
"Apa itu pujian?" Tanya Bryan.
.
.
.
"Entahlah kita lihat nanti apakah itu benar atau tidak" Ucap Diana sambil berjalan menuju meja makan yang berada di dekat dapur
"Oke tapi kalau enak kau harus memberi kakak hadiah, bagaimana?" Ucap Bryan
"Hadiah?"
"Ya"
"Hadiah Apa?" tanya Diana
"Emmm nanti saja aku belum memikirkannya" jawab Bryan
"Baiklah asal bukan yang aneh-aneh" ucap Diana setuju
"Oke deal"
"Deal"
Setelah itu Bryan mulai mengolah bahan mentah itu
"Kak" panggil Diana
"Ya?"
"Aku alergi seafood"
"Benarkah? Tapi saat di restoran tadi"
"Itu karena Hana yang minta, aku tidak tega menolaknya"
"Hah.. seharusnya kau katakan saja, jadi tadi pil yang kau minum itu?" tangan Bryan berhenti saat memotong wortel
"Obat alergi"
"Hah.. untung saja tidak terjadi masalah besar, Seberapa parah?"
"Biasanya di sekitar area mata langsung gatal, ruam dan juga sesak nafas.
"Lain kali siapapun yang meminta mu makan seafood tolak saja, entah itu Hana atau yang lain jangan membuat dirimu menderita dan dalam bahaya" ucap Bryan tegas
"Baiklah". Jawab Diana sambil tersenyum
Bryan lanjut memotong wortel
"Kak boleh aku tanya sesuatu?" Diana memberanikan diri untuk bertanya karena pertanyaan itu sudah sejak tadi ada di kepalanya
"Katakan"
"Dimana ibu Hana?"
Bryan menghentikan pekerjaannya lagi dan menatap Diana
"Maaf kalau kakak gak mau bicara tidak apa-apa, tapi aku takut kalau istri kakak marah karena kakak membawa ku, aku tidak mau di tuduh jadi pelakor"
"Tenang saja tidak akan ada yang menuduh mu" jawab Bryan sambil tersenyum
"Kenapa?"
"Karena aku duda, duda anak satu ibu Hana selingkuh dari ku, kami bercerai 3 tahun lalu tepat setelah Hana lahir" ucap Bryan jujur
Sejak insiden di mobil sore itu entah kenapa Bryan merasa akrab dengan Diana, sifat dingin yang biasa ia tunjukkan di hadapan orang-orang selain keluarganya menguap seketika, Bryan sangat nyaman berada di sekitar Diana.
"Ah maaf kan aku" ucap Diana
"Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak salah" ucap Bryan sambil tersenyum pada Diana
"Maaf karena aku membuka luka lama kakak"
"Tidak masalah" ucap Bryan sambil tersenyum setelah itu Bryan lanjut memasak
15 menit kemudian masakan Bryan sudah matang
"Makanlah" Bryan meletakkan perlahan sepiring nasi goreng di hadapan Diana
"Wah sepertinya enak, kakak cepat sekali masaknya"
"Cicipi dulu"
"Em terima kasih"
"Sama-sama"
Diana mulai menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya perlahan
"Wah enak" puji Diana
"Benarkah?"
"Emmm"
"Kalau begitu silahkan habiskan"
"Kakak tidak makan?" Tanya Diana karena tidak melihat piring milik Bryan
"Tidak melihat mu makan aku sudah kenyang" gombal Bryan
"Dasar gombal"
"Aku serius". Ucap Bryan
Tapi tiba-tiba suara perut Bryan tidak bisa berbohong
Krukk~
Diana yang mendengar suara perut Bryan mengulum bibirnya untuk tidak tertawa, membuat Bryan menjadi salah tingkah
"Kak, makan saja kita bagi dua". Ucap Diana sambil menyodorkan piring dan sendok nya
"Ah tidak usah" tolak Bryan
Krukkk~ suara perut Bryan terdengar lagi
"Ha ha ha" pecah sudah tawa Diana dia sudah tidak kuat menahan tawanya
"Kak, kata-kata gombal sudah tidak sesuai dengan umurmu, Jadi jangan lakukan itu lagi pula aku tidak suka dengan pria yang suka gombal aku lebih suka pria yang...." Diana tidak melanjutkan ucapannya karena keceplosan bicara
"Yang apa?" Tanya Bryan penasaran
"Emmm apa ya?" Diana mencoba mengalihkan pembicaraan
"Diana" tekan Bryan
Diana tersenyum lalu menjawab
Saat mengatakan kata yang terakhir Diana terlihat murung, Bryan yang melihat Diana murung berusaha menghiburnya entah kenapa melihat gadis itu murung Bryan sungguh tidak tega.
