Mr. Bryan

Mr. Bryan
Pesta Ulang Tahun Hana.



"Mommy juga cakit? kenapa Mommy dan Daddy halus cakit balengan kan Hana jadi bingung halus jagain ciapa?" ucap Hana sok dewasa membuat para orang tua itu tertawa


"Ha ha ha"


.


.


.


"Hana Hana kamu ini ada-ada saja" ucap papa Heru


"Ayo Hana mau pulang gak nih?" tanya papa Heru


"Cebental opa" ucap Hana sambil meletakkan telapak tangannya di dagu seolah sedang berpikir


"Hana ikut pulang deh, kacian kalau Mommy cendirian, di cini kan cudah ada oma"


"Bagus cucu opa memang pintar ayo kita pulang sekarang, kasian Mommy harus segera istirahat"


"Oke opa" ucap Hana lalu menghampiri Mommynya


"Ayo Hana pamit ke daddy dulu" ucap Diana sambil menuntun Hana ke daddynya


"Daddy Hana pulang dulu ya" ucap Hana sambil mencium tangan Bryan


"Iya sayang"


"Mas aku pulang dulu" ucap Diana dia juga mencium tangan Bryan


Deg


Darah Bryan berdesir saat Diana mencium tangannya untuk pamit pulang


"Ayo kita berangkat" ucap papa Heru


***


Beberapa hari kemudian, hari ini adalah hari ulang tahun Hana. Setelah pulang dari rumah sakit Diana sibuk dengan persiapan pesta ulang tahun Hana.


Mama Anna dan papa Heru meminta Diana tetap melanjutkan pesta ulang tahun Hana.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun"


Lagu Happy Birthday pun terdengar


"Tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga, sekarang jugaaaa sekarang jugaaaa"


Hruff Hana meniup lilinya


prok prok prok


Suara tepukan tangan terdengar, pesta ulang tahun Hana sungguh sangat meriah.


Hanya saja tidak ada Bryan di sisinya begitu pula dengan opanya karena saat ini tengah menemani Bryan di rumah sakit.


Tapi Hana tidak sedih karena semua keluarganya ada di sana termasuk keluarga Diana dan kedua teman Bryan.


"Hana sayang ayo potong kuenya" ucap mama Anna


Hana memotong kuenya di bantu Diana


"Ini untuk Mommy" ucap Hana sambil memberikan potongan kue pertamanya


Diana tersenyum "Terima kasih sayang"


"Cama-cama Mommy"


"Untuk Daddy mana sayang?"


Hana mendengar suara Bryan, dan bukan hanya Hana yang mendengarnya semua orang yang hadir di sana mendengarnya.


"Daddy" ucap Hana sambil menoleh ke sekelilingnya mencari Bryan


"Daddy di sini sayang" ucap Bryan


"Daddy!" teriak Hana senang


Bryan melakukan panggilan Video, wajahnya terpampang di layar besar proyektor


"Selamat ulang tahun Hana sayang, maaf Daddy tidak bisa menemani mu" ucap Bryan


"Tidak apa-apa Daddy, Daddy kan lagi cakit" ucap Hana


Bryan tersenyum mendengar ucapan Hana


"Selamat ulang tahun sayang, semoga panjang umur sehat selalu dan selalu bahagia. Daddy harap kamu tumbuh menjadi gadis yang baik dan cantik"


"Dan Daddy harap semoga tahun depan Daddy bisa menemani mu di pesta ulang tahun mu, sayang"


Hana menyimak dengan baik ucapan Daddynya, sedangkan Diana diam-diam dia mengusap air matanya saat melihat Bryan.


Sejak saat itu dia belum pernah melihat suaminya karena sibuk dengan pesta Hana dan juga dia sedikit takut untuk menemui Bryan.


"Hana, maaf Daddy belum menyiapkan hadiah untuk Hana, Hana mau hadiah apa? nanti jika Daddy sudah boleh pulang akan Daddy belikan"


"Hana mau dedek bayi" ucap Hana membuat para tamu tertawa


Bryan terkekeh mendengar ucapan Hana begitu pula dengan papa Heru yang sejak tadi ada di samping Bryan.


