
"Kamu yakin cuma bercanda?" tanya Bryan, karena dia tidak mau istrinya tidak terpenuhi keinginannya.
.
.
.
"Iya, sungguh aku cuma bercanda mas. Aku hanya teringat saat mas pakai kostum badut ke kantor" ucap Diana sambil terkekeh
"Baby kamu nakal sekali ya" ucap Bryan sambil mengelus perut besar istrinya
"Daddy sudah takut tadi, baby tolong jangan minta Daddy pakai kostum itu lagi ya sayang" ucap Bryan pada bayinya
Bayi di dalam perut Diana menendang seolah merespon ucapan Daddynya
"Oh di menendang" ucap Bryan yang merasakan gerakan bayinya
Bryan tersenyum senang sambil menatap istrinya
"Sayang dia barusan merespon" ucap Bryan senang
Diana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap wajah suaminya lalu dia mengusap perutnya.
"Sepertinya dia baby boy, mas" ucap Diana
"Dari tendangannya sepertinya benar" jawab Bryan
Bryan dan Diana sengaja tidak melihat jenis kel*min bayinya, mereka ingin menjadikan itu sebuah kejutan.
Karena apapun jenis kel*minnya mereka akan dengan senang hati menyambut kelahiran bayi mereka.
"Lanjutkan makan mu sayang" ucap Bryan
"Iya mas"
Diana melanjutkan makannya
"Mas boleh aku tanya satu hal?" tanya Diana setelah menghabiskan pastanya
"Tanya apa?"
"Bukankah waktu itu berita mas pakai kostum badut tersebar ya? kok pas aku lihat keesokan harinya tidak ada?" tanya Diana penasaran
"Ya ampun" Bryan menepuk keningnya, dia merasa sepertinya istrinya itu memang ingin melihatnya menggunakan kostum itu lagi
"Sayang kamu pengen banget lihat mas pakai kostum itu lagi ya?" tanya Bryan
"Tidak kok sungguh, aku cuma tanya saja karena penasaran" ucap Diana bersungguh-sungguh
Bryan bernafas lega
"Beritanya udah di take down" jawab Bryan
Flashback
Saat itu usia kandungan Diana sudah masuk bulan ke lima dan Diana tiba-tiba saja sangat ingin melihat Bryan memakai kostum badut.
Awalnya Bryan kira dia akan memakai kostum badut itu hanya di hadapan istrinya nanti jika saat mereka sedang di kamar.
Jadi dia meminta Rendy memesan kostum badut itu segera.
Tapi saat kostumnya sudah datang Diana malah memintanya menggunakannya saat itu juga.
"Mas ayo pakai sekarang" ucap Diana
"Tapi mas sudah mau berangkat sekarang sayang, mas ada meeting"
"Masa lebih penting meeting ketimbang baby kita" ucap Diana cemberut
"Bagaimana kalau setelah meeting mas pakai? mas akan langsung pulang setelah meeting" tawar Bryan
"Tidak mau" rengek Diana
"Bagaimana ini Ren?" tanya Bryan dengan isyarat mulut
Rendy hanya bisa menggelengkan kepalanya
"Sayang" panggil Bryan namun Diana hanya diam saja
"Oke oke mas akan pakai" ucap Bryan pada istrinya
"Ren tolong tunda sebentar meetingnya" ucap Bryan pada asistennya
"Baik" jawab Rendy lalu pergi agak jauh dari Bryan dan Diana untuk menghubungi sekretaris Bryan
"Ayo mas" ucap Diana lalu menarik tangan suaminya untuk masuk ke kamar
Beberapa saat kemudian Bryan sudah mengganti setelan jasnya ke kostum badut.
"Bagus juga" ucap Diana sambil tersenyum
"Sudah belum nih? kalau sudah mas akan ganti baju lagi"
"Mas, bagaimana kalau mas pakai itu saja ke kantor"
"Apa!" Bryan sangat terkejut mendengar ucapan istrinya
"Sayang jangan bercanda" ucap Bryan
"Aku tidak bercanda mas, tiba-tiba aku ingin melihat mas pakai kostum ini ke kantor" ucap Diana tersenyum tanpa merasa bersalah
"Ayolah sayang jangan minta yang aneh-aneh lagi" ucap Bryan memelas
"Anak mu yang mau bukan aku" ucap Diana
"Anak kita sayang, karena kamu ibunya tolong minta dia untuk tidak melakukan ini" ucap Bryan memelas
"Sayang Daddy tidak bisa ke kantor seperti itu" ucap Diana pada babynya
"Dia tidak mau mas" ucap Diana sambil menatap wajah suaminya yang memelas
"Sayang boleh Daddy ganti baju ya" ucap Bryan sambil mengusap lembut perut Diana
"Dia tidak mau mas" ucap Diana
"Sayang..."