"Ternyata kriteria mu banyak juga ya.. dan bukankah itu aku banget?" Tanya Bryan
"Tidak, aku tidak menyebutkan suka yang gombal, sedangkan kakak suka gombal jadi aku tidak bilang itu kakak" sangkal Diana
"Kau tau?" tanya Bryan
"Apa? Kan kakak belum bilang"
"Ke ke kau gadis pertama yang aku gombali" ucap Bryan
" Beh... Bohong" ucap Diana sambil membuang muka
"Tidak aku tidak bohong" sangkal Bryan
"Really?" tanya Diana
"Yes baby, jadi bagaimana apa aku bisa jadi calon pria mu?" Ucap Bryan sambil mendekatkan wajahnya
"Aku tidak tau" Jawab Diana sambil membuang pandangannya
"Kenapa tidak tau, bukankah kau sudah sebutkan semuanya dan sepertinya aku cocok dengan semua itu" ucap Bryan
"A... Ka...kak aku akan ambil piring lagi untuk mu"
Diana akan beranjak dari tempatnya tapi secepat kilat Bryan menarik tangan Diana dan terjatuh duduk di pangkuan Bryan
"Ka...k" pekik Diana terkejut
"Aku belum selesai baby" rayu Bryan
"Apanya? Dan juga aku bukan bayi" ucap Diana
"Ha ha aku tahu kau mengerti maksud ku". Ucap Bryan sambil terkekeh
"Apa?" Tanya Diana pura-pura tidak mengerti
"Ayolah sayang jangan sok bodoh gitu"
Blush wajah Diana memerah mendengar Bryan memangilnya sayang
"Ka..k se.. baiknya kita makan dulu" Ucap Diana dia bergerak tidak nyaman di atas pangkuan Bryan
"Baiklah" ucap Bryan mengalah
"Aku akan ambil piring dan sendok nya" Diana hendak beranjak dari pangkuan Bryan
"Tidak perlu Kita makan sepiring berdua saja" cegah Bryan
"Ta..ta..pi"
"Bukankah kita sudah berbagi ranjang juga". Bisik Bryan
"Kak Bryan!!" Pekik Diana
"Ayo makan aaa..." Bryan tak menghiraukan pekikan Diana, Tangan Bryan sudah memegang sendok berisi makanan hendak menyuapi Diana tapi Diana masih belum membuka mulutnya
"Sayang kau tidak mau di suapi pakai tangan? Bagaimana kalau aku suapi dari mulut ke mulut?" Goda Bryan
Diana melotot mendengar ucapan frontal dari mulut Bryan.
"Jadi kau mau yang dari mu.." belum selesai Bryan bicara Diana sudah memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ke ke ke gadis baik". Puji bryan sambil mengusap kepala Diana
"Dasar pemaksa"
"Telan dulu nanti tersedak"
Uhuk uhuk Diana langsung tersedak
Bryan yang melihat Diana tersedak langsung panik dan menuang air kemudian memberikan nya pada Diana
"Ini minum dulu"
Diana meminum air itu dengan terburu-buru.
"Pelan-pelan" ucap Bryan
"Glek hah...."
"Sudah lebih baik?" Tanya Bryan
"Iya tapi masih sakit, kakak sih ngomong sembarangan"
"Iya iya maaf"
"Tau ah.."
"Jangan merajuk, aku jadi semakin ingin menerkam mu"
"Jangan macam-macam" ancam Diana
Cup Bryan mengecup pipi Diana
"Kakak!!"
"Ah.. gemas sekali" ucap Bryan sambil mencubit kedua pipi Diana
"Akh sakit Sudah minggir sana". Diana turun dari pangkuan Bryan kemudian duduk menjauh dan melanjutkan makannya
"Kau tidak jadi membaginya?" Tanya Bryan
"Ambil piring sendiri"
"Tidak usah" tolak Bryan
"Ya sudah tidak mau ku bagi"
"Tapi kan kakak yang bikin"
"Bodo amat"
"Diana.."
"Apa? Hah.." Diana menghela nafas dan pergi mengambil sendok
"Ini" Diana memberikan sendok dan menggeser piring berisi nasi goreng itu ke tengah-tengah mereka
"Terimakasih...." Ucap Bryan
.
.
.