"Hana mau dedek bayi?" tanya Bryan


"Iya, Daddy sama Mommy kan sudah janji"


Sedangkan Diana menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik punggung Kiano adik iparnya.


"Oke Daddy" ucap Hana


"Sudah dulu ya sayang sekarang sudah waktunya Daddy istirahat" ucap papa Heru


"Iya opa"


"Selamat ulang tahun untuk Hana, opa sudah siapkan hadiah untuk Hana nanti Hana bisa tanyakan pada oma" ucap papa Heru


"Iya opa, terlima kacih" ucap Hana


"Sama-sama sayang, Assalamualaikum" ucap papa Heru


"Waalaikumussalam" sahut semua orang


Tutt tutt panggilan berakhir


"Kakak ipar mau sampai kapan kamu bersembunyi?" tanya Kiano sambil terkekeh


"Diamlah kak Kiano, biarkan aku sembunyi di sini" ucap Diana di balik punggung Kiano


"Ha ha ha" Kiano tertawa melihat kakak iparnya yang malu


Pesta pun berlanjut


Malam Harinya Hana, Diana, kedua adik dan adik ipar Bryan tengah berkumpul di ruang keluarga yang ada di mansion utama


Begitu pula dengan si kembar sedangkan keluarga Diana sudah pulang sejak tadi sore. Ya pesta ulang tahun Hana di rayakan di sana.


Saat ini Hana tengah duduk di atas karpet dengan kado-kado yang ada di sebelahnya. Hana mendapatkan banyak sekali hadiah.


"Hana boleh uncle bantu buka kadonya?" tanya Rico, pria itu masih belum pulang begitu pula dengan David


"Tidak boleh Uncle, Hana mau buka cendili" ucap Hana


"Tapi si kembar boleh bantu buka tuh" ucap Rico sambil menunjuk si kembar yang tengah memegang bungkusan kado milik Hana dengan posisi tengkurap


"Kalau dedek kembal boleh tapi kalau uncle tidak boleh" ucap Hana sambil membuka kadonya


"Kenapa begitu? biar Uncle bantu ya kadonya kan banyak banget " ucap Rico yang masih menjahili Hana


"Tidak boleh!" teriak Hana


"Hana sayang gak boleh teriak begitu sama yang lebih tua" tegur Diana


"Maaf Mommy, uncle Lico sih nyebelin" ucap Hana cemberut sambil memelototi Rico


Rico tertawa melihat Hana yang sangat imut


"Anak-anak mama mau ke rumah sakit dulu ya" ucap mama Anna


"Iya ma, iya tante" sahut mereka bersamaan


"Kompak sekali kalian" ucap mama Anna sambil terkekeh


"Ya sudah mama berangkat dulu, Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam" sahut mereka bersamaan


Sesampainya di rumah sakit


"Loh mama ke sini?" ucap papa Heru


"Iya pa, mama kasihan sama papa di sini sejak pagi"


"Harusnya mama temani menantu kita saja" ucap papa Heru


"Tenang aja pa di rumah banyak orang, mama juga sudah titip ke bik Arum" ucap mama Anna sambil melangkah ke arah sofa


Bi Arum ikut ke mansion untuk menjaga Diana atas permintaan mama Anna. Papa Heru menganggukkan kepalanya.


"Bryan gimana pa?" tanya mama Anna sambil melirik putranya yang sudah tidur


"Ya gitulah ma masih belum ingat"


"Mama denger kemarin adik-adiknya dan juga kedua temannya memarahi Bryan saat ke sini"


"Iya, habisnya putra mu itu masih tidak percaya kalau Queenza istrinya"


"Syukurin suruh siapa istri sendiri gak inget" ucap mama Anna


Papa Heru hanya bisa terkekeh mendengar ucapan istrinya.


"Sayang sekali mama kemarin gak di sini seharusnya mama lihat waktu Bryan di hakimi adik-adiknya, biasanya kan dia yang suka menghakimi adiknya" ejek mama Anna


"Lalu kalau Hana bagaimana? tadi mama agak kaget pas dia video call, papa gak bilang-bilang kalau mau video call"


"Sengaja buat kejutan"


.


.


.