
"Berapa usianya?" tanya Bryan
.
.
.
"Saat di periksa, Dokter bilang kira-kira usianya kurang lebih 2 bulan karena saat itu aku telat datang bulan sekitar 2 bulanan"
"Lalu di tambah 3 minggu yang lalu saat mas di rumah sakit berarti sekarang usianya sudah hampir 3 bulan" ucap Diana sambil mengusap perutnya yang masih rata
"3 bulan?" tanya Bryan sambil menatap wajah Diana lalu mengalihkan pandangannya ke arah perut rata istrinya
"Iya mas" jawab Diana sambil mengangguk
"Berarti selama 2 bulan kamu tidak tahu kalau kamu hamil?" tanya Bryan
Diana menggeleng "Aku tidak tahu, aku juga tidak sadar kalau belum datang bulan" ucap Diana
"Lalu kapan terakhir kali kita melakukannya?" tanya Bryan
Blush pipi Diana bersemu merah, di dia tak sanggup menatap wajah suaminya.
"Kita sering melakukannya, bahkan beberapa hari sebelum kecelakaan mas juga melakukannya" ucap Diana sambil menunduk karena malu
"Berarti bayinya mulai tumbuh saat kita melakukannya beberapa bulan yang lalu?" tanya Bryan
"Iya" jawab Diana sambil mengangguk
"Di mana?" tanya Bryan
"Kenapa mas tanya sedetail itu? apa mas tidak percaya pada ku?" tanya Diana yang mulai tersinggung, sambil menatap wajah suaminya dengan garang.
"Eh bukan itu maksud ku, aku hanya ingin tahu saja di mana bibit ku mulai tumbuh" ucap Bryan kelabakan, karena sepertinya dia salah bicara.
Diana malu karena sudah menuduh yang tidak-tidak pada Bryan
"Ayo katakan di mana? kalau saja aku ingat di mana membuatnya aku tidak akan tanya pada mu sedetail itu" ucap Bryan sambil menatap kedua bola mata indah milik Diana
"Di mall" jawab Diana
"Apa?! di mall?!" Bryan terkejut dengan mata membulat
Dia mencoba mengingat-ingat apa yang dia lakukan, apa dia segila itu sampai melakukannya di mall? itulah yang dia pikirkan saat ini.
"Apa aku segila itu sampai melakukannya di mall?" tanya Bryan pada Diana
"Apa maksud mu mas? apa mas pikir kita melakukannya di sembarang tempat?" tebak Diana
Bryan mengangguk
"Ya Allah mas, pikiran mu kejauhan" ucap Diana sambil memukul lengan suaminya
"Lalu?" tanya Bryan sambil mengusap lengannya yang di pukul Diana
"Mas mall itu milik mu sudah pasti kamu punya ruangan di sana, di sana juga ada kamar untuk mu beristirahat dan kita melakukannya di sana di kamar itu"
"Mas pikir aku tidak punya malu apa kalau melakukan hal seperti itu di depan umum" ucap Diana kesal
"He he he maaf aku kan tidak ingat" ucap Bryan cengengesan
"Walaupun tidak ingat, setidaknya mas kan punya akal jadi gunakan itu" ucap Diana masih kesal
"Iya iya maaf" ucap Bryan sambil mencoba merayu Diana agar tidak kesal
Diana membuang muka
"Sudah jangan ngambek, ibu hamil gak boleh ngambek apa lagi marah-marah itu tidak baik untuk kesehatan" rayu Bryan
"Siapa yang ngambek"
"Ke ke ke duh kenapa kamu imut sekali sih? apa karena ini aku menikahi mu?" tanya Bryan
"Tahu pikir sendiri" ucap Diana dan dia hendak pergi
"Tunggu mau kemana?" tanya Bryan sambil menahan lengan istrinya
Bryan berpindah tempat, dia duduk di sofa lalu menarik pelan pinggang istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Mau mandi, terus bersiap shalat subuh" ucap Diana
"Bareng ya" pinta Bryan
"Iya nanti shalat bareng" jawab Diana
"Iya nanti shalat bareng tapi mandi bareng juga ya" ucap Bryan
"Mas kamu ini sebenarnya hilang ingatan atau tidak sih?" tanya Diana yang meragukan Bryan
"Memang kenapa?" tanya Bryan
"Kalau hilang ingatan kok sifat mes*mnya masih ada?" tanya Diana heran
"Berarti mas itu memang mes*m dari dulu, apa mas seperti ini ke setiap wanita?" tanya Diana
"Tentu saja tidak"
"Bohong, mas kan lagi lupa ingatan" ucap Diana
"Memang ingatan ku hilang untuk 3-4 tahun lalu tapi tahun-tahun sebelumnya aku masih ingat dan aku tidak melakukan itu ke sembarang wanita, percayalah" ucap Bryan menyakinkan Diana
"Oke, aku akan percaya" ucap Diana
"Aku memang tidak mengingat diri mu, aku juga tidak mengingat tentang Hana, tapi.."
