
Bryan berjalan keluar dari rumah untuk menemui Diana yang sudah lebih dulu berada di gazebo.
Dia sangat bersyukur memiliki orang tua dan calon mertua yang pengertian, karena sejak tadi dia sudah tidak sabar ingin bicara berdua dengan calon istrinya itu.
"Di..." panggil Bryan
Diana yang sibuk dengan ponsel nya seketika mendongak menatap Bryan yang berdiri tepat di depannya.
"Du...duduklah kak" tiba-tiba Diana kembali gugup
Bryan tersenyum melihat kegugupan calon istrinya itu, bukannya duduk seperti yang di minta Diana Bryan justru berjongkok di depan Diana dan terus menatapnya.
"Eh kakak ngapain?" dia terkejut karena Bryan tiba-tiba berjongkok di depannya
"Kak bangunlah jangan seperti ini" pinta Diana
Dia meletakkan ponsel yang ia genggam dan menarik lengan Bryan agar bangun namun Bryan tetap kekeh di tempatnya.
"Kak Bryan mau apa? Kenapa begini?" tanya Diana lembut
Bryan meraih jemari Diana kemudian mengecup nya membuat Diana tersentak karena terkejut.
"Kak...." panggil Diana
"Terima kasih" ucap Bryan
"Untuk apa?" tanya Diana
"Untuk semuanya, terima kasih karena kamu sudah mau menerima diri ku yang banyak kekurangan ini" ucap Bryan sendu
"Kak, tidak perlu berterima kasih aku melakukannya dengan ikhlas" dia juga menggenggam telapak tangan Bryan
"Terima kasih" ucap Bryan lagi
"Ih kakak ini di bilangin jangan berterima kasih terus" ucap Diana tiba-tiba kesal
"Ke ke ke maaf habisnya kakak tidak tahu harus bagaimana, kamu sudah menerima kakak yang penuh kekurangan ini di tambah dengan Hana juga" Bryan terkekeh melihat Diana kesal
"Memangnya kakak kekurangan apa? kakak adalah pria yang hampir sempurna, kakak tahu kenapa aku bilang hampir sempurna?" ucap Diana
"Emm karena kesempurnaan hanya milik tuhan" jawab Bryan
Diana tersenyum mendengar jawaban Bryan
"Untung saja kita masih satu keyakinan ke ke" ucap Diana sambil terkekeh
"Benar" jawab Bryan
"Tapi tunggu dulu" Diana merubah ekspresi wajahnya
"Kenapa?" tanya Bryan
"Kenapa kalian kebetulan ada di sini?" tanya Diana sambil menatap Bryan
"Mungkin karena kita jodoh" jawab Bryan sambil tersenyum
"Aku tidak yakin" ucap Diana curiga
"Apanya?"
"Aku sungguh tidak yakin kalau ini hanya kebetulan"
"Kenapa begitu?" tanya Bryan
"Aku yakin kak Bryan tidak mungkin tidak mengetahui alamat rumah ku kan?"
"Siapa bilang?" tanya Bryan
"Ayolah Kak Bryan, kakak itu pasti sudah menyelidiki semua tentang ku" ucap Diana
"PD amat sih" ucap Bryan sambil menarik hidung Diana pelan
"Akh.... bukan PD tapi lebih ke Feeling, ngaku aja kak tadi ekspresi kakak tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali bahkan terkesan sudah sangat tahu"
Bryan tersenyum mengetahui kepekaan calon istrinya itu, mulai sekarang dia akan berhati-hati saat berhadapan dengan calon istrinya itu.
"Ayo ngaku" desak Diana
"Yang kamu katakan memang benar, aku sudah menyelidiki semua tentang mu bahkan orang tua mu dan di mana alamat rumahnya" akhirnya Bryan mengaku
"Tuh kan bener, berarti papa mama sengaja kesini kan?"
"Tidak, papa dan mama tidak tahu kalau kamu adalah putri teman lama papa" ucap Bryan
"Lalu?"
