


"Begitu, tapi mas semua karyawan mas kan sudah tahu bagaimana kalau mereka menyebarkannya lagi?" tanya Diana


"Tidak akan ada yang berani melakukan itu lagi"


"Kenapa?" tanya Diana


"Karena jika mereka berani menyebarkan lagi foto dan video mas saat pakai kostum badut, gaji mereka akan di potong 50%"


"50%? jahat sekali kamu mas" ucap Diana


"Bukan mas yang melakukan itu, tapi Rendy" elak Bryan


"Sama saja lah"


"Beda sayang, lagi pula jika mereka patuh gaji mereka akan naik 10%"


"Cuma 10%? sedangkan kalau kalau di potong 50%, curang sekali"


"Tidak ada yang curang, mereka juga untung mas kan menaikkan terus gaji mereka bukan hanya satu bulan saja"


"Oh... kalau begitu naikkan juga uang bulanan ku mas, aku akan patuh dan tidak menyebarkan foto mu mas" ucap Diana sambil tersenyum


"Coba saja kalau berani" ancam Bryan pada istrinya


"Dan juga kenapa uang bulanan mu masih kurang? bukankah mas sudah tambah, ya?" tanya Bryan


"Masih kuranglah mas bentar lagi aku lahiran" ucap Diana


"Memangnya kamu sudah cek uang yang mas kasih? bukankah selama ini kamu tidak pernah mengeceknya"


"Memangnya mas kasih berapa?" tanya Diana.


Dia tidak pernah tahu berapa uang yang di berikan Bryan karena memang selama ini dia tidak pernah mengeceknya.


"Kamu cek saja sendiri sayang, lagi pula itu uang mu dan untuk biaya lahiran itu tanggungan mas kamu tidak perlu memakai uang mu"


"Iya juga ya untuk apa aku ngeluarin uang ku, kan masih ada mas Bryan" ucap Diana sambil tersenyum ke arah suaminya


"Lebih baik uangnya aku tabung" lanjut Diana


Bryan menganggukkan kepalanya "Iya uang mu tabung saja atau kamu bisa membelanjakannya, memangnya kamu gak mau sesuatu?"


Diana menggelengkan kepalanya "Tidak ada mas, semua kebutuhan ku sudah mas siapkan. Aku pun bingung mau belanja apa lagi"


"Kamu bisa beli tas atau baju" ucap Bryan


"Tidak mas, sayang uangnya jika di belanjakan untuk hal seperti itu lagi pula aku tidak hobi mengkoleksi barang-barang Branded" ucap Diana


"Lalu mau kamu apakan uangnya?" tanya Bryan


"Tidak tahu" jawab Diana sambil mengedikkan kedua bahunya


"Oh iya, kalau misalnya aku beli album idol favorit ku boleh tidak?" tanya Diana dengan mata berbinar


"Terserah kamu saja sayang, itu kan uang mu" jawab Bryan sambil mengusap lembut pucuk kepala istrinya


"Loh gimana?"


"Gak tahu deh aku bingung aku... arghhh!"


Diana yang awalnya sibuk bercerita, mendadak perutnya sakit


"Sayang kamu kenapa?" tanya Bryan panik


"Mas sakit mas" ucap Diana meringis kesakitan sambil memegangi perutnya


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Bryan sambil mengangkat tubuh istrinya


"Bik bik Arum!" panggil Bryan lalu dia berlari keluar rumah dengan Diana di gendongannya


Bik Arum yang mendengar teriakan Bryan dan rintihan Diana segera menghampiri mereka, lalu mengikuti dari belakang.


Bryan melangkah ke arah mobilnya dengan Diana di gendongannya.


Bik Arum dengan sigap membuka pintu mobil lalu Bryan segera menurunkan tubuh Diana di kursi tengah.


"Sabarlah sayang kita akan segera ke rumah sakit" ucap Bryan menenangkan Diana yang menahan sakit


Diana hanya sanggup menganggukkan kepalanya.


Bryan segera menuju kursi kemudinya, sedangkan Bik Arum sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Diana.


Bryan langsung menginjak pedal gas mobilnya, dia menekan mengklakson mobilnya berkali-kali agar pak satpam segera membuka gerbang.


Setelah keluar dari halaman rumahnya Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan cepat menuju rumah sakit.


"Mas pelan-pelan bawa mobilnya" ucap Diana sambil meringis kesakitan


"Mas pelan-pelan bawa mobilnya aku malah tambah ketakutan jika kamu membawa mobil seperti itu!" ucap Diana sambil menahan dan kesal


"Maaf sayang" ucap Bryan lalu dia menurunkan laju mobilnya


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit milik keluarganya, beruntung jalanan tidak macet dan jarak dari rumahnya ke rumah sakit tidak terlalu jauh.


Sesampainya di depan rumah sakit Bryan kembali menekan mengklakson mobilnya berkali-kali, beberapa suster pun dengan sigap langsung keluar membawa brankar setelah mendengar suara klakson mobil.


Bryan segera turun dari mobil dan membuka pintu mobil di samping istrinya


"Hati-hati sayang" ucap Bryan sambil memapah tubuh istrinya


"Hissshh" ringis Diana saat dia turun dari mobil


Bryan langsung menggendong tubuh Diana lalu meletakkannya di atas brankar.


Para suster segera mendorong masuk brankar Diana, di sampingnya ada Bryan dan seorang dokter perempuan yang dari awal kehamilan menangani Diana.


"Dok air ketubannya baru saja pecah tepat setelah tiba di rumah sakit" ucap Bik Arum yang ikut berlari di samping brankar Diana


"Kalau begitu langsung bawa ke ruang bersalin saja" ucap Dokter Risa


Sesampainya di depan ruang bersalin Diana di bawa masuk ke dalam oleh suster


"Anda akan ikut ke dalam atau menunggu di sini tuan?" tanya Dokter Risa pada Bryan


"Aku akan ikut" ucap Bryan


"Baik, silahkan"


Mereka berdua segera masuk ke dalam ruang bersalin. Bryan langsung menghampiri istrinya dan duduk di kursi yang berada di samping brankar istrinya.


Dia juga sudah mengenakan pakaian khusus yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.


"Sayang" panggil Bryan sambil menggenggam erat telapak tangan istrinya


"Mas Bryan..."


"Kamu takut?" tanya Bryan


"Sedikit" jawab Diana


"Jangan khawatir atau pun takut sayang, mas selalu berada di samping mu." ucap Bryan menenangkan istrinya


"Iya mas"


"Sus sudah pembukaan ke berapa?" tanya Dokter Risa


"Sudah pembukaan 5 dok" jawab suster


Diana semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Bryan, Bryan yang merasakan itu langsung paham kalau istrinya itu takut.


"Sayang, kamu bisa melakukan semuanya dengan baik, kamu adalah Mommy yang hebat." ucap Bryan sambil mengecup punggung tangan istrinya


Diana menganggukkan kepalanya dia mencoba untuk tenang


.


.


.