"Jangan salahkan aku, dia ingin mas Bryan berangkat dengan baju itu"
"Tapi kan percuma sayang, kamu gak bakalan lihat juga"
"Kata siapa? aku akan ikut ke kantor kok"
"Hah?" Bryan sungguh sangat syok
"Aku ganti baju ku sebentar, mas Bryan tidak boleh kabur" ucap Diana lalu pergi mengganti pakaiannya
"Baiklah" ucap Bryan dengan lesu.
Dia bisa saja tidak menuruti keinginan istrinya tapi mama Anna pernah mengatakan kalau ibu hamil sedang ngidam dan jika tidak di turuti, bayinya akan ileran terus. Jadi mau tak mau Bryan harus tetap menuruti keinginan istrinya.
Tok tok
"Masuk"
"Tuan ki..." Rendy menghentikan ucapannya saat melihat penampilan Bryan.
Hampir saja Rendy yang jarang tersenyum itu tertawa terbahak-bahak saat melihat penampilan tuan mudanya
"Kalau kau sangat ingin tertawa simpan itu untuk nanti di kantor" ucap Bryan dengan wajah betenya
"Kenapa?" tanya Rendy
"Karena aku akan menjadi bahan olok olokan satu perusahaan setelah ini"
Rendy menatap tak mengerti ke arah Bryan
"Istri ku ingin aku berangkat ke kantor seperti ini"
"Apa?!" Rendy tak kalah terkejut
"Apa yang harus aku lakukan Ren? bagaimana bisa aku muncul di kantor dalam keadaan seperti ini" rengek Bryan pada asistennya itu
"Kalau begitu saya akan kosongkan tempat yang biasanya anda lewati" ucap Rendy memberi solusi
"Tidak boleh" jawab Diana yang sudah selesai berganti pakaian
"Lalu bagaimana jika lewat pintu rahasian?" tanya Rendy
"Itu juga tidak boleh, aku mau lihat mas pakai itu di tempat yang biasanya mas Bryan lewati"
"Tapi sayang"
"Masss..... " rengek Diana
"Hah... baiklah"
"Yey terima kasih mas" ucap Diana langsung memeluk suaminya.
"Hati-hati" ucap Bryan mengingatkan agar istrinya berhati-hati
"Iya, ayo mas kita berangkat sekarang" ucap Diana sambil menarik lengan Bryan
"Tunggu sebentar Nona" Rendy menghentikan istri tuannya
"Ada apa kak Rendy?" tanya Diana
"Begini, apa hanya pakaiannya saja? tidak sekalian wajah tuan di buat seperti badut? saya rasa akan bagus jika di dandani seperti badut"
"Rendy!"
"Oh iya kak Rendy benar" ucap Diana, lalu dia pergi mengambil face paint palette miliknya"
"Rendy apa yang kamu lakukan?!" Bryan memarahi asistennya
"Maaf tuan dari pada wajah anda terlihat lebih baik di tutupi saja dengan make up badut agar tidak ada yang mengenali, saya yakin karyawan anda tidak akan ada yang mengenali anda" bisik Rendy
"Ya benar, dengan begitu para karyawan tidak ada yang tahu kalau itu aku" bisik Bryan
"Benar tuan"
"Baiklah, ide mu bagus Ren"
"Terima kasih tuan"
"Apa yang kalian bisikkan?" tanya Diana
"Tidak ada sayang" jawab Bryan sambil tersenyum manis pada istrinya
"Kalian mencurigakan, apa kalian merencanakan sesuatu?" selidik Diana
"Tidak ada sayang, Rendy hanya mengatakan kalau meetingnya sudah di tunda nanti siang"
"Benarkah?" tanya Diana
.
.
.