Mr. Bryan

Mr. Bryan
Mansion



"Bryan bawa ke kamar tamu" ucap mama Anna


"Baik ma"


Bryan membawa Diana ke kamar tamu yang berada di lantai 1.


.


.


.


Sesaat kemudian Bryan kembali ke ruang keluarga setelah menidurkan Diana di kamar tamu.


"Hah... " Bryan menghempaskan tubuhnya di sofa


"Bagaimana acaranya lancar?" tanya papa Heru


"Alhamdulillah lancar pa" jawab Bryan


"Syukurlah"


"Iya pa"


"Hei anak nakal kamu tidak mau menyapa nenek?"


"Tadi kan sudah nek"


"Aigoo dasar kau" nenek Bryan melempar bantal sofa ke arah Bryan


"He he aduh nenek ku yang cantik dan pemarah, apa kabar?" Bryan menghampiri neneknya kemudian duduk di samping sang nenek dan memeluknya


"Kamu sedang memuji nenek atau sedang mengejek nenek?"


"Keduanya, cup" sahut Bryan dan mengecup pipi neneknya


"Lihatlah anak mu ini Heru" ucap nenek


"Dia juga cucu ibu" ucap Heru tersenyum sambil menyeruput tehnya


"Dia sama persis seperti diri mu" ucap Nenek


"Tentu saja bu, dia kan putra ku"


"Lihat lihat Anna mereka berdua benar-benar mirip, Bryan kenapa sifat mu tidak mirip mama mu saja kenapa malah mirip papa mu" keluh nenek


Anna tersenyum mendengar keluhan ibu mertuanya


"Oh ya ma" ucap Bryan


"Hmm?" jawab Anna


"Ibu sudah pulang?" tanya Bryan


"Iya, tadi setelah kamu menelpon jeng Ida pulang"


"Lalu kenapa mama meminta ku pulang tadi"


"Kenapa? Kalau mama tidak meminta mu pulang kalian akan menginap di sana?" tebak Anna yang sudah sangat tahu pemikiran putranya


"Iya ma, niatnya aku akan mengajak Diana menginap di vila"


"Bugh" nenek memukul Bryan


"Nek kenapa aku di pukul?" tanya Bryan


"Karena itulah mama mu menyuruh mu pulang Bryan"


"Kenapa?"


"Masih tanya kenapa, kalau kamu tidak di suruh pulang kamu akan mengajak anak gadis orang menginap di vila"


"Apa salahnya nek? Toh kita sebentar lagi menikah, Bryan juga gak bakalan macem-macem"


"Ya tidak macam-macam tapi cuma satu macam"


"Ih nenek tahu aja"


"Bugh bugh" nenek kembali memukul Bryan


"ampun nek"


"Pokoknya mulai besok kalian tidak boleh bertemu"


"Kenapa nek?"


"Kamu ini, mulai besok kalian di pingit"


"Kok pakai acara begituan sih nek?"


"Kamu tidak ingat dulu saat kamu menikah dengan model itu"


"Memangnya kenapa?"


"Kalian berdua sudah nenek suruh jangan bertemu sampai acara pernikahan, tapi kalian tidak pernah mendengarkan ucapan nenek dan sekarang lihat bagaimana akibatnya"


"Maaf nek, oke kali ini Bryan nurut semua ucapan nenek"


"Bagus"


"Ma dimana Hana?" tanya Bryan


"Hana sudah tidur di kamar adik mu" jawab Anna


"Oh.. "


"Belum ma"


"Kamu mau makan?"


"Iya ma"


"Ya sudah mama panaskan dulu lauknya"


"Terima kasih mama sayang"


Anna tersenyum dan melangkah ke arah dapur untuk menyiapkan makan malam untuk anak dan calon menantunya


10 menit kemudian Anna kembali untuk memanggil Bryan


"Bryan makan malamnya sudah siap, sana makan dulu"


"Iya ma, Bryan bangunkan Diana dulu"


"Tidak perlu biar mama yang bangunkan" ucap Anna hendak melangkah ke kamar tamu


"Tunggu ma biar Bryan saja oke"


"Tapi..."


Bryan langsung melangkah cepat ke arah kamar tamu tanpa memperdulikan mamanya


"Dasar anak ini"


"Sudah biarkan saja ma, namanya orang lagi kasmaran biarkan saja dari pada dia terus bersikap dingin"


"Iya pa, tapi mereka belum menikah"


"Tidak apa-apa, Bryan tidak akan berani macam-macam"


"Yang di katakan ibu tadi benar, dia benar-benar mirip seperti diri mu" ucap Anna


"Tentu saja dia kan putra ku" ucap Heru sambil merangkul istrinya


Sedangkan ibu Heru sudah masuk ke kamar untuk istirahat.


Di dalam kamar tamu, Bryan melangkah pelan ke arah ranjang yang di tempati Diana dan duduk di sebelah Diana.


"Sayang bangun"


"Diana sayang, bangun"


"Hmmm"


"Waktunya makan malam, kamu dari tadi sore belum makan kan"


"Hmm nanti saja" Ucap Diana dengan suara seraknya


"Ayo bangun nanti kamu sakit kalau tidak makan"


Diana mulai membuka matanya dengan malas


"Sudah bangun?"


"Ada apa kak?"


"Waktunya makan malam" ucao Bryan lalu melirik jam dinding


"Makan malam sudah telat satu jam, ayo cuci muka lalu kita makan malam"


"Hemm tapi ini dimana?" tanya Diana masih tiduran


"Mansion utama" sahut Bryan


"Apa?!" Diana sedikit berteriak dan langsung bangun


"Kenapa kamu terkejut begitu sayang?"


"Kakak punya mansion?"


"Emm bisa di bilang milik kakak bisa di bilang milik kakek nenek atau papa mama"


"Apa?!"


"Sayang kenapa kamu terkejut begitu?"


"Hah...." Diana menghela nafas


"Sebenarnya seberapa kaya keluarga kak Bryan? Aku merasa tidak pantas berada di sini, waktu itu rumahnya saja sudah sangat besar dan ini mansion utama" ucap Diana dalam hati


"Sayang" panggil Bryan yang melihat Diana termenung


"Eh iya kak?"


"Kamu kenapa?"


Diana tersenyum lalu menjawab "tidak, aku tidak apa-apa kak"


"Kalau begitu ayo bangun dan cuci wajah mu di kamar mandi, mama sudah siapkan makan malam untuk kita"


"Iya kak, dimana kamar mandinya?" tanya Diana


"Disana" ucap Bryan sambil menunjuk pintu kamar mandi


.


.


.