Mr. Bryan

Mr. Bryan
Berbaikan



Diana tersenyum lalu berkata "Tidak kok pa"


"Lalu kenapa mata mu bengkak nak? Jangan tutupi apapun katakan saja, apa Bryan menyakiti mu?" selidik papa Heru, lalu papa Heru menatap putranya dengan tatapan tajam


"Tidak kok pa, tadi Diana bantu mama iris bawang bombay jadi mata Di perih"


"Iya pa tadi Diana ngiris bawang bombay air matanya sampai keluar banyak" ucap mama Anna


"Kenapa tidak di hentikan?"


"Pa, Di yang mau ngiris kok jadi papa tidak perlu khawatir" ucap Diana sambil tersenyum


"Baiklah tapi lain kali jangan di teruskan jika perih, berikan saja pada yang lain. Lagi pula papa bawa kamu untuk jadi menantu papa bukan pelayan di sini"


"Baik pa, maaf sudah membuat papa khawatir" ucap Diana sambil tersenyum


"Ya sudah mari kita sarapan"


***


Selesai sarapan mama dan papa pamit pada anak dan menantunya, mereka berdua akan pergi ke sebuah pesta pernikahan.


Kedua orang tua Bryan akan berangkat pagi ini, mereka di undang ke pernikan anak teman papa Heru dan kemungkinan akan menginap sampai lusa.


Diana menghentikan kedua mertuanya yang sudah hampir saja masuk ke mobil, dia pamit pada ke dua mertuanya.


"Mama papa, bolehkan Diana keluar sebentar?"


"Mau pergi kemana?" tanya mama Anna


"Di mau cek cafe sebentar ma"


"Kalau papa sama mama tidak masalah nak, tapi kamu pamit dulu ke suami mu" ucap papa Heru


"Iya pa, setelah ini Di pamit ke kak Bryan"


"Kamu boleh pergi jika Bryan mengizinkan nak"


"Terima kasih pa ma"


"Sama-sama sayang" jawab mama Anna


"Mama dan papa berangkat dulu ya nak"


"Iya, hati-hati di jalan" ucap Diana sambil menyalami kedua mertuanya


Mama Anna dan papa Heru mengangguk


Diana masuk ke dalam rumah setelah mobil mertuanya pergi meninggalkan halaman mansion


Diana berjalan menuju kamar Hana yang berada di sebelah kamarnya, tapi sedetik kemudian dia di kejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menariknya ke dalam kamar


"Arhhggg"


Brakk bersamaan dengan teriakan Diana pintu kamar juga di tutup dengan cepat, dan orang itu mengukungnya.


Alhasil Diana terhimpit oleh pintu dan tubuh kekar itu.


"Kakak mau apa?" tanya Diana ketus


Bryan menyentuh kelopak mata istrinya "Kamu menangis?"


"Tidak" jawab Diana ketus


"Jangan berbohong" ucap Bryan


"Lalu apa urusannya dengan mu?!" tanya Diana


"Minggir" Diana mencoba menyingkirkan tubuh Bryan yang menghimpitnya


"Katakan dulu apa kamu menangis?"


"Tidak!" ucap Diana sambil memalingkan wajahnya


"Tatap wajah ku sayang"


"Sayang? Ternyata aku masih kesayangan mu?" tanya Diana dengan nada mengejek


"Apa maksud mu?" tanya Bryan


"Seharusnya aku yang bertanya apa maksud mu kak!" ucap Diana lantang dengan air mata sudah menggenang di kelopak matanya


"Apa maksud kakak? Kenapa mendiamkan ku dan mengabaikan ku?!"


"Apa salah ku sampai-sampai kakak tidak mau bicara dengan ku beberapa hari ini?!"


Bryan terkejut melihat amarah istrinya karena beberapa hari ini di abaikan


"Maaf"


"Apa dengan maaf kakak bisa menyelesaikan semuanya?!"