"Begini biar kakak jelaskan"
"Duduklah di sini dulu kak jangan berjongkok terus" pinta Diana sambil menepuk tempat duduk di sampingnya
Bryan bangun dan duduk di sebelah Diana
"Begini, kemarin papa menghubungi ku"
"Apa yang di katakan papa?" tanya Diana penasaran
"Papa bilang beberapa hari yang lalu papa bertemu teman lamanya"
"Teman lama? ayah ku?" tanya Diana
"Aku setuju untuk ikut, aku meminta papa untuk mengirim alamat rumah temannya itu yang tak lain adalah ayah mu karena aku akan bawa mobil sendiri"
"Dan papa mengirim alamatnya, setelah aku cek ternyata alamatnya sama dengan alamat rumah mu kebetulan saat itu aku baru mendapat alamat rumah mu dari asisten ku sesudah papa mengirim alamatnya"
Flashback
Drttt drtttt ponsel Bryan bergetar di atas meja kerjanya
"Assalamualaikum ada apa pa?" tanya Bryan
"Wa'alaikum salam, Bryan hari ini kamu sibuk tidak?" tanya Heru
"Kalau hari ini Bryan sibuk pa"
"Kalau besok?" tanya Heru
"Besok?"
"Iya"
"Tunggu sebentar pa, Bryan cek jadwal Bryan dulu"
"Iya"
Ponsel masih berada di telinga Bryan, dia mengecek jadwalnya yang ada di tablet nya
"Kalau besok kebetulan gak ada jadwal penting pa, memangnya ada apa?"
"Kemarin papa ketemu teman lama papa, jadi papa mau berkunjung ke rumahnya niatnya mau ajak adik mu Kiano tapi dia gak bisa"
"Memangnya kenapa harus bawa Kiano pa?" tanya Bryan
"Papa pengennya sih mau jodohin dia sama putri teman papa"
"Oh teman papa punya anak perempuan?"
"Iya tapi lebih tua Kiano, lebih muda beberapa bulan dari Bella"
"Oh, lalu kenapa ajak Bryan pa? Papa paksa saja Kiano"
"Dia bilang gak bisa lagi sibuk katanya, jadi kamu yang ikut ya karena papa sudah janji bawa anak papa"
"Tapi nanti kalau teman papa ngira aku yang mau di jodohin dengan putrinya bagaimana?"
"Gak bakalan kamu bawa aja Hana, nanti papa jelasin kalau bukan kamu yang akan di jodohkan"
"Oke pa, tapi papa harus jamin loh temen papa gak minta aku yang jadi menantunya"
"Iya iya, kamu itu PD banget temen papa itu gak bakalan mau punya mantu duda kemarin dia cerita anaknya mau di lamar duda tapi dia tolak"
"Memang apa salahnya duda? Apa lagi keren kayak aku" ucap Bryan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi
"Tidak ada salahnya sih, tapi kan itu terserah mereka"
"Iya iya pokoknya papa sudah janji loh, kalau sampai Bryan di jodohin dengan putrinya Diana ku mau di Kemanain"
"Oh iya papa hampir lupa gimana apa Queenza sudah menghubungi mu?"
"Belum pa, nanti Bryan telp" ucap Bryan berbohong karena masih mencari cara agar bisa membujuk orang tua Diana
"Baiklah mungkin dia masih butuh waktu untuk bicara dengan orang tuanya" ucap Heru
"Iya pa"
"Ya sudah papa tutup telpnya"
"Tunggu pa"
"Ada apa?"
"Tolong papa kirimkan alamat rumah teman papa"
"Kamu gak bareng kami berangkatnya?" tanya Heru
"Bryan bawa mobil sendiri pa, mungkin Bryan datang agak telat karena masih harus mengurus beberapa hal dulu sebentar"
"Baiklah, nanti papa kirimkan alamatnya"
"Iya pa terima kasih"
"Ya sudah papa tutup Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Bryan meletakkan kembali ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya, sesaat kemudian ponselnya kembali bergetar.
Bryan melirik ponselnya, ternyata papanya sudah mengirim alamat rumah temannya, Bryan mengeceknya sebentar kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi
30 menit kemudian
Tok Tok
.
.
.