"Tapi?" tanya Diana
"Sama seperti pada Hana, aku juga berusaha untuk mengingat mu dan kalaupun aku tidak dapat mengingat kenangan itu aku akan membuat kenangan baru bersama kalian"
"Jadi tolong bersikaplah seperti biasa" lanjut Bryan
"Aku sudah bersikap seperti biasanya" ucap Diana
"Tidak, yang aku lihat kamu seperti tidak nyaman berada di dekat ku"
"Bukan begitu mas" ucap Diana lembut
"Lalu kenapa?" tanya Bryan
"Aku hanya takut mas tidak nyaman dengan ku, aku juga takut mas marah seperti saat di rumah sakit" ucap Diana sedih
"Maaf saat itu aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar, maaf jika aku menyakiti mu"
"Tidak perlu minta maaf mas"
"Terima kasih.., aku janji akan berusaha mengingat mu"
"Jangan terlalu di paksa mas, aku tidak apa-apa mas tidak ingat kenangan kita tapi setidaknya mas harus membuat kenangan baru bersama kita"
"Iya aku janji" ucap Bryan
"Terima kasih mas" Diana memeluk Bryan
"Sama-sama" ucap Bryan sambil memeluk balik istrinya
"Kalau begitu katakan kebiasaan apa yang selalu kita lakukan?" tanya Bryan sambil melepas pelukan mereka
"Kalau begitu kita mulai dari yang pertama" ucap Diana
"Apa itu?" tanya Bryan
"Jangan katakan aku saat kita bersama" ucap Diana
"Maksudnya?"
"Biasanya mas akan bicara begini 'Mas janji akan pulang cepat' bukan 'aku janji akan pulang cepat" ucap Diana memberi contoh
"Ohh begitu sekarang mas mengerti, seperti ini kan?" tanya Bryan sambil tersenyum
Diana tersenyum senang dan mengangguk "Iya seperti itu mas"
"Oke, sekarang yang kedua bagaimana mas memanggil mu?"
"Cara mas memanggil ku?" tanya Diana
"Emm" ucap Bryan sambil mengangguk
"Emm biasanya mas akan memanggil nama ku atau nama panggilan ku saat mas sedang kesal, atau karena tidak aku turuti keinginannya"
"Nama mu?"
"Iya, biasanya mas memanggil ku Diana... atau Di... Dengan nada yang menurut ku sangat menakutkan"
"Lalu jika sedang tidak kesal mas panggil apa?" tanya Bryan
"Jika sedang tidak kesal mas akan panggil aku sayang, atau istri ku." ucap Diana
"Lalu mas memanggil ku Mommynya Hana jika mas sedang butuh bantuan"
"Dan adek jika ada maunya"
"Ada maunya? maksudnya?" tanya Bryan
"Gak tahu, mas pikir sendiri saja" ucap Diana
"Dek.. Main yuk" bisik Bryan di telinganya
'Glek' Diana menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar bisikan Bryan.
.
.
.