"Maafkan kakak, kakak hanya berniat mengerjai mu saja maaf kakak tidak tahu kalau perbuatan kakak malah justru menyakiti mu"


"Apa segitu senangnya kakak melakukan itu? Kakak bahkan melakukannya selama berhari-hari!" teriak Diana dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya


"kau sangat kekanak-kanakan kak"


Diana mendorong tubuh Bryan dengan sekuat tenaga dan menjauh dari Bryan namun Bryan lebih gesit dia memeluk tubuh istrinya dari belakang


"Maaf sayang, kakak memang kekanak-kanakan" ucap Bryan menyesal


"Apa kakak kesal karena aku tidak menuruti keinginan kakak saat di rumah sakit?" tanya Diana pelan


Bryan menganggukkan kepalanya lalu berkata "Hmmm... Sedikit"


"Jangan ulangi lagi" ucap Diana


"Iya, maaf"


"Sayang...."


"Aku mau pergi" ucap Diana


"Kemana?" tanya Bryan


"Cafe"


"Nanti saja, kakak masih rindu pada mu"


"Tidak"


"Sayang...."


Diana tak mengubris suaminya, dia masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya


Bryan mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya di bawah ranjang, Setelah itu dia menyusul istrinya.


"Sayang"


Diana menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan dalaman dengan pakaian yang dia pegang


"Keluar kak, aku sedang ganti baju"


"Kenapa toh kakak sudah pernah lihat semuanya" ucap Bryan sambil tersenyum mesum, dia melangkah mendekati istrinya


Diana berjalan mundur mencoba melarikan diri dari Bryan yang terus melangkah ke arahnya


"Keluar kak"


"Tidak mau"


"Kakak jangan macam-macam aku sudah ada janji dengan Ross"


"Kenapa tidak pamit dulu?" Tanya Bryan masih melangkah maju


"Bukankah barusan aku sudah bilang"


"Seharusnya kamu bilang dulu pada kakak baru buat janji dengan teman mu"


"Terserah aku, kakak kan tidak peduli pada ku"


"Ayolah sayang kakak kan cuma bercanda"


"Tapi aku serius, aku tidak suka dengan candaan kakak"


'Brukk! tubuh Diana menabrak dinding di belakangnya, sekarang dia sudah tidak bisa Kemana-mana karena Bryan sudah mengukungnya


"Kakak kan sudah minta maaf" ucap Bryan


"Tapi aku masih kesal pada mu" jawab Diana dengan wajah kesal


"Kalau begitu kakak tidak akan membiarkan mu pergi dari kamar ini"


"Kakak tidak bisa mengurung ku"


"Kata siapa tidak bisa?" tanya Bryan


"Coba saja kalau berani, akan aku adukan pada papa kelakuan kakak" ancam Diana


"Adukan saja menantu kesayangan papa, suami mu ini tidak takut" ejek Bryan


"Minggir" Diana memberontak mencoba menyingkirkan tubuh Bryan yang mengukung dirinya


Bryan menarik pinggang istrinya, dia juga membuang kain yang di gunakan istrinya untuk menutupi tubuhnya.


"Kak Bryannnnn!" Teriak Diana melengking membuat telinga Bryan berdengung


Diana mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya


"Sayang percuma di tutupi masih kelihatan kok" ejek Bryan


"Dasar mesum!!!"


"Sama istri sendiri kok" ucap Bryan sambil terkekeh lalu dia membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kasur


"Argghh" tubuh Diana terpental di atas kasur saat Bryan menjatuhkannya di sana


"Kak aku bukan karung! Jangan main lempar!" ucap Diana kesal


"Ke ke ke sorry baby, cup" Bryan mengecup pipi istrinya


"Kak jangan..... Hmmmpp"


Bryan ******* bibir istrinya dengan sangat ganas dia sudah sangat rindu pada istrinya.


Dia sedikit menyesal mendiamkan istrinya beberapa hari ini, tangannya bergerak membuka pengait br* yang di kenakan istrinya.


Diana yang merasakan tangan itu lantas menahan tangan Bryan


Bryan melepas ciumannya lalau menatap wajah istrinya seolah-olah berkata "Kenapa?"


Diana menggeleng "Aku ada janji kak"


"Batalkan saja" ucap Bryan seenaknya


"Tidak mau" tolak Diana


"Kak ku mohon ini penting" rayu Diana


"Sepenting apa?" tanya Bryan


.


.


.